HALO SEMARANG – Kementerian Agama berupaya memperkuat kompetensi digital para guru pendidikan keagamaan Kristen, yang berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen.
Hal itu diungkapkan Kasubdit di lingkungan Bimas Kristen, Santi Kalangi, dalam pertemuan dengan Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom), Mastuki, di Jakarta, Selasa (12/05/26).
Dia mengemukakan komitmen untuk memastikan kualitas pendidikan keagamaan Kristen, harus mampu bersaing dan berjalan beriringan dengan kemajuan di satuan pendidikan lainnya.
“Kebutuhan kami untuk satuan keagamaan Kristen sangat mendesak karena sekarang pembelajaran berbasis digital. Kami merasa banyak tertinggal dari teman-teman di Madrasah dalam hal ini, jadi kami berusaha mengimbangi,” kata Santi Kalangi, seperti dirilis kemenag.go.id.
Diharapkan Bimas Kristen dapat ikut memanfaatkan Platform Massive Open Online Course (MOOC) Pusat Informasi Pelatihan dan Pembelajaran (Pintar), untuk meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan binaan Bimas Kristen secara masif dan terukur.
Santi menjelaskan bahwa ketiadaan instrumen pemetaan data saat ini, menjadi tantangan mendasar dalam pembinaan SDM.
“Urgensi saat ini adalah kami tidak punya platform untuk rapor, asesmen, dan media pembelajaran. Kedatangan kami sekiranya dapat diberikan ruang untuk belajar mengenai Pintar, terutama untuk instrumen asesmen kepala sekolah, guru, hingga pengawas sebagai implementasi manajemen talenta,” kata dia.
Sementara itu Kepala Pusbangkom, Mastuki menyambut baik semangat transformasi ini.
Ia menegaskan inklusivitas Platform Pintar yang dirancang sebagai aset bersama bagi seluruh unit di Kementerian Agama demi efisiensi dan penguatan birokrasi.
“Posisi MOOC Pintar adalah untuk merancang dan mengembangkan kompetensi SDM pendidikan dan keagamaan. Kita membuka secara lebar, karena MOOC Pintar milik Kementerian Agama, bukan hanya milik Pusbangkom,” kata Mastuki.
Terkait kekhawatiran mengenai hasil asesmen awal, Mastuki mendorong paradigma growth mindset. Baginya asesmen bukanlah vonis, melainkan peta jalan menuju perbaikan.
“Apapun kondisinya, yang penting adalah apa yang akan dilakukan ke depan, bukan hasil asesmen itu sendiri. Opsi terbaik saat ini adalah menggunakan instrumen yang sudah ada seperti asesmen di madrasah atau nasional. Apapun hasilnya, kami di Pusbangkom siap membantu meningkatkan apa yang perlu ditingkatkan melalui pelatihan,” jelasnya.
Optimisme serupa disampaikan Ketua Tim Digital Learning Center (DLC), Dipo. Dengan capaian 1,5 juta alumnus pada 2025, Platform MOOC Pintar diproyeksikan menjadi motor penggerak utama dalam penyusunan konten pelatihan spesifik bagi guru agama Kristen yang berbasis kebutuhan riil di lapangan.
Kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan fitur inovatif bagi siswa, termasuk coaching clinic persiapan SNBP berbasis NIK.
Melalui sinergi ini, Bimas Kristen diharapkan mampu memetakan kompetensi secara real-time, menciptakan standar pembinaan berkelanjutan bagi sekolah negeri di tingkat dasar hingga menengah. (HS-08)


