in

Ikuti Wisuda FH UI, Wakil Alumnus Ini Sebut Gelar Sarjana Hukum Bisa Dipakai Membela Kebenaran, tetapi Bisa Juga Dipakai Merampoknya

Muhammad Fawwaz Farhan Farabi, berangkat dari madrasah dan kini jadi alumnus FH UI. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Muhammad Fawwaz Farhan Farabi, alumnus madrasah ini tampil sebagai keynote speaker, sekaligus menyampaikan sambutan mewakili wisudawan pada Farewell Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Fakultas Hukum Universitas Indonesia Semester Genap 2025/2026.

Fawwaz yang tercatat sebagai salah satu pemohon dalam Perkara pengujian UU TNI di Mahkamah Konstitusi ini, juga Fawwaz mengajak para lulusan untuk menjaga idealisme, integritas, dan keberpihakan pada keadilan saat memasuki dunia profesi.

Acara ini berlangsung di Balai Sidang dan Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Hadir pimpinan fakultas, dosen, guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, para wisudawan dan wisudawati, orang tua, serta tamu undangan.

Mantan Ketua Umum BEM Fakultas Hukum UI itu, mengingatkan bahwa pendidikan hukum tidak hanya membekali seseorang dengan pengetahuan tentang peraturan dan lembaga negara, tetapi juga membentuk kompas moral dalam menggunakan ilmu yang dimiliki.

“Empat tahun lalu kita datang ke FHUI sebagai anak SMA. Hari ini kita meninggalkannya sebagai sarjana. Kita membawa gelar, membawa almamater, membawa nama keluarga. Tetapi semoga kita juga membawa sesuatu yang lebih penting dari itu semua, yaitu keberanian untuk tetap menjadi manusia,” ujar Fawwaz di Depok, belum lama ini.

Ia mengenang salah satu pesan yang diterimanya pada masa awal kuliah, bahwa sarjana hukum selalu dihadapkan pada pilihan, untuk menggunakan ilmunya demi menegakkan keadilan atau sebaliknya.

“Gelar sarjana hukum bisa dipakai untuk membela kebenaran, tetapi bisa juga dipakai untuk merampoknya. Dan pilihan itu sepenuhnya ada di tangan kita,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menurut Fawwaz, Indonesia membutuhkan generasi sarjana hukum yang mampu menjaga idealisme di tengah kompleksitas persoalan kebangsaan dan dinamika kehidupan profesional.

“Negara membutuhkan sarjana hukum yang berani berpikir kritis. Kritik adalah bagian penting dari upaya memperkuat demokrasi dan memperbaiki tata kelola bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

“Apa pun profesi kita nanti, berpihaklah pada keadilan. Karena hukum yang tidak berpihak pada yang lemah bukan lagi hukum, melainkan sekadar kekuasaan. Di mana pun kita mengabdi, jangan pernah kehilangan kompas moral,” pesannya.

Menutup pidato, Fawwaz mengajak para lulusan untuk terus menjaga idealisme yang tumbuh selama masa perkuliahan.

“Selamat jalan, sarjana hukum. Selamat datang di dunia yang membutuhkan kita. Semoga kita tetap menjaga integritas dan tidak mengkhianati nilai-nilai yang telah kita pelajari,” tandasnya.

Jejak Prestasi

Sosok Fawwaz bukanlah nama baru dalam dunia pendidikan. Ia adalah adik dari dr Farah Layli Azka, dan putera dari Prof Dr H Suwendi MAg, guru besar Pemikiran Pendidikan Islam, pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta dan Prof Dr Hj Mesraini, SAg SH MAg, guru besar Fiqh Munakahat pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Prestasinya telah terlihat sejak usia sekolah. Ia tercatat sebagai lulusan terbaik Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Jakarta dan melanjutkan capaian yang sama sebagai lulusan terbaik Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pembangunan UIN Jakarta.

Perjalanan akademiknya berlanjut di MAN Insan Cendekia Serpong. Di sekolah unggulan binaan Kementerian Agama tersebut, Fawwaz kembali menjadi salah satu lulusan terbaik.

