HALO SEMARANG – Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Kamis (15/1/2026) sore hingga malam hari memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Sedikitnya ratusan rumah warga terendam banjir, sementara satu titik longsor terjadi di kawasan Ngaliyan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, banjir melanda tiga wilayah utama, yakni Perumahan Mangkang Indah di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, serta Kelurahan Mangkang Kulon dan Mangunharjo di Kecamatan Tugu.
Genangan terparah terjadi di Perumahan Mangkang Indah, dengan ketinggian air mencapai lebih dari setengah meter. Sementara di Mangkang Kulon dan Mangunharjo, ketinggian banjir bervariasi antara 10 hingga 40 sentimeter, bahkan di beberapa titik mencapai sekitar 60 sentimeter.
Selain banjir, hujan dengan intensitas tinggi juga menyebabkan tanah longsor di Jalan Kuda, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. Material longsoran setinggi sekitar lima meter dan sepanjang tujuh meter sempat menutup akses jalan warga.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, menjelaskan banjir dan longsor dipicu luapan air akibat sistem drainase permukiman yang tidak mampu menampung debit hujan tinggi, ditambah kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Plumbon yang mengalami kerusakan.
“Terjadi limpasan air sungai karena DAS Plumbon tidak mampu menampung debit air. Ini berdampak pada Perumahan Mangkang Indah dan wilayah sekitarnya, dengan ketinggian air yang bervariasi hingga sekitar 60 sentimeter,” ujar Endro, Jumat (16/1/2026).
Untuk longsor di Jalan Kuda, BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum langsung melakukan penanganan darurat. “Material longsor sedang dievakuasi. Tadi malam kami pasang terpal pada lereng tanah agar longsoran tidak bertambah parah,” imbuhnya.
BPBD mencatat, di Perumahan Mangkang Indah RT 01–13 RW 02, banjir berdampak pada 250 kepala keluarga atau sekitar 680 jiwa. Di Kelurahan Mangunharjo, tercatat 280 kepala keluarga dengan total 693 jiwa terdampak, tersebar di RT 1 hingga RT 6. Sementara di Mangkang Kulon, banjir melanda sejumlah RT di RW 02 dan RW 04.
Endro menambahkan, sebagian besar warga memilih bertahan di rumah, sementara sebagian lainnya mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman. “Pantauan hari ini, air mulai surut dan warga sudah mulai membersihkan lumpur sisa banjir di dalam rumah,” katanya.
Di wilayah Wonosari, banjir yang datang mendadak memaksa warga mengevakuasi kelompok rentan. Sebanyak 10 warga lanjut usia dan balita dievakuasi secara gotong royong ke rumah warga lain yang lebih aman.
Lurah Wonosari, Ngaliyan, Dimas Sancoyo, mengatakan evakuasi dilakukan karena kekhawatiran banjir susulan. “Debit air Sungai Plumbon masih tinggi, sehingga warga masih waspada,” ujarnya.
Sementara itu, di Kecamatan Tugu, banjir diperparah oleh jebolnya tanggul Sungai Plumbon di dua titik, yakni di RT 4 RW 4 Kelurahan Mangunharjo dan RT 2 RW 3 Kelurahan Mangkang Kulon. Selain itu, beberapa titik tanggul dilaporkan rembes dan melimpas, membuat air cepat masuk ke permukiman sejak sekitar pukul 18.00 WIB dan terus meningkat hingga malam hari.
“Sekitar jam delapan malam air mulai masuk rumah. Karena rumah saya dekat sungai, banjir kali ini terasa paling parah,” kata Novianti, warga Mangunharjo.
Ia mengungkapkan, ketinggian air di dalam rumahnya mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara di luar rumah hampir setinggi pinggang orang dewasa. “Harapannya tentu ada normalisasi sungai. Soalnya banjir ini sudah sering terjadi,” keluhnya.
Lurah Mangunharjo, Siti Komariyah, menyebut wilayah RW 4 menjadi area terdampak paling parah dan sempat terisolasi karena lokasinya dekat dengan Sungai Plumbon.
“Hampir semua RT terdampak. Desember kemarin warga sudah dua kali kebanjiran, dan Januari ini terjadi lagi,” ujarnya.
Menurut Siti, warga masih diminta waspada mengingat curah hujan yang masih tinggi. Setelah air surut, pemerintah kelurahan bersama instansi terkait akan melakukan penanganan sementara pada tanggul yang jebol. “Kami juga merencanakan pendirian dapur umum bagi warga terdampak mulai Jumat (16/1/2026),” katanya.(HS)