HALO SEMARANG – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) mengajak mahasiswa Universitas Semarang (USM), untuk menghargai perbedaan dan menjauhi intoleransi.
Ajakan tersebut disampaikan Kepala BNPT RI, Komjen Pol Prof Dr H Mohammed Rycko Amelza Dahniel MSi, ketika memberikan keynote speech pada Seminar Nasional Pencegahan Paham Radikalisme Bagi Mahasiswa Indonesia Menuju Generasi Emas 2045 di Kampus USM, Semarang baru-baru ini.
Rycko Amelza Dahniel mengingatkan bahwa intoleransi merupakan bibit dari radikalisme dan terorisme.
“Kita bangsa Indonesia mampu membentuk persatuan dan kesatuan dari berbagai perbedaan. Kita harus duduk bersama dan bersinergi. Orang Indonesia harus kuat jangan sampai terpecah belah dengan paham radikalisme dan terorisme yang tumbuh dari bibit-bibit intoleransi,” jelasnya, seperti dirilis bnpt.go.id.
Dirinya pun menambahkan, ciri-ciri dari intoleransi yaitu tidak mengenal dan menerima perbedaan, merasa paling benar dan kemudian menilai semua orang yang tidak seperti mereka itu salah.
Sikap intoleransi tersebut tentunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mungkin bisa diterapkan di Indonesia.
Mengingat faktor sejarah pun telah membuktikan dan mengajarkan kepada kita semua bahwa negara ini dibentuk dan diperjuangkan oleh berbagai orang dari latar belakang suku dan agama yang berbeda.
“Negeri ini dibangun dari perbedaan. Jika generasi mudanya tidak lagi memiliki rasa kebangsaan, toleransi, tidak mampu menghargai keberagaman dalam Bhineka Tunggal Ika, hal ini yang akan menjadi akhir dari perjalanan NKRI,” ungkapnya.
Sementara itu orang nomer satu di BNPT ini pun memuji USM, yang merupakan universitas pertama yang telah mendeklarasikan kampusnya sebagai Kampus Kebangsaan, dengan sejumlah inovasi seperti pembentukan Unit Pelaksana Nonstruktural (UPNS) Pencegahan dan Penanganan Anti Toleransi, Anti Perundungan dan Anti Korupsi.
Selain itu juga melakukan pembinaan karakter bela negara dan wawasan kebangsaan, membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKMPIB), Satgas Anti Intoleransi Mahasiswa dan juga berbagai kegiatan dalam rangka membangun kesadaran dan keterlibatan bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme.
“Semoga kampus USM menjaga konsistensi dan terus menjadi pelopor Kampus Kebangsaan yang menjaga KeIndonesiaan,” harapnya.
Menjawab harapan Kepala BNPT, Rektor Universitas Semarang Dr Supari ST MT meyakini intitusi pendidikan perguruan tinggi yang dia pimpin akan selalu berkontribusi dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa dengan terus mengkampanyekan program anti intoleransi, radikalisme dan terorisme yang selalu berusaha memecah belah bangsa.
“Di samping memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi, kami juga menghasilkan lulusan yang profesional dan berdaya saing dan satu lagi adalah ber-visi tentang keindonesiaan. Pendiri universitas ini telah mencetuskan bahwa USM adalah Kampus Kebangsaan,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap apa yang telah dilakukan USM, BNPT pun memberikan penghargaan kepada USM sebagai Kampus Kebangsaan yang Menjaga Keindonesiaan.
Sebelumnya, BNPT RI juga hadir di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam rangka mengajak generasi muda untuk menciptakan dan menguatkan public awareness terhadap bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme Rabu (8/11/2023).
Rycko Amelza Dahniel, dalam kesempatan itu mengingatkan mahasiswa Unnes, untuk aware atau sadar akan bahaya paham radikalisme, yang bertujuan menghancurkan dan memecah belah bangsa dan negara Indonesia.
“Apabila tidak miliki ketahanan, pengetahuan, aware/sadar akan bahaya radikalisme dan terorisme, ideologi kekerasan ini akan dapat memecah belah Indonesia yang dibangun dari perbedaan,” ujarnya saat memberikan kuliah
Agar memiliki kesadaran akan bahaya radikalisme dan terorisme, para mahasiswa diingatkan untuk banyak mempelajari sejarah kebangsaan, di mana Indonesia dibentuk dari berbagai perbedaan baik ras, suku dan agama yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di sisi yang berbeda, ideologi terorisme justru bertumpu pada paham kekerasan yang tidak mengenal adanya perbedaan dan selalu merasa diri/kelompoknya paling benar.
“Perkuat rasa kebangsaan dengan pengetahuan, rajin membaca pelajaran kebangsaan sejarah terbentuknya Indonesia. Kuncinya ilmu pengetahuan, tolak intoleransi, radikalisme dan terorisme dengan semangat dan belajar yang tekun,” ujarnya.
Jenderal Polisi Bintang Tiga ini pun menyampaikan mahasiswa yang masuk kategori usia remaja, merupakan salah satu dari tiga kelompok paling rentan terpapar paham radikalisme dan terorisme.
“Penelitan I-Khub Outlook BNPT 2023, menunjukkan kelompok rentan yaitu remaja, perempuan dan anak,” katanya.
Sementara itu, Rektor Unnes Prof Dr S Martono MSi mengatakan pihaknya termasuk di dalamnya seluruh mahasiswa Unnes, berkomitmen menolak intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
“Katakan Tidak! Untuk intoleransi, radikalisme dan terorisme. Mari kita semua bersatu dalam perbedaan. Tanamkan di hati, karena saudara (para mahasiswa) adalah bagian dari masa depan Indonesia,” kata dia. (HS-08)