in

Ahmad Luthfi Paparkan “Super Team” di Forum Apeksi, Tekankan Kolaborasi Tanpa Ego Sektoral

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat menjadi narasumber dalam seminar nasional bertajuk “Best Practice Kepemimpinan Daerah” yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-821 Kota Banda Aceh dan Raker Komwil I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia, Rabu (22/4/2026).

HALO ACEH – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus ditopang kolaborasi lintas wilayah yang solid tanpa ego sektoral.

Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam seminar nasional bertajuk “Best Practice Kepemimpinan Daerah” yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-821 Kota Banda Aceh dan Raker Komwil I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia, Rabu (22/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung AAC Prof. Dr. Dayan Dawood tersebut dihadiri para wali kota dari wilayah Sumatera bagian utara, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, hingga Sumatera Barat.

Dalam forum itu, Luthfi memaparkan konsep collaborative government sebagai fondasi pembangunan di Jawa Tengah. Ia menyebut seluruh kepala daerah di 35 kabupaten/kota disatukan dalam satu “super team” untuk mendorong pembangunan bersama.

“Tidak boleh ada sekat. Satu daerah dengan daerah lain harus tumbuh bersama,” tegasnya.

Konsep kolaborasi itu juga diwujudkan melalui pengembangan kawasan aglomerasi, salah satunya di wilayah Soloraya yang melibatkan tujuh daerah. Ia mencontohkan, melalui gelaran Soloraya Great Sale 2025, kawasan tersebut mampu mencatat transaksi hingga Rp10,7 triliun dalam satu bulan.

Selain itu, Luthfi menekankan peran kepala daerah sebagai “manajer marketing” yang harus mampu memetakan sekaligus mempromosikan potensi wilayah kepada investor, baik dalam maupun luar negeri. Strategi tersebut turut mendorong realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 yang mencapai sekitar Rp88,5 triliun.

Dalam praktiknya, setiap agenda luar daerah maupun pertemuan dengan mitra internasional dimanfaatkan untuk membuka peluang investasi. Ia juga melibatkan berbagai pihak seperti dunia usaha dan organisasi pengusaha guna memperluas jejaring kerja sama.

Di sektor tata ruang, ia menegaskan pentingnya penyiapan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus tanpa mengorbankan lahan sawah dilindungi sebagai penopang ketahanan pangan.

Kolaborasi juga diperluas ke sektor pendidikan. Tercatat, sebanyak 111 perguruan tinggi telah menjalin kerja sama dengan Pemprov Jawa Tengah untuk mendorong inovasi berbasis riset.

Sementara di bidang sosial, berbagai program unggulan terus dijalankan, mulai dari layanan kesehatan melalui program Spesialis Keliling (Speling) yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis, hingga pengentasan kemiskinan melalui perbaikan rumah tidak layak huni, penanganan stunting, sekolah gratis, dan bantuan modal usaha.

Untuk menekan angka pengangguran, Pemprov Jateng juga memperkuat pendekatan link and match antara pendidikan vokasi seperti SMK, BLK, dan politeknik dengan kebutuhan industri.

“Banyak hal yang bisa kita kolaborasikan, mulai dari kesehatan, kemiskinan, hingga pengembangan potensi wilayah. Semua ini menjadi kunci agar daerah bisa maju bersama,” pungkasnya.(HS)

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Bagikan Strategi “Super Team” di Forum Nasional APEKSI Banda Aceh

TIMPORA Demak Perkuat Pengawasan Orang Asing, Dorong Sinergi Lintas Instansi