HALO SEMARANG – Anggota Komisi I DPR RI, Sabam Rajagukguk, meminta TNI menindak tegas organisasi masyarakat (ormas), yang menurut dia melakukan aksi premanisme dan meresahkan masyarakat.
Sabam pun menunjuk contoh “aksi premanisme” itu, pernah dialami pabrik mobil kenamaan dari Cina, hingga disebut batal mendirikan pabriknya di Subang. Dia juga menyebut negara ditaksir rugi triliunan akibat kejadian tersebut.
Namun belakangan, pihak perusahaan otomotif asal China tersebut, menyatakan pemberitaan akan aksi premanisme itu berlebihan, dan pembangunan pabrik terus berlangsung.
Pernyataan Sabam itu, disampaikan saat Rapat dengan jajaran Kodam III Siliwangi, dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi I DPR RI ke Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, baru-baru ini.
Dia mengatakan partainya tidak pernah membenarkan perilaku premanisme. Karena itu TNI dipersilakan “menghantam” ormas preman, walaupun terafiliasi dengan parpol.
“Di sini mau saya sampaikan, Pak. Hantam saja! Mereka bukan bagian dari Partai Gerindra. Kalau mereka ngaku begitu silakan ditindak. Bahkan kalaupun ada unsur resmi dari partai kami berkelakuan preman, hantam juga,” kata politisi Gerindra itu, seperti dirilis dpr.go.id.
Sabam Rajagukguk juga mengatakan, masyarakat tidak boleh hidup dalam ketakutan.
Sembari memuji TNI yang dia sebut terus mendapatkan kepercayaan publik, Sabam mengatakan tentara harus mampu hadir memberikan keamanan dan mengeliminasi berbagai gangguan ketertiban di tengah masyarakat.
Aksi premanisme berbalut ormas kerap terjadi di Indonesia. Akibat aksi itu, tidak jarang masyarakat jadi khawatir dalam melaksanakan aktivitasnya.
Menurut dia, ormas-ormas yang dituding sebagai preman ini, juga mendapat perhatian dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
Ia bahkan menyebut kalau aksi mereka kerap menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi karena menganggu iklim usaha di Indonesia.
Kondusif
Sementara itu terkait adanya aksi premanisme terkait pembangunan pabrik otomotif di Subang, pihak perusahaan mengatakan isu tersebut pernah diangkat oleh media asing asal China.
Namun menurut dia, pemberitaan media asing tersebut berlebihan. Sebaliknya, pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat berjalan sesuai rencana dan situasi berlangsung kondusif.
“Pemberitaan yang beredar adalah berlebihan dan tidak sesuai situasi sebenarnya di lapangan. Pembangunan berjalan kondusif dan lancar,” kata Luther. (HS-08).