DI Bikini Bottom, kabar selalu bergerak lebih cepat daripada ubur-ubur yang dikejar Patrick. Pagi hari ada gosip, siang sudah menjadi bahan obrolan di Krusty Krab, sore berubah menjadi teori lengkap dengan diagram di atas serbet makan. Aneh memang, tetapi begitulah dunia kartun. Semua terasa masuk akal selama belum ada Plankton yang mengaku menjadi auditor.
Konon, di sebuah kota yang memiliki lumpia, bangunan tua era kolonial, dan cuaca yang bisa berganti dari terik menjadi hujan dalam hitungan menit, masyarakat sedang ramai membicarakan satu cerita. Cerita itu bukan soal diskon mi ayam atau konser musik, melainkan kabar bahwa proyek fisik, terutama yang memakai mekanisme penunjukan langsung, diduga menjadi komoditas yang diperjualbelikan oleh orang-orang yang disebut berada di sekitar lingkaran kekuasaan.
Kabar itu berembus bersama angka yang mudah diingat: 15 persen “bosum”, yakni nilai pagu setelah pajak dipotong. Angka itu beredar dari warung kopi, grup WhatsApp, hingga obrolan di pinggir proyek. Belum ada bukti yang menguatkan cerita tersebut, apalagi putusan hukum. Namun justru di situlah letak uniknya. Rumor di negeri kita kadang memiliki jam kerja lebih panjang daripada kantor pemerintahan.
Kalau SpongeBob tinggal di Semarang, mungkin ia akan berhenti sejenak menggoreng Krabby Patty dan bertanya kepada Squidward, “Bosum itu apakah menu baru?”
Squidward yang sudah lelah menghadapi kehidupan tentu hanya akan meniup klarinet sambil menjawab, “Bukan, mahluk aneh. Itu katanya tiket masuk sebelum pekerjaan dimulai.”
SpongeBob pasti bingung. Baginya, pekerjaan datang karena rajin, disiplin, dan senyum yang tidak pernah habis. Di dunia nyata, sebagian kontraktor berharap rumus itu masih berlaku. Mereka sibuk menghitung harga semen, besi, aspal, ongkos pekerja, biaya alat berat, hingga kenaikan harga material. Setelah semua dihitung, muncul satu variabel yang tidak pernah diajarkan di fakultas teknik, biaya yang katanya harus disiapkan agar pintu pekerjaan mau terbuka.
Lalu Patrick datang membawa logika khasnya.
“Kalau pintunya terkunci, kenapa tidak pakai kunci?”
Masalahnya memang bukan pintunya. Yang dipersoalkan masyarakat adalah jangan-jangan ada yang berdiri di depan pintu sambil menjual anak kunci.
Dalam aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah, penunjukan langsung memiliki syarat yang jelas. Ada batas nilai, ada kondisi tertentu, ada prosedur administrasi, dan ada kewajiban akuntabilitas. Semua itu tertulis rapi dalam regulasi pengadaan pemerintah. Tujuannya sederhana, pekerjaan bisa berjalan cepat tanpa mengorbankan prinsip efisien, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sayangnya, regulasi yang rapi kadang bertemu dengan imajinasi manusia yang jauh lebih kreatif.
Plankton mungkin akan iri.
Ia berkali-kali gagal mencuri resep Krabby Patty karena selalu ketahuan. Sementara dalam cerita-cerita yang beredar di warung kopi, ada tokoh-tokoh yang bahkan belum tentu masuk struktur organisasi, tetapi konon bisa menentukan ke mana proyek berlayar. Plankton pasti akan menggeleng.
“Ternyata resep rahasia bukan lagi saus burger. Melainkan daftar relasi pejabat,” gumam Plankton.
Tentu saja, semua itu masih berada di wilayah dugaan dan perbincangan publik. Justru karena itulah, kabar semacam ini semestinya dijawab dengan keterbukaan, bukan dengan membiarkannya tumbuh liar. Rumor yang dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi “kebenaran” versi warung kopi, padahal belum tentu sesuai fakta.
Di sisi lain, keresahan para kontraktor sungguhan juga layak didengar. Banyak pelaku usaha konstruksi mengaku pekerjaan makin sulit dicari. Persaingan ketat sudah menjadi hal biasa. Harga material naik, biaya operasional ikut naik, pembayaran kadang menunggu, sementara tenaga kerja tetap harus digaji tepat waktu.
Mereka datang membawa portofolio.
Yang lain, kata gosip, datang membawa akses.
Kalau benar dunia di Bikini Bottom berjalan seperti itu, tentu ada yang keliru. Sebab kualitas jalan tidak ditentukan oleh seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan. Jembatan tidak berdiri kokoh karena hubungan pertemanan. Saluran drainase tidak menjadi lancar hanya karena ada orang yang pandai berbisik.
SpongeBob mungkin masih percaya kerja keras selalu menang. Namun Tuan Krabs yang terkenal sangat menghitung uang barangkali akan mulai curiga.
“Kalau sebelum memasak burger sudah harus setor uang, untungnya tinggal apa?”
Pertanyaan itu terdengar lucu, tetapi justru menyimpan keresahan yang nyata.
Pemerintahan yang sehat membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan lahir ketika pelaku usaha merasa memperoleh kesempatan yang sama, prosedurnya jelas, dan hasil akhirnya bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, ketika masyarakat mulai sibuk menghitung “tarif masuk” berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, yang terkikis bukan hanya citra pemerintah. Dunia usaha pun ikut kehilangan napas.
Ironinya, isu semacam ini hampir selalu sulit dibuktikan lewat percakapan di kedai kopi. Semua orang merasa tahu. Tidak ada yang mau menjadi saksi. Semua mengaku mendengar dari teman yang mendengar dari teman lainnya. Alurnya bahkan lebih rumit daripada episode SpongeBob ketika mencari SIM mengemudi.
Karena itu, jika benar ada praktik yang melanggar hukum, aparat penegak hukum memiliki ruang untuk mengusut berdasarkan alat bukti, bukan gosip. Sebaliknya, bila kabar tersebut tidak benar, penjelasan yang terbuka dan pengawasan yang kuat menjadi cara paling ampuh untuk mematahkan spekulasi.
Pada akhirnya, masyarakat tentu berharap proyek pemerintah dinilai dari mutu hasilnya, bukan dari legenda yang mengiringinya. Jalan yang mulus jauh lebih menyenangkan daripada jalan cerita yang penuh bisik-bisik. Gedung yang kokoh lebih berguna daripada kisah “katanya” yang terus berulang.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


