PAGI di Kota Semarang akhir-akhir ini terasa seperti adegan film petualangan ala Indiana Jones, tapi tanpa harta karun di ujungnya. Hanya ada sepatu bot yang melambat di genangan setinggi betis, sambil berjuang menghindari bekas ban motor yang tiba-tiba muncul dari bawah air keruh.
Di Kecamatan Genuk, ribuan warga bangun pagi dengan rutinitas baru: menyibak tirai, memeriksa apakah kasur masih mengapung, lalu bersiap “berenang” ke dapur.
Bukan karena tren olahraga pagi, tapi karena banjir ini sudah jadi tamu tak diundang yang datang sejak hujan deras mengguyur pada 21 Oktober lalu. Dan seperti tamu yang bandel, air ini enggan pulang meski tuan rumah sudah capek menyeka lantai.
Situasi di Genuk memang parah. Ribuan keluarga, atau sekitar 4.265 jiwa, terdampak langsung. Mereka kebanyakan tinggal di Kelurahan Muktiharjo, di mana jalan-jalan seperti Kampung Bugen berubah jadi kanal mini.
Saat hujan lebat, pedagang di Pasar Genuk harus angkat dagangan ke atas meja, sementara air naik hingga 60 sentimeter, membuat timbangan basah kuyup dan ikan segar malah ikut berenang bebas.
Lalu lintas di Jalan Kaligawe lumpuh total, macet membentang enam kilometer dari Terminal Terboyo hingga perbatasan Demak. Sopir truk terjebak berhari-hari, bergantung pada nasi kotak darurat dari Pemprov Jawa Tengah, sebuah kebaikan kecil di tengah kekacauan besar.
Empat sekolah libur, rumah sakit setempat tergenang, dan warga cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bergumam, “Kapan surutnya.”
Pindah sedikit ke timur, di Kecamatan Pedurungan, ceritanya tak kalah dramatis. Genangan air di Kelurahan Tlogosari Kulon membuat ada warga yang rumahnya tergenang sejak 23 Oktober 2025. Ribuan keluarga terdampak, dengan rumah-rumah di Jalan Nogososro berubah jadi akuarium dadakan.
Anak-anak tak bisa sekolah, orang tua telat kerja karena harus muter-muter menghindari banjir, dan yang paling sial, warung kopi favorit tutup karena mesin espresso malah jadi perahu kertas.
Hujan deras yang turun sejak Selasa (21/10/2025) malam jadi biang kerok utama, ditambah luapan sungai dan saluran drainase yang sudah minta pensiun.
Meski tak ada korban jiwa dalam banjir ini, ribuan warga di dua kecamatan terdampak dan menderita. Angka keseluruhan warga terdampak banjir Semarang menyentuh 38.180 orang dari 12.957 keluarga. Angka itu bukan sekadar statistik; itu wajah-wajah lelah yang pagi ini masih menyendok air dari halaman sambil berharap matahari bersahabat.
Andai saja saat ini musim kampanye Pilkada atau Pemilu, pasti ceritanya akan lain. Para calon yang memiliki ambisi politik masuk kekuasaan, baik legislatif maupun eksekutif, pasti sudah berbaris di depan rumah-rumah tergenang, memakai celana pendek sambil pegang ember dan sembako, berjanji bakal bangun bendungan setinggi Gunung Merapi.
“Kami akan pompa air ini sampai ke laut lepas!” kata mereka dengan mulut berbusa, sambil foto selfie dengan latar belakang warga yang setengah basah.
Dapur umum pasti sudah berdiri sejak hari pertama, lengkap dengan spanduk raksasa bertuliskan “Aksi Solidaritas untuk Semarang Basah Kuyup”. Dan janji manis itu? Ah, seperti gelembung sabun di air banjir, cantik sebentar, lalu pecah tanpa bekas.
Ironis sekali, ya. Saat pemilu usai, para pahlawan kampanye itu lenyap seperti asap knalpot di pagi berkabut. Yang tersisa cuma aksi para petugas BPBD Kota Semarang yang sibuk memompa air dengan pompa seadanya.
Bantuan makanan siap saji untuk 1.000 warga memang datang, plus bantuan bahan pokok dari Dinsos Jateng untuk korban dan sopir truk yang terjebak. Tapi pompa itu berdering seperti lagu lama yang tak kunjung selesai, sementara air tetap angkuh berdiri di pinggang.
Saat Ada Kamera
Hiperbola? Mungkin, tapi coba tanya warga Genuk: air banjir ini lebih rajin “blusukan” daripada politisi mana pun. Setiap tahun, tepat waktu seperti jam weker rusak, air datang lagi, membawa pesan yang sama: “Kalian lupa bersihkan got?”
Banjir ini bukan cuma soal hujan deras. Saluran air yang tersumbat sampah, pembangunan yang asal tempel, sistem drainase yang acak adul, dan pola cuaca yang semakin gila gara-gara perubahan iklim, semua itu seperti resep masakan yang salah ukur, hasilnya bubur encer yang bikin perut mules.
Di Pedurungan, warga sudah hafal: hujan deras berarti evakuasi dadakan, sementara di Genuk, pasar jadi lautan mini yang bikin harga ikan naik dua kali lipat.
Respons pemerintah memang ada, seperti monitoring dan kajian cepat dari BPBD, tapi rasanya seperti obat demam untuk pasien kanker. Membantu, tapi tak sembuh total.
Dan saat Instagram pemerintah daerah pamer “kami berjuang untuk genangan surut”, warga di lapangan cuma bisa like sambil bergumam, “Surutnya kapan, Bu?”
Banjir Semarang ini seperti cermin retak yang memantulkan kegagalan kita semua. Bukan cuma soal got mampet atau saluran ambrol, tapi soal prioritas yang salah urus.
Saat kampanye, banjir jadi alat kampanye; pasca-pemilu, banjir jadi urusan rutin yang ditangani dengan anggaran seadanya.
Hasilnya? Warga yang setiap musim hujan harus jadi pahlawan super dadakan, lengkap dengan kostum payung bocor.
Tapi banjir Semarang mengajarkan satu pelajaran sederhana: air tak pernah bohong, dia datang apa adanya, tanpa spanduk atau pidato panjang.
Semoga besok pagi, Semarang sudah kering, dan para politisi itu ingat jalan ke Genuk dan Tlogosari Kulon bukan cuma saat ada kamera.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)