HALO SEMARANG – Sampah rumah tangga yang semula dianggap tidak bernilai, kini oleh umat Hindu di Desa Watuagung, Kabupaten Lampung Tengah, dijadikan sarana berbagi sekaligus merawat lingkungan.
Melalui Bank Sampah yang dikelola Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat dana punia dan kepedulian sosial.
Praktik tersebut dipadukan dengan penyuluhan keagamaan, mengenai makna dana punia dalam ajaran Hindu, yang berlangsung di Bank Sampah WHDI Desa Watuagung, Lampung Tengah, baru-baru ini.
Dalam ajaran Hindu, Dana Punia adalah pemberian atau amal suci, yang dilandasi rasa tulus ikhlas tanpa pamrih.
Berasal dari kata dana (pemberian) dan punia (selamat, baik, atau suci), konsep ini merupakan bentuk pengamalan ajaran dharma (kebaikan), yang didasari oleh filosofi persaudaraan universal.
Nilai utama dana punia tidak terletak pada besar atau kecilnya pemberian, tetapi pada ketulusan hati orang yang memberikannya.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, Darwiyati, seperti dirilis kemenag.go.id, mengajak para peserta memahami bahwa menjaga lingkungan dan berbagi kepada sesama, merupakan wujud nyata pengamalan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, dana punia tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk uang, atau harta benda bernilai besar.
Hasil pengelolaan sampah pun, dapat menjadi sarana berbagi selama dilandasi niat yang tulus.
“Dana punia tidak harus menunggu kita memiliki harta yang banyak. Dari sampah yang dikelola dengan baik pun kita bisa berbagi kepada sesama. Yang terpenting adalah keikhlasan dan niat tulus untuk memberikan manfaat,” kata Darwiyati, seperti dirilis kemenag.go.id.
Ia menjelaskan, Bank Sampah menjadi contoh konkret bagaimana sesuatu yang semula dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi sumber manfaat ekonomi. Sampah rumah tangga dipilah, dikumpulkan, dan dikelola agar memiliki nilai jual.
Hasil pengelolaan tersebut dapat disisihkan untuk dana punia, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta mendukung kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan setempat.
Selain memberikan nilai tambah secara ekonomi, Bank Sampah WHDI juga membangun kebiasaan masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Para anggota diajak memilah sampah sejak dari rumah dan mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pemberdayaan perempuan. Ibu-ibu WHDI tidak hanya berperan sebagai pengelola Bank Sampah, tetapi juga menjadi penggerak edukasi lingkungan bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Selama penyuluhan berlangsung, para peserta tampak antusias berdiskusi mengenai pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Mereka juga berbagi pengalaman tentang upaya mengembangkan Bank Sampah agar memberikan manfaat yang lebih luas.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai spiritual.
Dari langkah sederhana memilah sampah, umat Hindu Watuagung dapat menjaga kebersihan lingkungan, membangun kepedulian sosial, dan menghidupkan semangat dana punia dalam kehidupan sehari-hari. (HS-08)


