HALO SEMARANG – Bupati Sragen, Sigit Pamungkas mendapat penghargaan Regional Champion Appreciation dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama), dalam acara Kagama Regional Leaders Forum (KRLF) 2025.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi Sigit Pamungkas, sebagai pemimpin daerah yang membawa spirit kerakyatan Universitas Gadjah Mada.
Selain Sigit, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah kepala daerah, termasuk Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X dan 5 kepala daerah lainnya.
Penghargaan diberikan oleh Ketua Umum PP Kagama, Basuki Hadimuljono, di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Dalam keynote speech saat membuka KRLF 2025, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyinggung tentang kepemimpinan yang membumi.
Dalam pidatonya, Sultan menegaskan bahwa kepemimpinan daerah harus berpijak pada nilai-nilai kerakyatan dan kemanusiaan.
Dia menekankan, nilai-nilai dasar itulah yang seharusnya menjadi landasan pengabdian para pemimpin daerah.
“Kepemimpinan itu bukan sekadar kemampuan teknokratis, tapi soal keberpihakan. Berpihak pada rakyat, pada nilai-nilai kemanusiaan, dan itu semua bermula dari apa yang kita serap di kampus perjuangan ini,” kata Sri Sultan.
Dalam sesi selanjutnya, peserta mengikuti diskusi panel bertema “Transformasi Daerah Berbasis Nilai: Kepemimpinan, Inovasi, dan Pemberdayaan Rakyat.”
Panel ini menghadirkan berbagai praktik inovatif yang diterapkan pemimpin daerah dalam menghadapi keterbatasan fiskal. Forum juga menegaskan pentingnya keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada masyarakat.
Selain diskusi panel, KRLF 2025 menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang menghasilkan Blueprint Kepemimpinan UGM.
Dokumen ini menjadi landasan bersama bagi alumni UGM dalam mengembangkan transformasi daerah yang berkelanjutan.
Perumusan blueprint dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai kerakyatan, inovasi kebijakan, dan kolaborasi lintas sektor.
Ketua Umum PP Kagama, Basuki Hadimuljono, menegaskan pentingnya menjaga idealisme dalam kepemimpinan daerah.
“Alumni UGM harus jadi penggerak perubahan yang tak kehilangan akar. Kita bukan sekadar administrator, tapi pembawa semangat kerakyatan dalam setiap kebijakan,” kata Basuki, yang juga mantan Menteri Pekerjaan Umum (PU) di era pemerintahan Presiden Joko Widodo itu.
Pada rangkaian utama acara, panitia mengumumkan penerima penghargaan Regional Champion Appreciation sebagai bentuk apresiasi kepada pemimpin daerah alumni UGM.
Pemanggilan pertama ditujukan untuk para wakil kepala daerah, yakni: Irawan Topani, Ahlul Badrito Resha, Luthfianisa Putri Karlina, Bertha, Astrid Widayani, Benny Indra Ardhianto, Nur Agis Aulia, dan Bagus Susetyo. Mereka dipanggil secara berurutan untuk menerima penghargaan atas kontribusi dan kinerja mereka di daerah masing-masing.
Pemanggilan kedua diberikan kepada para kepala daerah untuk menerima penghargaan yang sama.
Mereka adalah Sri Sultan HB X, Hasto Wardoyo, Sigit Pamungkas, Sadewo Tri Lastiono, Qudrotul Ikhwan, Ubaid Yakub, dan Muhammad Fawait.
KRLF 2025 ditutup dengan dialog antarwilayah dan refleksi bersama para alumnus UGM yang menjadi pemimpin daerah.
Penutupan ini menegaskan komitmen kolektif untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi guna menghadapi dinamika fiskal yang semakin kompleks.
Forum ini juga memperkokoh solidaritas alumni UGM dalam membangun daerah sebagai fondasi transformasi nasional menuju Indonesia Emas 2045.\
Untuk diketahui, acara ini mempertemukan lebih dari 30 kepala daerah, wakil kepala daerah, dan sekretaris daerah alumni UGM dari berbagai wilayah Indonesia.
Kehadiran Bupati Sragen, Sigit Pamungkas menjadi bagian dari penguatan jejaring kepemimpinan daerah yang berorientasi nilai.
Forum tahun ini mengusung tema “Sinergi Pusat–Daerah: Inovasi, Kolaborasi, dan Kepemimpinan di Era Pengetatan Fiskal,” sebagai respons atas tantangan fiskal nasional. Tema tersebut menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi dalam menjaga efektivitas pembangunan daerah.
Para pemimpin daerah alumni UGM dipanggil untuk menyatukan langkah menghadapi tekanan ekonomi dan kompleksitas tata kelola. (HS-08)


