in

Ancaman Rob di Kota Semarang: Bertahan di Kota Genangan

Gambar ilustrasi AI.

TAHUN baru biasanya penuh harapan, tapi bagi warga Pantura Jawa Tengah, khususnya Semarang, 2026 datang dengan kejutan basah. Aancaman air laut yang naik ke daratan, alias rob, siap menyapa lagi.

BMKG sudah mengumumkan sejak akhir 2025 bahwa rob bakal mengintai wilayah ini mulai 1 sampai 8 Januari 2026. Wilayah terdampak termasuk Semarang, Demak, dan Kendal. Penyebabnya, bulan lagi deket banget ke Bumi pada 2 Januari, plus bulan purnama tanggal 3. Air pasang maksimal, dan hasilnya, ancaman jalanan berubah jadi sungai dadakan.

Bayangin saja, awal tahun yang seharusnya keringetan karena resolusi hidup sehat ala atlet, malah kedinginan karena basah kuyup. BMKG bilang ini karena fenomena fase perigee, yakni kondisi saat bulan berada pada titik terdekat dengan bumi dan purnama, yang bikin air laut naik lebih tinggi dari biasa.

Data dari situs resmi BMKG menunjukkan potensi rob ini bisa berlangsung hingga 10 Januari di pesisir Indonesia, tapi Pantura Jateng jadi sorotan utama. Warga di pinggir pantai, seperti di Semarang Utara dan Genuk, pasti sudah hafal ritual ini: sandal jepit mengapung, motor mogok, dan ikan-ikan kecil berenang di halaman rumah.

Pemkot Semarang tak tinggal diam. Mereka sudah ingatkan warga untuk tetap waspada terhadap banjir, bukan cuma rob, tapi juga hujan deras yang bisa datang sampai Februari.

Puluhan pompa air sudah disiagakan di kota ini sejak akhir 2025, katanya untuk hadapi puncak musim hujan. Baguslah, setidaknya ada usaha. Tapi, ironisnya, setiap tahun cerita sama: pompa nyala, air surut sebentar, lalu banjir lagi. Kayak hubungan toksik yang tak pernah putus.

Kalau rob ini datang tepat waktu seperti prediksi BMKG, kenapa tak bisa diantisipasi dengan pembangunan infrastruktur sebelumnya? Toh masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan sudah beberapa kali ganti pimpinan. Semarang kota pelabuhan yang megah, tapi tiap musim hujan selalu ada masalah dengan banjir, baik rob maupun karena musim hujan. Apakah memang tidak ada politik anggaran untuk mengurai masalah ini. Atau bencana ini memang disiapkan untuk sosialisasi program pembangunan saat jelang Pemilu saja?

Tapi serius, data dari BMKG menunjukkan wilayah seperti sekitar Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang atau Sayung di Demak bakal paling kena dampak. Air bisa genangi jalan utama, bikin lalu lintas macet.

Ekonomi pasti terganggu, nelayan susah melaut, pedagang pasar basah kuyup. Sementara warga sibuk stok mi instan dan obat masuk angin, pemerintah bilang “tetap tenang” akan ada solusi untuk masalah ini.

Tenang gimana, kalau berangkat dan pulang kerja harus melewati ancaman genangan dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi. BMKG juga ingatkan cuaca ekstrem lain, seperti hujan lebat disertai petir di Jateng awal Januari. Jadi, rob plus hujan, resep sempurna buat warga ketar-ketir.

Ironi, kita punya teknologi prediksi canggih, tapi solusi permanen seperti tanggul laut atau apalah itu, masih jadi mimpi. Pemkot Semarang memang sedang optimalkan pompa dan normalisasi sungai, tapi kalau rob datang lagi, ya tetap basah.

Bicara soal dampak, rob bukan cuma bikin jalan becek. Ia juga ancam kesehatan warga, dengan air kotor yang bawa penyakit.

Kalau terus begini, slogan Semarang Kota Kenangan sangat layak diganti jadi Semarang Kota Genangan. Dan jangan marah ketika dikritik dengan slogan itu ya.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Deretan Apresiasi untuk Semarang: Catatan Kota yang Terus Belajar Melayani

Pimpin Apel Penandatanganan Pakta Integritas, Wali Kota Semarang Tegaskan ASN Kota Semarang Siap Kerja Berdampak