in

Manfaatkan Perca Batik, SKB Paket B di Kota Pekalongan Dapat Pesanan Ratusan Sandal Hotel

Pembuatan sandal hotel dari perca batik, oleh peserta program pembelajaran kesetaraan Paket B SKB di Kota Pekalongan. (Foto : pekalongankota.go.id)

 

HALO PEKALONGAN – Limbah perca batik yang selama ini dianggap tidak bernilai, berhasil disulap menjadi produk kreatif bernilai ekonomi oleh Satuan Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan.

Melalui program pembelajaran kesetaraan Paket B, para peserta didik didampingi tutor untuk mengolah perca batik menjadi sandal hotel batik yang unik dan berciri khas kearifan lokal Kota Pekalongan.

Tutor guru mata pelajaran Paket B SKB Kota Pekalongan, Mualim, menjelaskan bahwa gagasan ini berawal dari keprihatinan terhadap banyaknya limbah kain perca batik yang belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Di sisi lain, terdapat potensi besar dari peserta didik yang memiliki keterampilan dasar menjahit serta kekayaan budaya batik yang melekat kuat pada identitas Kota Pekalongan.

“Berawal dari banyaknya limbah kain perca batik yang belum dimanfaatkan, kemudian kami melihat adanya keahlian menjahit dari peserta didik. Ditambah lagi dengan potensi kearifan lokal Kota Pekalongan yang identik dengan batik, akhirnya kami berinisiatif mengolah limbah yang dianggap orang tidak berguna atau sampah ini menjadi karya berupa sandal hotel batik,” kata dia, seperti dirilis pekalongankota.go.id.

Ia menambahkan, produk sandal batik ini, tidak hanya menjadi media pembelajaran keterampilan bagi peserta didik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki nilai jual dan peluang usaha ke depannya.

Hal ini sejalan dengan tujuan SKB Kota Pekalongan dalam membekali peserta didik dengan keterampilan hidup (life skill) setelah mereka lulus dari program kesetaraan.

“Tujuan utama kami adalah pembelajaran. Kami ingin peserta didik memiliki bekal keterampilan untuk kehidupan mereka setelah lulus dari SKB Kota Pekalongan. Produk ini menjadi salah satu sarana pembelajaran agar mereka bisa mandiri nantinya,” tambahnya.

Menariknya, meskipun pada awalnya kegiatan ini hanya difokuskan untuk pembelajaran peserta didik, karya sandal hotel batik tersebut justru menarik perhatian pihak luar.

Setelah video proses dan hasil karya dipublikasikan, salah satu hotel di Kota Pekalongan menyatakan ketertarikannya dan mengajukan pemesanan dalam jumlah besar.

“Alhamdulillah, saat ini kami sudah mendapat tawaran dari salah satu hotel di Kota Pekalongan dengan pesanan kisaran 500 sampai 1.500 pasang sandal. Namun karena kami masih baru memulai dan fokus utama tetap pada pembelajaran, kami baru mengambil sekitar 500 pasang sebagai langkah awal,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa proses produksi masih dilakukan dalam skala kecil dan bertahap.

Mengingat peserta didik masih dalam tahap belajar, produksi dilakukan sesuai kemampuan dan didampingi langsung oleh tutor menjahit agar kualitas tetap terjaga.

“Peserta didik masih butuh proses. Mereka akan terus didampingi oleh tutor menjahit dan dilatih lebih mendalam supaya ke depannya semakin ahli. Harapannya, nanti mereka bisa memproduksi sendiri di SKB Kota Pekalongan,” tandasnya.

Selain pelatihan pembuatan sandal batik, SKB Kota Pekalongan juga telah memiliki berbagai program keterampilan lainnya, seperti pelatihan menjahit, pembuatan daster, serta busana batik.

Hal ini menunjukkan komitmen lembaga dalam mengembangkan potensi peserta didik melalui pendidikan nonformal berbasis keterampilan.

Terkait harga jual, Mualim menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menetapkan harga produk sandal batik tersebut.

Hal ini dikarenakan produk belum secara resmi diperjualbelikan dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) masih dalam tahap perencanaan.

Dari sisi kualitas dan keunikan, sandal hotel batik hasil karya peserta didik SKB Kota Pekalongan dinilai memiliki keunggulan tersendiri.

Motif batik yang beragam dan khas menjadikan produk ini berbeda dari sandal hotel pada umumnya.

Atas inovasi dan kreativitas tersebut, SKB Kota Pekalongan berhasil meraih Juara I Nasional Apresiasi Video Inspiratif, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada awal Desember lalu, untuk kategori SKB/PKBM Kesetaraan Paket B.

Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran kesetaraan mampu melahirkan karya inspiratif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Salah satu peserta didik yang terlibat langsung dalam pembuatan sandal batik, Siti Nur Muthi’ah, mengaku bangga dapat ikut serta dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini memberikan pengalaman baru sekaligus menambah kepercayaan diri.

“Saya senang sekali bisa belajar membuat sandal dari kain perca batik. Awalnya tidak menyangka kalau hasilnya bisa sebagus ini dan bahkan diminati hotel. Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri dan berharap ke depannya bisa punya usaha sendiri,” ujarnya.

Melalui inovasi pemanfaatan limbah kain perca batik ini, SKB Kota Pekalongan tidak hanya menghadirkan solusi kreatif terhadap permasalahan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal melalui pendidikan nonformal. (HS-08)

Sambut Tahun Baru dengan Gelar Batang Nusantara Expo 2025, Pemkab Targetkan Nilai Transaksi Rp 2 Miliar

Upayakan Perhatian Tepat Sasaran, Pemkot Pekalongan Bakal Data Ulang Penyandang Disabilitas