in

Dalam Pengasingan di Ende, Bung Karno Dapat Inspirasi tentang Pancasila di Bawah Pohon Sukun Bercabang Lima

Presiden Jokowi beserta Ibu Iriana mengunjungi Taman Renungan Bung Karno, di Ende, NTT, Rabu (01/02/2022). (Foto: Setkab.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kelahiran Pancasila ternyata tak bisa lepas dari keberadaan rumah pengasingan dan Taman Renungan Bung Karno, di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Hal itu diungkapkan Noncent W Noi, penutur ketika menjelaskan kepada Presiden Jokowi, yang Rabu (1/6/2022) berkunjung ke Taman Renungan Bung Karno, selepas memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2022 di Lapangan Pancasila, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dengan mengutip kata-kata Bung Karno dalam otobiografinya, Noncent W Noi menuturkan ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Ende, di hadapan ribuan penduduk dia mengungkapkan menemukan lima butir Pancasila di kota itu.

“Di kota ini, aku temukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini, kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Noncent, mengutip kata-kata Bung Karno.

Lebih lanjut dia menuturkan, selama menjalani masa pengasingan, dari tanggal 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938, Bung Karno banyak menghabiskan waktunya untuk merenung, tepat di bawah pohon sukun bercabang lima, di taman tersebut.

Di tempat inilah, Bung Karno mendapatkan inspirasi tentang Pancasila, yang kemudian diusulkan menjadi dasar bagi negara Indonesia merdeka.

Bung Karno saat itu juga berpesan, bahwa apabila di suatu masa pohon sukun tersebut mati, hendaklah ditanam kembali dengan pohon sukun yang baru.

Dalam sejarahnya, pohon sukun yang pertama itu mati pada 1972. Pemerintah ketika itu sudah mencoba untuk menanam, tetapi tidak tumbuh.

Selanjutnya, pada masa kepemimpinannya sebagai Bupati Ende periode 1973-1983, Herman Joseph Gadi Djou meminta sahabat-sahabat Bung Karno yang masih hidup ketika itu, untuk menanam kembali pohon sukun tersebut.

Peristiwa penanaman kembali itu, terjadi pada 17 Agustus 1980 dan pohon sukun itu pun tumbuh hingga saat ini.

“Uniknya, Bapak Presiden, pohon sukun ini tumbuh dengan lima cabang. Bagi orang Ende, Bapak Presiden, ini membuktikan bahwa Ende memang benar-benar rahimnya Pancasila,” kata dia, seperti dirilis Setkab.go.id.

Turut hadir dalam peninjauan Taman Renungan Bung Karno antara lain Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat, serta Bupati Ende Djafar Achmad.

Rumah Pengasingan

Selain di Teman Perenungan, Presiden Jokowi bersama Ibu Negara, Iriana, juga mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno, di Kabupaten Ende.

Di tempat itu, sebagian jejak perjuangan Bung Karno, masih terlukis jelas di rumah tersebut.

Di sana, Presiden dan Ibu Iriana berkesempatan melihat berbagai macam barang-barang peninggalan Bung Karno bersama keluarga selama diasingkan, seperti lukisan tangan Bung Karno dan naskah drama sandiwara, yang menggambarkan nilai persahabatan, kerakyatan, dan cintanya terhadap alam.

Seorang Juru Pelihara tempat bersejarah tersebut, Syarifudin, mengatakan bahwa Rumah Pengasingan Bung Karno telah terkenal sampai ke luar negeri. Dia pun mengaku senang dan bersyukur atas kunjungan Kepala Negara ke Rumah Pengasingan Bung Karno tepat di hari lahir Pancasila yang dinilai sangat berharga.

“Saya rasa bangga pada tahun 2022 hari ini juga tepatnya 1 Juni lahirnya Pancasila Bapak Presiden Joko Widodo sudah berkenan hadir di acara lahirnya Pancasila, di bumi lahirnya Pancasila, dan sempat berkunjung ke rumah Presiden pertama kita yaitu Ir. Soekarno, saya rasa bangga, senang, dan terharu,” ucap Syarifudin penuh haru.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi menjelaskan bahwa saat diasingkan, Bung Karno pernah menyebut tempat ini sebagai “ujung dunia”, di mana pada waktu itu tidak pernah terbayangkan bangsa Indonesia dapat merdeka. Namun dengan jiwa cinta Tanah Air yang sangat besar, Bung Karno mampu mengubah situasi tersebut menjadi semangat dalam memerdekakan Tanah Air.

“Di situlah beliau (Bung Karno) bisa memanfaatkan dari situasi yang sangat menekan itu menjadi semangat pembebas lebih lanjut. Oleh karena itu, Ende ini menjadi salah satu titik utama dalam perjalanan Bung Karno, Pancasila, dan akhirnya kemerdekaan,” kata Yudian Wahyudi. (HS-08)

Dandim Kendal Perintahkan Jajarannya Monitoring HET Harga Minyak Goreng Curah

Pelat Nomor Dasar Putih, Diterapkan Pertengahan Juni