Saat duduk di bangku MAN IC Serpong, dia diterima di lima perguruan tinggi bergengsi di Asia, Australia, dan Eropa, termasuk Universitas Indonesia, Monash University, Adelaide University, RMIT University Australia, dan Wageningen University & Research Belanda.

Namun, di tengah berbagai pilihan yang tersedia, Fawwaz memutuskan untuk melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, melalui jalur SNMPTN.

Keputusan itu, menurut Fawwaz, didasari pertimbangan moral dan tanggung jawab terhadap almamaternya. Ia mengenang pesan ayahnya ketika harus menentukan pilihan perguruan tinggi.

“Nak, carilah ilmu yang tidak berdampak mudarat kepada orang lain. Jika engkau tidak ambil UI-nya, maka adik-adik kelasmu nanti terkena mudarat karena keputusanmu,” pesan sang ayah yang masih diingatnya hingga kini.

Nasihat tersebut berangkat dari kekhawatiran bahwa apabila kursi jalur SNMPTN yang telah diperoleh tidak diambil, hal itu dapat berdampak pada kesempatan siswa-siswa MAN IC Serpong pada tahun-tahun berikutnya.

Sejak saat itu, Fawwaz belajar bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan kemanfaatan bagi orang lain.

Aktivis Konstitusi

Konsistensi prestasinya terus berlanjut selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Pada Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Fawwaz dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan Berprestasi Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan lulus dengan predikat Cum Laude.

Selain aktif dalam bidang akademik, Fawwaz juga dikenal aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum BEM Fakultas Hukum UI serta terlibat dalam berbagai kajian mengenai konstitusi, demokrasi, dan hak-hak warga negara.

Di bidang litigasi konstitusi, Fawwaz tercatat sebagai salah satu pemohon dalam Perkara Nomor 56/PUU-XXIII/2025 terkait pengujian Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) di Mahkamah Konstitusi.

Keterlibatannya menunjukkan komitmen generasi muda dalam mengawal pembentukan hukum dan demokrasi, melalui mekanisme konstitusional.

Fawwaz juga terlibat dalam sejumlah perkara strategis lainnya di Mahkamah Konstitusi.

Ia menjadi salah satu kuasa hukum dalam perkara yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta turut mengawal advokasi terkait Undang-Undang Guru dan Dosen dengan tujuan mendorong terwujudnya penghasilan yang lebih layak bagi guru dan dosen sebagai bagian dari penguatan kualitas pendidikan nasional.

Berbagai kiprah tersebut mencerminkan konsistensi Fawwaz dalam memanfaatkan instrumen hukum dan konstitusi sebagai sarana memperjuangkan kepentingan publik, memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik, serta mendorong hadirnya keadilan sosial bagi masyarakat.

Selain itu, Fawwaz juga aktif melakukan riset dan telah berhasil menyusun buku dan sejumlah artikel ilmiahnya yang diterbitkan di jurnal terindeks Scopus dan terakreditasi di Sinta.

Bagi banyak hadirin yang memenuhi Balai Sidang dan Auditorium Fakultas Hukum UI siang itu, sosok Fawwaz tidak hanya merepresentasikan keberhasilan akademik, tetapi juga menggambarkan perjalanan panjang seorang alumni madrasah yang konsisten memadukan prestasi, kepemimpinan, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dari lulusan terbaik MI Pembangunan UIN Jakarta, lulusan terbaik MTs Pembangunan UIN Jakarta, lulusan terbaik MAN Insan Cendekia Serpong, mahasiswa berprestasi FH UI, Ketua Umum BEM FH UI, hingga aktivis hukum di berbagai perkara konstitusi serta peneliti dan penulis, Fawwaz menunjukkan bahwa pendidikan adalah jalan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan negara. (HS-08)

 

 

Kebakaran Hutan dan Lahan, Legislator Minta Jangan Salahkan El Niño dan Tindak Saksi Korporasi

Tiga Minggu Hadapi Karhutla, Kemenhut Perkuat Dukungan Kesehatan dan Keselamatan Manggali Agni