in

TNGHS Lepaskan Ragil, Elang Jawa Sang Penguasa Baru Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Acara pelepasliaran Ragil, Elang Jawa Sang Penguasa Baru Taman Nasional Gunung Halimun Salak. (Foto : menlhk.go.id)

 

HALO SEMARANG – Elang jawa (Nisaetus bartelsi) bernama Ragil, dilepasliarkan oleh Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) bersama perwakilan IPB University dan Yayasan Kiara, baru-baru ini di Blok Citalahab, Resort Pengelolaan TN Wilayah Cikaniki, Seksi Pengelolaan TN Wilayah II Bogor.

Pelepasliaran Ragil ini dalam rangka memperingati HUT Ke-77 Kemerdekaan RI dan dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus.

Pelepasliaran ini juga menjadi kegiatan prioritas, dalam rangka meningkatkan jumlah populasi Elang Jawa di alam.

Plt Kepala Balai TNGHS, Pairah, menjelaskan Ragil merupakan hewan yang diserahkan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, pada 31 Agustus 2021.

Burung perkasa tersebut, dinyatakan siap dilepasliarkan, setelah melewati masa rehabilitasi kurang lebih selama 12 bulan di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Loji-Bogor, yang dikelola oleh Balai TNGHS.

“Sebelum Ragil dilepasliarkan, kami telah melakukan beberapa prosedur, di antaranya memastikan kesehatan satwa, memastikan bahwa perilaku satwa menunjukkan kesiapan untuk dilepasliarkan, dan lokasi pelepasliaran adalah kawasan yang sesuai untuk menjadi habitat baru Elang Jawa,” kata Pairah, seperti dirilis menlhk.go.id.

Sebelumnya telah dilaksanakan kajian habitat (habitat assesment) menggunakan tool Maxent tahun 2020 dan dikemudian dilakukan ground check kembali oleh tim PSSEJ, pada 14-16 Agustus 2022.

Secara umum, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang merupakan hutan hujan tropis pegunungan terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa diyakini sebagai habitat terbaik dari raptor ini

Elang Jawa merupakan salah satu dari tiga spesies kunci di TNGHS dan sebagai satwa endemik Pulau Jawa.

Elang Jawa merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Secara kesejarahan, Elang Jawa mirip dengan Garuda, Lambang Negara Indonesia dan telah ditetapkan sebagai Satwa Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 4 tahun 1993.

Dalam pelepasliaran Elang Jawa kali ini, Platform Transfer Terminal (PTTs) dengan jenis PinPoint Solar GPS-Argos dengan berat 21 gram, telah dipasang pada Elang Jawa yang dilepasliarkan.

Dalam melakukan pemasangan PinPoint Solar GPS-Argos ini, Balai TNGHS berkerja sama dengan Cici Nurfatimah, mahasiswi Indonesia yang sedang melakukan studi Program Doktor di Kyoto University.

Pemasangan PinPoint Solar GPS-Argos dapat membantu dalam pemantauan tingkat keberhasilan pasca pelepasliaran, lokasi dan luas wilayah jelajah, ketinggian terbang dan lain-lain terhadap Elang Jawa yang dilepasliarkan.

Hewan Endemik

Sementara itu seperti dirilis indonesia.go.id, elang jawa (Nisaetus bartelsi) merupakan salah satu spesies elang yang endemik di Indonesia, yaitu keberadaannya di Pulau Jawa.

Keberadaannya yang langka, membuat satwa ini dijadikan sebagai maskot satwa langka di Indonesia sejak tahun 1992.

Ciri khas elang jawa ini, adalah jambul di atas kepalanya, yang menonjol sekitar 12 sentimeter. Sebagai spesies elang berukuran sedang, elang jawa memiliki tubuh 56-70 cm. Dengan rentang sayap sekitar 110-130 cm.

Suaranya yang nyaring tinggi, mirip dengan spesies elang brontok. Begitu pula, ketika terbang, Elang Jawa mirip dengan elang berontok, namun warna elang jawa lebih kecoklatan.

Sebaran burung ini berada di ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) sampai ujung timur (Semenanjung Blambangan Purwo) Pulau Jawa.

Tapi burung ini hanya terbatas di wilayah hutan primer dan daerah peralihan antara dataran rendah dan pegunungan. Dengan kata lain, Elang Jawa berspesialisasi hidup di kawasan berlereng.

Sebagai burung pemangsa, elang jawa sering bertengger di pohon-pohon tinggi. Hal tersebut dilakukan agar dengan sigap bisa memantau dan menyerang mangsa. Bukan saja burung-burung kecil sejenis punai dan walik. Burung ini, juga memangsa mamalia kecil seperti tupai, musang, bahkan anak monyet.

Masa bertelur Elang Jawa sekitar 1-2 kali dalam setahun, yaitu pada Januari hingga Juni.

Hal tersebut menyebabkan keberadaan burung ini menjadi langka. Hutan primer juga semakin berkurang, sehingga tempat tinggal Elang Jawa juga ikut berkurang. Selain itu manusia juga sering memburu satwa ini untuk dijual karena nilai ekonomisnya cukup tinggi. Bagi sebagian orang, memiliki satwa langka merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

Sang Garuda

Pada mitologi kuno dalam sejarah bangsa Indonesia, Garuda merupakan kendaraan Dewa Wishnu. Bentuknya menyerupai burung elang rajawali. Sehingga tidak jarang menemukan lambang garuda di candi-candi.

Setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia merasa negara ini membutuhkan lambang negara.

Akhirnya pada 10 Januari 1950, pemerintah membentuk panitia untuk melakukan sayembara pemilihan lambang negara.

Panitia tersebut beranggotakan beberapa orang, diantaranya MA Pelaupessy, Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin, M Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka. Dari sayembara tersebut, akhirnya terpilih rancangan Sultan Hamid II dari Pontianak.

Rancangan lambang Garuda tersebut, mengalami perbaikan dan masukan dari Presiden Soekarno. Untuk membedakan dengan Bald Eagle, Lambang Amerika Serikat, Presiden Soekarno menambahkan jambul di kepala Garuda. Sehingga Lambang Indonesia pertama kali diperkenalkan pada 19 Februari 1950.

Jambul di atas kepala itulah yang identik dengan Elang Jawa. Meskipun Garuda dan Elang Jawa itu kedua hal yang berbeda. Namun kemiripan itu muncul, karena dirancang seperti Elang Jawa.

Dalam pemaknaan Elang Jawa, hampir sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia. Elang Jawa dianggap sebagai penguasa Langit di Jawa sejalan dengan cita-cita agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan kuat. (HS-08)

Bareng Sultan HB X, Ganjar Semangati Pemuda dari Seluruh Pelosok Tanah Air di Adujak Nasional

Pj Wali Kota Salatiga Sebut Masyarakatnya Punya Nilai Keislaman Tinggi