in

Tinjau Klenteng Ciu Liung Wang, Wamenag : Tempat Ibadah Ruang Paling Nyaman Bangun Persaudaraan

Wamenag dalam Dialog Kerukunan dan Penguatan Moderasi Beragama di Klenteng Ciu Liung Wang. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Tempat ibadah seharusnya menjadi ruang paling nyaman untuk menemukan kedamaian dan membangun persaudaraan.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi’i, dalam Dialog Kerukunan dan Penguatan Moderasi Beragama di Klenteng Ciu Liung Wang, baru-baru ini.

“Kerukunan bukan sekadar imbauan moral, tapi sudah menjadi agenda prioritas pembangunan nasional. Kita tidak bisa membangun bangsa ini jika tidak ditopang oleh persatuan yang kokoh,” ujar Wamenag.

Ia menilai, rumah ibadah berperan strategis sebagai ruang yang menghadirkan kedamaian sekaligus memperkuat persaudaraan lintas iman.

Karena itu, keberadaan klenteng dan tempat ibadah lainnya diharapkan menjadi titik temu yang menenangkan bagi siapa pun.

“Tempat ibadah harus menjadi ruang paling nyaman untuk menemukan kedamaian dan membangun persaudaraan. Dari sinilah harmoni sosial bisa tumbuh, dimulai dari lingkungan paling dekat,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menurut Wamenag, kehidupan masyarakat di Pabuaran, Gunung Sindur, mencerminkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan kekuatan yang menyatukan. Nilai ini, kata dia, tumbuh dari praktik moderasi beragama yang mengedepankan keseimbangan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Wamenag juga menekankan pentingnya memperkuat empat hal dalam kehidupan bermasyarakat, yakni sikap saling menghormati dalam praktik keagamaan dan sosial, membangun empati serta solidaritas, mendorong dialog lintas agama yang terbuka, serta menjaga keadilan agar setiap warga merasa aman dan dihargai.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran luhur berbagai tradisi, termasuk dalam ajaran Khonghucu yang mengenal konsep Satya dan tepa salira.

“Satya menekankan ketulusan dan kejujuran dalam membangun hubungan, sementara tepa salira mengajarkan kita untuk mampu menempatkan diri secara bijak dengan mempertimbangkan perasaan orang lain,” jelasnya.

Menurutnya, kedua nilai tersebut sangat relevan dalam memperkuat etika sosial masyarakat. Integritas yang dibangun melalui kejujuran, serta kepekaan sosial yang lahir dari empati, akan menciptakan kehidupan yang lebih teduh dan inklusif.

“Kalau nilai-nilai ini benar-benar kita praktikkan, maka masyarakat yang harmonis bukan sekadar harapan, tetapi bisa kita wujudkan bersama,” kata dia. (HS-08)

 

 

TIMPORA Demak Perkuat Pengawasan Orang Asing, Dorong Sinergi Lintas Instansi

Harga Minyak Goreng dan BBM Kian Meroket, DPR Tegas Minta Pemerintah Harus Kendalikan dan Mitigasi !