HALO KENDAL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H Soewondo Kendal, menggelar Pembinaan Jejaring PONEK (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensi) sebagai upaya deteksi dini penyakit jantung pada ibu hamil.
Kegiatan yang diikuti puluhan petugas puskesmas se-Kabupaten Kendal tersebut, digelar di ruang Hemodialisa (HD) RSUD dr H Soewondo Kendal, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang bertema “Cardiac Disease in Pregnancy, Early Recognition, Timely Referral, Better Outcomes” itu dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Kendal.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Nur Zarit Aya Sofia SpOG mengungkapkan, hingga April 2026 tercatat sudah ada tujuh kasus kematian ibu di Kabupaten Kendal. Empat di antaranya disebabkan penyakit jantung.
“Ini jangan dibiarkan, harus ditekan,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua panitia, dr Aria Adi Nugroho dalam sambutannya mengatakan, pembinaan jejaring PONEK difokuskan pada penanganan ibu hamil dengan penyakit jantung melalui deteksi dini dan sistem rujukan yang tepat waktu.
“Usulan kolaborasi layanan PONEK untuk ibu dengan penyakit jantung, deteksi dini, rujukan tepat waktu demi keselamatan ibu dan bayi, bersama mewujudkan layanan kesehatan yang cepat, tepat dan berkualitas. Ini harus bisa terealisasi dengan baik,” ujarnya.

Dokter Aria menjelaskan, penyakit jantung pada ibu hamil menjadi salah satu persoalan serius yang perlu mendapat perhatian seluruh tenaga kesehatan, khususnya fasilitas kesehatan tingkat pertama sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kendal, Ferinando Rad Bonay mengatakan, seluruh tenaga medis harus terus berikhtiar dalam menekan angka kematian ibu dan bayi melalui pelayanan kesehatan yang optimal.
“Jodoh, mati dan rezeki memang hak Allah Subhanahu Wataala, tetapi manusia diminta ikhtiar, terutama tenaga medis harus berupaya membantu meminimalisir kematian ibu dan bayi,” ungkapnya.
Ferinando menyebut, angka kematian ibu di Kendal hingga April 2026 telah mencapai tujuh kasus dan menempatkan Kendal pada peringkat ketiga tertinggi di Jawa Tengah.
Padahal pada tahun 2025 lalu jumlah kasus kematian ibu tercatat sebanyak 11 kasus dan berada di peringkat ke-15 se-Jawa Tengah.
“Tahun ini meningkat, makanya harus bekerja keras untuk meminimalisir kematian ibu dan bayi,” jelas Ferinando.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai epidemiologi penyakit jantung pada kehamilan.
Penyakit kardiovaskular disebut menjadi penyebab utama kematian non-obstetri dan menyumbang sekitar 33 persen dari seluruh kematian terkait kehamilan di dunia. Prevalensi penyakit jantung pada kehamilan mencapai 1 hingga 4 persen dan dapat meningkat hingga 10 persen bila disertai hipertensi.
Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai faktor risiko utama penyakit jantung pada ibu hamil, di antaranya usia ibu hamil pertama yang semakin tua, meningkatnya angka harapan hidup pasien jantung bawaan, obesitas, gaya hidup sedentari, serta komorbid seperti diabetes dan hipertensi.
Dalam paparan tersebut disebutkan pula bahwa sekitar 68 persen kasus kematian ibu sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat. (HS)


