in

Dari Meja Pelayanan ke Ruang Disertasi: Elly Asmara dan Gelar Doktor yang Lahir dari Rasa Penasaran

Dr Elly Asmara, SSTP, MM/dok

WAJAH Elly Asmara tampak lebih lega dari biasanya. Senyum itu bukan sekadar formalitas seorang camat saat menghadiri acara resmi, melainkan ekspresi tuntas dari perjalanan panjang yang ia tempuh selama lebih dari empat tahun. Di usia 40 tahun, Camat Semarang Barat itu akhirnya menyandang gelar doktor, sebuah pencapaian yang ia harapkan bisa menular, terutama bagi sesama aparatur sipil negara (ASN).

Di tengah padatnya ritme kerja pemerintahan, Elly memilih untuk tetap duduk di bangku kuliah. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia ingin membuktikan bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang telah mengenakan seragam dinas dan menduduki jabatan struktural.

“Saya ingin memberi contoh bahwa ASN bisa dan harus terus belajar,” ujarnya.

Perjalanan akademik Elly dimulai pada Agustus 2020 di Program Doktor Administrasi Publik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Di masa itu, pandemi baru saja mengubah banyak hal, termasuk pola bisnis dan pelayanan publik. Dari ruang kerja yang bersentuhan langsung dengan data pajak daerah, Elly menangkap sebuah kejanggalan.

Jumlah restoran mitra GoFood terus bertambah, namun penerimaan pajak restoran justru menurun.

“Di situ saya mulai penasaran. Secara logika, harusnya naik,” katanya.

Rasa ingin tahu itulah yang kemudian menjelma menjadi disertasi berjudul Determinan Model Keputusan Pajak Restoran Berbasis E-Commerce GoFood di Kota Semarang. Elly meneliti bagaimana perubahan model bisnis digital menuntut pendekatan baru dalam membangun kepatuhan pajak.

Baginya, sistem lama tidak selalu cocok diterapkan pada lanskap ekonomi digital. Pola kepatuhan perlu diperbarui, bukan sekadar diperketat.

“Kalau pendekatannya tidak relevan, kepatuhan akan sulit tumbuh,” ujarnya.

Temuan tersebut bukan hanya berhenti di meja sidang disertasi. Elly menyebut hasil risetnya memberi masukan strategis bagi Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), sekaligus memperkaya pemahaman pemerintah tentang ekosistem e-commerce yang bergerak cepat.

Di balik pencapaian akademik itu, Elly tidak menutup mata pada peran keluarga. Ia menyebut satu per satu orang terdekat yang membuatnya bertahan di tengah tekanan kerja dan studi.

“Terima kasih untuk istri saya, Femega Dian Putriani, dan tentu anak saya, Leanai True Asmara. Mereka alasan saya tidak menyerah dan akhirnya bisa kelar,” ucapnya dengan nada ringan.

Elly bukan sosok yang asing dengan dunia pelayanan publik. Lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini sejak awal memang memilih jalur pengabdian. IPDN, baginya, bukan sekadar kampus, tetapi tempat pembentukan disiplin dan mental ASN.

Selepas lulus pada 2009, Elly menapaki berbagai posisi teknis dan strategis. Ia pernah menjadi staf DPKAD, Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan, Kasubbid di Bapenda, Kepala Bidang Pembukuan dan Pelayanan, hingga Kepala Bidang Pajak Daerah. Sejak 2022, ia dipercaya memimpin Kecamatan Semarang Barat.

“Dari situ saya belajar bagaimana kebijakan benar-benar bekerja di lapangan, bagaimana data menentukan arah keputusan, dan bagaimana masyarakat merespons pelayanan pemerintah,” tuturnya.

Gelar doktor, bagi Elly, bukan titik akhir. Ia sadar, secara karier, ekspektasi terhadap dirinya juga meningkat.

“Wajar kalau setelah S3, tuntutannya lebih besar. Saya harus lebih kritis dan analitis,” kata pengagum mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew itu.

Di luar urusan kantor, Elly dikenal aktif mengikuti isu-isu lintas bidang—dari ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, ekonomi, hingga olahraga. Ia tidak ingin terjebak dalam rutinitas birokrasi yang sempit.

Ke depan, Elly bertekad membagi ilmunya di ruang kelas. Ia ingin mengajar, meski belum menentukan di mana.

“Saya masih menunggu tawaran yang pas,” ujarnya singkat.

Pesan Elly kepada rekan-rekan ASN pun sederhana, tapi tegas. Bagi yang sudah lulus S1, lanjutkan S2. Yang sudah S2, jangan ragu mengejar doktoral.

“Di era digital dan global, ASN dituntut terbiasa berpikir ilmiah. Masalah publik makin kompleks. Kita tidak bisa menyelesaikannya hanya dengan kebiasaan lama,” katanya.

Di antara tumpukan berkas dan jadwal rapat, Elly Asmara membuktikan bahwa rasa penasaran bisa membawa seseorang jauh—dari meja pelayanan publik, hingga ruang disertasi. Dan dari sana, ia kembali, dengan tanggung jawab yang lebih besar.(HS)

Ponpes Al-Ma’wa Kendal Gelar Aeromodelling Show

Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Semarang, Ratusan Rumah Terendam