HALO SEMARANG – Sejumlah kiai Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Tengah berharap Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, tidak terburu-buru melangkah ke bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Mereka menilai, Gus Rozin sebaiknya lebih dahulu menuntaskan amanah dan program kerja yang sedang dijalankan di tingkat wilayah.
Harapan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Kiai Kampung yang digelar di Pondok Pesantren Wali, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (25/7/2026).
Para kiai menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan PWNU Jawa Tengah, mulai dari penguatan sektor pendidikan, konsolidasi organisasi, peningkatan pelayanan kepada warga Nahdliyin, hingga realisasi berbagai program yang pernah disampaikan Gus Rozin saat mencalonkan diri sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah.
Menurut mereka, memimpin PWNU Jawa Tengah merupakan amanah yang tidak ringan. Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu basis terbesar Nahdlatul Ulama dengan ribuan pesantren, lembaga pendidikan, badan otonom, serta jutaan warga NU yang membutuhkan pelayanan organisasi secara optimal.
Kiai muda NU asal Sirampog, Kecamatan Benda, Kabupaten Brebes, KH Akomadhien Shofa, mengatakan keberhasilan menyelesaikan program kerja di tingkat wilayah akan menjadi modal kepemimpinan yang lebih kuat apabila kelak mendapat amanah yang lebih besar di tingkat nasional.
“Gus Rozin memiliki kapasitas dan masa depan yang panjang di NU. Namun, sebaiknya amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah dituntaskan terlebih dahulu. Menyelesaikan amanah yang sedang diemban adalah prioritas, dan itu merupakan jalan terbaik menuju amanah yang lebih besar. Masih banyak program yang perlu diwujudkan dan dirasakan manfaatnya oleh PCNU, pesantren, lembaga pendidikan, serta warga NU,” ujarnya.
Para kiai menegaskan, pandangan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi hak Gus Rozin apabila nantinya memutuskan maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Sebaliknya, mereka menyebut masukan itu sebagai bentuk perhatian agar setiap jenjang kepemimpinan dalam organisasi dijalankan secara tuntas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada warga Nahdlatul Ulama.
Selain itu, mereka mengingatkan bahwa kepemimpinan organisasi tidak cukup diukur dari besarnya dukungan politik atau menguatnya wacana pencalonan. Rekam jejak dalam menyelesaikan program, menjaga soliditas organisasi, serta memenuhi komitmen kepada warga NU dinilai menjadi indikator penting dalam menilai kesiapan seorang calon pemimpin PBNU.
Senada dengan itu, Gus Anis Maftukhin mengingatkan agar perhatian terhadap agenda organisasi di Jawa Tengah tidak terpecah sebelum seluruh program yang telah direncanakan benar-benar berjalan optimal.
“Jangan sampai pekerjaan di Jawa Tengah belum selesai, tetapi perhatian sudah beralih ke tingkat pusat. Menuntaskan amanah di PWNU justru akan menjadi bukti kepemimpinan dan modal penting bagi Gus Rozin pada masa mendatang,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, Gus Rozin maupun jajaran PWNU Jawa Tengah belum memberikan tanggapan atas harapan yang disampaikan para kiai tersebut. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi mengenai perkembangan pelaksanaan program PWNU Jawa Tengah serta sikap Gus Rozin terkait wacana pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.
Sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan, tanggapan dari Gus Rozin maupun PWNU Jawa Tengah akan dimuat apabila telah diterima.(HS)

