SEMARANG makin ramai pada malam hari. Lampu LED (Light Emitting Diode) di tempat spa menyala ramah, karaoke bersuara merdu setengah parau, dan klub malam memutar lagu yang membuat jam dinding ikut lupa waktu.
Kota pelabuhan ini tumbuh cepat sebagai ruang hiburan. Namun, di sela dentuman musik dan aroma parfum mahal, lahir satu profesi urban yang jarang masuk brosur pariwisata: anjelo agar terdengar lebih beradab, pengantar wanita penghibur.
Anjelo bukan pekerjaan resmi. Tidak ada lowongan di papan pengumuman Disnaker. Tidak pula masuk klasifikasi BPS. Meski demikian, kehadirannya nyata. Mereka muncul bersama bertambahnya tempat hiburan malam.
Ketika spa, karaoke, dan club malam membutuhkan pekerja perempuan yang pulang larut, kota pun diam-diam memproduksi laki-laki bermobil yang bersedia menjemput, mengantar, menunggu, lalu mengantar pulang sang pekerja perempuan yang jalannya sempoyongan akibat efek minuman keras. Gratis jelas bukan niatnya. Romantis juga bukan. Yang ada kontrak tak tertulis, dibubuhi senyum, chat mesra, dan transfer rutin.
Awalnya sederhana. Seorang lelaki punya mobil dan waktu luang malam hari. Ia mengenal seorang perempuan muda yang bekerja di hiburan malam. Relasi dimulai dari jasa antar jemput. Dari rutinitas itu, tumbuh kedekatan yang hangat di permukaan.
Lama-kelamaan, peran melebar. Sang lelaki hadir layaknya pacar: mengantar kerja, menjemput pulang, mengingatkan makan, kadang menunggu di parkiran sambil scroll ponsel. Sang perempuan memberi imbalan uang, pulsa, atau sekadar rasa aman. Hubungan ini rapi, efisien, dan nyaris tanpa drama, kecuali ketika salah satu lupa bahwa ini kerja sama, bukan kisah cinta sinetron.
Ironinya, publik sering memandang kota hanya dari trotoar siang hari. Malam hari punya ekonomi sendiri. Apalagi saat ini jumlah usaha hiburan di kota besar meningkat seiring perputaran ekonomi malam. Di Semarang, kawasan tertentu hidup selepas magrib. Jam kerja pun ikut menyesuaikan. Pulang dini hari menjadi normal. Pada titik inilah anjelo mengambil peran. Mereka menjadi pengaman informal di kota yang belum sepenuhnya ramah bagi perempuan pulang larut.
Satirnya, profesi ini lahir dari celah kebijakan. Transportasi malam terbatas, keamanan jalan tak selalu menjanjikan, dan stigma pada pekerja hiburan masih tebal. Negara absen di jam-jam rawan, pasar lalu mengisi. Anjelo hadir sebagai solusi privat. Bukan malaikat, bukan pula penjahat. Mereka produk kebutuhan. Kota menciptakan permintaan; warga kreatif menyediakan jawaban.
Hubungan anjelo dan wanita penghibur sering disebut simbiosis mutualis oleh para pengamat kopi malam. Sang lelaki mendapat penghasilan tanpa seragam. Sang perempuan merasa lebih aman. Namun, kata “mutual” di sini penuh ironi. Relasi ini bergantung pada uang dan peran, bukan perasaan. Ada yang menyebutnya pacaran ekonomis. Ada pula yang menyebutnya kerja lembur versi romantik. Semua istilah terasa benar sekaligus keliru.
Humornya muncul ketika bahasa cinta dipakai untuk urusan operasional. “Sudah makan?” berarti cek kondisi klien. “Hati-hati di jalan” bermakna jaga barang. “Aku jemput jam dua” sama dengan jadwal shift. Emoji hati mengalir, tapi saldo juga. Jika suatu hari sang perempuan berhenti kerja atau pindah tempat, hubungan pun selesai dengan rapi. Tidak ada patah hati, hanya nomor rekening yang tak lagi aktif.
Masyarakat sering menuding moral sebagai akar masalah. Padahal, moral jarang bisa memesan taksi pukul tiga pagi. Kota membutuhkan sistem, bukan ceramah. Ketika transportasi umum berhenti terlalu cepat, pilihan warga menyempit. Ojek daring memang ada, namun tidak selalu aman bagi perempuan yang pulang dari hiburan malam dengan riasan tebal dan pakaian kerja. Kadang jalannya juga sempoyongan, atau muntah sembarangan akibat kebanyakan konsumsi alkohol.
Di titik ini, anjelo menawarkan paket lengkap: kendaraan, penjagaan, dan kehadiran laki-laki yang dianggap meredam risiko. Antar sampai dalam kamar kos, melepas sepatu, menemani, tanpa ada kecurigaan karena ikatan hubungan yang saling menguntungkan ini.
Tentu, ada sisi gelap yang tak bisa ditertawakan. Relasi kuasa bisa timpang. Tidak semua anjelo berhati baik. Tidak semua perempuan merasa aman. Namun, menutup mata sambil menertawakan istilahnya juga bukan jawaban. Fenomena ini layak dibaca sebagai cermin kota. Semarang bergerak cepat, tetapi infrastruktur sosialnya tertinggal setengah langkah.
Pada akhirnya, anjelo adalah fenomena. Ia tidak meminta diakui, hanya dipakai. Ia tidak menuntut panggung, hanya parkiran. Selama lampu LED menyala dan jam pulang tetap larut, profesi ini akan terus ada, entah disebut anjelo, sopir pribadi, atau pacar kontrak. Kota boleh berpura-pura tidak tahu. Namun, tiap malam, roda mobil berputar, pesan singkat terkirim, dan ekonomi kecil berjalan tanpa notulen rapat.
Namun hati-hati, di bawah penerangan lampu malam, ada hubungan transaksional yang kadang tak sehat meski terlihat mengenakkan. Dan ini bukan pesan moral, hanya sedikit candaan: Laki-laki berkeluarga, jangan pernah memimpikan profesi ini, bahaya. Bisa-bisa piring di rumah terbang ke arah yang tak tepat.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


