DI alam lebah, kekuasaan berjalan rapi. Ada satu ratu, tubuhnya paling besar, duduk manis di dalam sarang, sementara ribuan lebah lain sibuk bekerja. Ratu tidak perlu terbang jauh, tidak perlu berkeringat mengumpulkan madu.
Tugasnya sederhana namun maha penting: tetap hidup, tetap berkuasa, dan memastikan sistem terus berputar mengelilinginya. Semua itu berlangsung tanpa harus merealisasikan pidato visi-misi dan tanpa turun ke rakyat untuk melihat persoalan di bawah.
Filosofi lebah ratu ini rupanya laris manis di dunia fiksi bawah laut, khususnya di wilayah bernama Bikini Bottom, yang menjadi latar utama serial animasi populer SpongeBob SquarePants.
Kota bawah laut yang selama ini dikenal damai, penuh gelembung, dan berisik oleh tawa SpongeBob, ternyata menyimpan praktik politik yang canggih.
Dalam animasi SpongeBob SquarePants ubur-ubur berperan sebagai analogi bawah air untuk lebah.
Di Jellyfish Fields (tempat tinggal ubur-ubur dan favorit SpongeBob serta Patrick untuk berburu), ubur-ubur penguasa lokal menjalankan pemerintahan dengan gaya lebah ratu: diam di tengah, kenyang madu, dan dikelilingi pasukan setia.
Di lingkar pertama, ada lebah penjaga. Mereka bukan sekadar pengawal fisik, tapi penjaga opini. Mulutnya terlatih, telinganya peka, dan refleksnya cepat setiap kali ada kritik mendekat.
Jika ada warga Bikini Bottom yang mengkritik, lebah penjaga akan sigap menjadi tameng. Intinya satu: ratu baik-baik saja, sarang aman, silakan pulang.
Di lingkar berikutnya, bekerja keraslah lebah pekerja. Mereka yang terbang dari bunga ke bunga, mengumpulkan madu yang kelak disetor ke pusat. Dalam versi Bikini Bottom, lebah pekerja adalah pasukan khususnya. Mereka sibuk bekerja, terlalu sibuk untuk bertanya ke mana madu itu mengalir. Lagi pula, bertanya sering kali dianggap mengganggu harmoni sarang.
Namun, ratu lebah Bikini Bottom tidak berhenti di situ. Ia paham satu hal penting: perhatian publik mudah bosan. Maka diciptakanlah badut-badut politik. Mereka tampil di depan kamera, ribut soal hal remeh, bertengkar soal warna karpet kantor, atau saling sindir soal unggahan media sosial.
Atraksi ini sukses. Warga sibuk menonton, berdebat, dan memilih kubu, sementara di belakang panggung, copet-copet dan kasir atau lebah penyengat tak terlihat bekerja tenang. Ada yang menggeser madu, ada yang menghitung, ada yang menyimpan rapat-rapat.
Kebijakan di Jellyfish Fields Bikini Bottom pun sering terasa aneh. Lampu sein sudah dinyalakan ke kiri, pidato menyebut keberpihakan pada rakyat kecil, namun roda kekuasaan justru berbelok ke kanan.
Anggaran diumumkan untuk kepentingan umum, realisasinya mendarat di kantong sempit yang alamatnya itu-itu saja. Program diumumkan ramai, hasilnya sunyi. Publik diberi panggung sandiwara, tujuan aslinya tetap tersembunyi.
Gaya sein kiri belok kanan ini bukan tanpa alasan. Dalam dunia lebah ratu, yang penting bukan arah jalan, melainkan posisi ratu tetap aman.
Selama lebah penjaga siaga, badut terus beraksi, dan lebah pekerja sibuk, ratu bisa tidur nyenyak. Apalagi lebah penyengat siap menghantam siapa saja yang mengganggu. Madu terus mengalir, sarang tetap utuh, dan ancaman hukum bisa dinegosiasikan dengan senyum atau dilupakan oleh waktu.
Yang lucu, praktik ini sering dibungkus dengan istilah luhur. Kata “kepentingan bersama” diucapkan dengan suara berat, padahal yang dimaksud hanya kepentingan lingkar dalam.
Istilah “stabilitas” dipuja-puja, seolah kekacauan terbesar adalah rakyat terlalu banyak bertanya. Di Jellyfish Fields Bikini Bottom, stabil berarti ratu tidak diganggu, bukan warga hidup tenang. Jika ada masalah, benteng tinggi ditegakkan untuk menahan kritik, lebah penyengat siap menyerang, bukannya mengurai akar masalahnya.
SpongeBob, Patrick, dan Squidward, jika boleh jujur, mewakili tiga reaksi publik. SpongeBob tetap ceria, percaya semua akan baik-baik saja asal bekerja lebih keras. Patrick bingung tapi ikut saja arus. Squidward sinis, mengomel di pojok, namun tetap berangkat kerja keesokan hari. Ketiganya, sadar atau tidak, menjadi bagian dari ekosistem lebah ratu. Kadang, mereka juga diadu domba agar tak mengganggu kekuasaan di Jellyfish Fields.
Masalahnya, lebah ratu lupa satu hal penting: sarang bisa runtuh jika terlalu berat menampung madu. Ketika lebah pekerja lelah, ketika badut kehabisan lelucon, dan ketika penjaga mulai saling curiga, sistem yang tampak rapi itu berubah rapuh. Di alam, koloni bisa pindah. Di Bikini Bottom, warga bisa mulai membuka mata.
Esai ini tentu bukan manual ilmu perlebahan, apalagi panduan menggulingkan ratu. Ini hanya catatan ringan bahwa politik kadang lebih mirip sarang lebah daripada ruang musyawarah.
Bahwa tanda sein sering dinyalakan sekadar formalitas atau malah pengalihan isu, bukan petunjuk kebijakan. Dan bahwa di balik tawa badut serta pidato manis sang ratu, ada madu yang terus ditimbun.
Jika suatu hari warga Jellyfish Fields di Bikini Bottom melihat penguasanya terlalu gemuk oleh madu dan ada beruang datang untuk memanennya, jangan langsung terkejut.
Bisa jadi, sudah terlalu lama sein kiri dibiarkan belok kanan. Dan di jalan politik, kebiasaan kecil semacam itu sering berakhir bukan di tujuan, melainkan di jurang.
Tentu saja dengan badut politik masih tertawa di tepi kekuasaan.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)