in

Kemenag Kenalkan Pembelajaran Metaverse ke Guru Madrasah

International Symposium On Education. (Sumber : Tangkapan layar Youube GTK Madrasah Berbagi)

 

HALO SEMARANG – Menag Yaqut Cholil Qoumas meminta agar guru dan tenaga kependidikan (GTK) madrasah, dapat menguasai teknologi informasi, termasuk metaverse yang merupakan kombinasi dari beberapa elemen teknologi, termasuk virtual reality, augmented reality (AR), dan video.

Permintaan ini disampaikan Menag, ketika memberikan sambutan secara virtual dari Arab Saudi, dalam International Symposium On Education (ISOE), yang digelar Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama. Even kali kedua yang berlangsung 18 – 20 Mei ini, sekaligus dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2022.

Menurut Gus Yaqut, pemanfaatan metaverse dalam dunia pendidikan akan menjadi  kemajuan sangat luar biasa dalam ruang tak terbatas. Untuk mengawali pembelajaran metaverse, GTK madrasah harus terlebih dulu mengenal dan bisa menggunakannya.

“Guru dipaksa dan terpaksa harus melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan dunia teknologi,” ujar Menag, Rabu (18/5/2022).

Jika GTK Madrasah mengerti dan memiliki pengalaman dalam memanfaatkan teknologi,  lanjut Menag, maka pembelajaran secara daring akan lebih efektif.

“Dunia pendidikan sebelumnya lambat dalam mengadopsi teknologi. Akibatnya terjadilah learning loss yang menyebabkan peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan, baik umum atau khusus,” kata Yaqut, seperti dirilis kemenag.go.id.

ISOE 2022 dihadiri beberapa presentator dan pemakalah internasional seperti; Mark Oliver Heyward (Direktur Inovasi), Chintya Wong (Victory Plus IB World School), Lesley Harbon (University of Technology Sidney), Philippe Grange (Attache Cooperation Ambassade de France). Terdapat 20 pemakalah yang lolos dari 65 pendaftar.

Seperti diketahui Metaverse merupakan kombinasi dari beberapa elemen teknologi, termasuk 3D, virtual reality, augmented reality (AR), dan video.

Dengan teknologi metaverse, penggunanya dapat seolah-olah berada dalam satu ruang dan waktu yang sama, dengan materi yang ditampilkan. Metaverse ini bisa berupa konser, konferensi, perjalanan virtual keliling dunia, atau pembelajaran.

Dirjen Pendidikan Islam M Ali Ramdhani mengatakan pemanfaatan metaverse ini harus disegerakan, untuk mengejar ketertinggalan peserta didik, dalam adaptasinya di era teknologi.

Ini dilakukan agar para peserta didik menjadi adaptif juga responsif terhadap perkembangan teknologi. Setelah hadirnya teknologi saat ini, sudah saatnya perkembangan metaverse yang ditunggu dapat membangun pendidikan dalam ranah internasional tanpa batas ruang dan waktu.

Menurut pria yang akrab disapa Dhani ini, budaya digital merupakan tuntutan zaman dan guru harus terus meng-update keilmuannya. Guru dan tenaga kependidikan, serta siswa madrasah adalah insan pembelajar sepanjang hayat.

“Keilmuan guru harus dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. ISOE 2022 memberikan ruang seluas-luasnya kepada guru untuk membangun jejaring internasional,” pesannya.

Direktur GTK Madrasah, Muhammad Zain menjelaskan bahwa ISOE adalah event internasional yang memberi ruang bagi GTK Madrasah, untuk mendesiminasikan karya-karya akademiknya di ruang publik. Dampak positif ISOE, para guru bisa menularkan pengalaman tersebut kepada para siswa tentang pentingnya global dexterity, ketangkasan global.

“Kita saat ini terhubung dengan dunia,” jelasnya sembari berharap ISOE ini menjadi pemicu bangkitnya teknologi termutakhir dalam dunia pendidikan madrasah. (HS-08)

Gara-Gara Lapak Ganjar, Adi dan Ooq Bisa Nonton Dream Theater Gratis

Ini Motif Pelaku Pembunuhan Ibu Kandung di Cepiring