in

Mendiktisaintek Dorong Pendidikan Tinggi Psikologi Perkuat Kontribusi bagi Masyarakat

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), bersama AP2TPI dan Himpsi, Selasa (11/8/2026). (Foto : kemdiktisaintek.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto mendorong pendidikan tinggi psikologi, untuk terus memperkuat kontribusinya dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung generasi muda menghadapi berbagai perubahan.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), bersama Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI), dan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Selasa (11/8/2026).

Seminar bertema “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” menjadi ruang untuk memperkuat dialog dan kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, serta pemangku kepentingan dalam pengembangan pendidikan dan layanan psikologi.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa perkembangan teknologi, dinamika persaingan global, dan berbagai perubahan yang berlangsung cepat perlu dihadapi dengan optimisme, ketenangan, dan kebersamaan.

“Bangsa kita harus survive dengan kebutuhan dunia. Tapi kita butuh konsolidasi, persatuan, kita butuh wawasan-wawasan yang pertama-tama justru membuat kita optimistis, tenang,” ujar Mendiktisaintek, seperti dirilis kemdiktisaintek.go.id.

Dalam konteks tersebut, Menteri Brian berharap insan psikologi terus menghadirkan edukasi dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Saya berharap Bapak Ibu dari keilmuan psikologi dapat terus memanfaatkan berbagai terobosan untuk edukasi, menambah kapasitas dan wawasan masyarakat, sehingga muatan-muatan psikologi dapat lebih mudah dipahami. Semoga melalui hal ini, Bapak Ibu dapat memberikan kontribusi bagi bangsa melalui karya-karya yang memberikan semangat bagi kita semua,” ujar Menteri Brian.

Perhatian terhadap generasi muda menjadi salah satu bagian yang disampaikan Menteri Brian.

Dari sekitar tujuh juta anak Indonesia yang mengikuti screening, sekitar 10% terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa, dengan sekitar 4,4% menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8% menunjukkan gejala depresi.

Data tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda.

Untuk memperluas akses terhadap pengetahuan psikologi, Menteri Brian melihat pentingnya menghadirkan pendekatan yang dekat dengan keseharian generasi muda. Berkaca pada pengalamannya di bidang kemahasiswaan, Mendiktisaintek melihat perlunya pendekatan yang lebih ringan dan mudah diterima bagi mahasiswa yang belum nyaman datang langsung ke ruang konseling.

Ruang digital juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, untuk menambah kapasitas dan memperluas wawasan masyarakat.

Menteri Brian juga melihat peluang pengembangan bahan bacaan psikologi, yang ringan dan mudah dipahami.

Pengetahuan psikologi dinilai dekat dengan pengembangan kapasitas diri, dan dapat dikemas sesuai dengan karakter generasi muda, termasuk melalui gagasan buku yang relevan bagi Gen Z. Berbagai pendekatan tersebut dapat memperluas ruang bagi masyarakat, untuk mengenal dan memahami pengetahuan psikologi dalam kehidupan sehari-hari.

Penguatan kontribusi tersebut sejalan dengan perkembangan pendidikan profesi psikologi. Ketua AP2TPI, Rahmat Hidayat menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan profesi psikologi, telah mengalami transformasi sejak berlakunya UU Nomor 23 Tahun 2022, tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi.

Program profesi merupakan jalur pendidikan tersendiri yang menghasilkan lulusan dengan sebutan psikolog, dengan praktik terbimbing pada latar kesehatan, sekolah, tempat kerja, dan komunitas.

Dalam seminar juga dibahas kontribusi pendidikan profesi psikologi dalam mendukung layanan kesehatan primer, melalui promosi kesehatan mental, pencegahan, deteksi dan asesmen awal, intervensi klinis, serta kolaborasi lintas profesi.

Data praktik mahasiswa pada latar layanan kesehatan dari 19 kampus penyelenggara program profesi psikolog turut dipaparkan untuk memperkaya pembahasan.

Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulesy menekankan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dan antarprofesi dalam memperkuat pendidikan dan layanan kesehatan mental.

Sinergi tersebut juga mencakup upaya menyelaraskan implementasi UU Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi dengan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Seminar ini memperkuat ruang kolaborasi untuk mengembangkan pendidikan, kompetensi, edukasi, dan layanan psikologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan Diktisaintek Berdampak, yang mendorong pendidikan tinggi untuk terus mengembangkan ilmu, kompetensi, dan karya yang memberikan kontribusi bagi masyarakat. (HS-08)

 

 

Ansari Dorong Masyarakat Perkuat Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana

Mendag RI Optimistis Ekspor Nonmigas Terus Dukung Pertumbuhan Ekonomi