in

Menunggu Perbaikan Seperti Menunggu Jodoh: Drama Jalan Rusak Kota Semarang

Gambar ilustrasi AI.

JIKA ada yang lebih setia dari tokoh utama dalam kisah cinta CEO kaya raya terhadap gadis lugu seperti dalam drama China (Dracin), mungkin hanya jalan rusak di Kota Semarang.

Ia tidak lekang oleh waktu, tidak retak oleh panas, dan tampaknya kebal terhadap doa-doa warga yang setiap hari harus berjuang menghindari lubang jalan.

Jalan rusak di sini bukan sekadar infrastruktur gagal, melainkan artefak budaya, warisan turun-temurun yang diwariskan dari satu musim hujan ke musim hujan berikutnya, dengan penuh cinta dan harapan.

Janji perbaikan jalan di Semarang terasa seperti cinta sepihak CEO yang menyamar jadi tukang panjat pohon durian, yang menguap perlahan sambil diiringi musik sendu.

Warga setia menunggu, sejenak menatap lubang jalan, berharap suatu hari lubang itu ditambal. Tapi yang datang justru hujan, air mengalir di jalanan karena drainase jalan entah ke mana rimbanya.

Jalan terus dibangun, tapi drainasenya dilupakan. Sehingga saat hujan, air mengalir di jalan, dan lubang pun beranak pinak.

Mungkin di benak jalan rusak: “Hawane pas untuk berkembang biak, dingin!”

Timeline media sosial pun dipenuhi foto lubang jalan dari berbagai sudut. Dari angle estetik sampai close-up penuh emosi. Ada yang pakai filter hitam-putih, seolah lubang itu kenangan pahit.

Media sosial berperan sebagai tokoh yang terus menangis dan berteriak, memanggil-manggil nama kekasih yang tak kunjung datang. Sayangnya, respons pemerintah daerah terasa seperti sinyal di daerah lembah: ada, tapi putus-putus, kadang hilang, seringnya cuma muncul satu bar.

Sementara itu, jalan rusak tetap setia menjalankan perannya. Ia menampung air hujan dengan khidmat, karena drainase yang kurang dipikirkan membuat jalan berfungsi ganda: aspal sekaligus saluran.

Air mengalir di atas permukaan jalan, menyamarkan lubang seperti plot twist murahan. Pengendara pun diajak bermain tebak-tebakan: ini genangan biasa atau pintu menuju celaka? Jawaban salah bisa berujung velg bengkok dan jantung yang nyaris copot.

Kemacetan pun ikut nimbrung sebagai figuran setia. Jalan menyempit bukan karena desain, tapi karena pengendara harus zig-zag menghindari lubang, seperti menari poco-poco versi senam emak-emak.

Di tengah kota, drama ini dimainkan dengan tempo cepat. Di wilayah pinggiran, seperti Kecamatan Ngaliyan, Mijen, Genuk, Gunungpati, ceritanya lebih panjang dan sendu.

Di sana, jalan rusak bukan cameo, tapi pemeran utama yang hadir hampir di setiap episode. Warga pinggiran sudah hafal betul letak lubang, seperti menghafal tanggal ulang tahun mantan: menyakitkan, tapi tak bisa dilupakan.

Soal perencanaan pembangunan oleh pemerintah, jangan ditanya. Kadang terasa seperti naskah drama yang ditulis terburu-buru: adegan tambal jalan muncul tiba-tiba, lalu hilang tanpa penjelasan.

Aspal dan batu split dituang, diratakan, difoto, lalu ditinggal. Beberapa bulan kemudian, hujan datang sebagai antagonis utama, membuka kembali luka lama. Proyek yang terkesan hanya insidentil ini membuat jalan rusak terasa lebih konsisten.

Ironinya, warga sudah berdamai. Mereka memberi nama lubang-lubang besar, menjadikannya patokan arah kepada ojek online: “Belok kiri setelah ada lubang besar ya Om.”

Ini bukan berarti warga tak peduli, justru karena terlalu peduli, mereka memilih humor sebagai pelampiasan. Seperti tokoh drama China yang terus menunggu di bawah hujan, sambil berkata, “Mungkin besok dia datang.”

Dan benar saja, respons pemerintah sering digambarkan seperti Inspektur Ladu Singh dalam serial animasi India, Shiva. Selalu sibuk, selalu ada alasan, dan muncul terlambat saat penjahat sudah berhasil dilumpuhkan.

Maka begitulah, jalan rusak di Semarang bukan sekadar masalah aspal dan beton. Ia adalah kisah cinta tragis antara warga dan harapan, antara lubang dan janji.

Selama drainase jalan masih alpa, perencanaan pembangunan masih setengah hati, dan pekerjaan proyek masih seperti adegan tempelan, drama ini akan terus tayang.

Dan warga? Mereka akan tetap menonton, sambil mengeluh di media sosial, tertawa getir, dan berdoa semoga suatu hari, di episode yang entah ke berapa, jalan itu benar-benar diperbaiki, bukan cuma dijanjikan saat kampanye.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

OMC Kembali Digelar, 1 Ton Garam Disemai di Perairan Utara Jateng untuk Tekan Hujan Ekstrem

Tinjau Peternakan Ayam di Kudus, Nawal Yasin Dukung Program Penguatan Ketahanan Pangan