in

Jaga Kebugaran Mental dan Fisik, Pekerja Migran Indonesia Domestik Perempuan di Hong Kong Diajak Permainan Edukatif

Kegiatan edukatif disambut antusias oleh para Pekerja Migran Indonesia (PMI) Domestik Perempuan saat diajak mencoba permainan kreatif olah pikir dengan sejumlah peraga manipulatif di Masjid Ammar Wanchai, Hongkong Senin (21/7/2025).

HALO SEMARANG – Para Pekerja Migran Indonesia (PMI) Domestik Perempuan yang bekerja di Hong Kong mendapatkan pengarahan dan sekaligus mengikuti kegiatan edukatif yang diberikan oleh tim pelaksana Pengabdian Masyarakat Kemitraan pada baru-baru ini. Dalam kegiatan tersebut diketuai Prof Dr R Benny Riyanto, MHum, dengan tiga anggota yakni Prof Dr Isti Hidayah, MPd, Irawaty SH, MH, PhD, dan Bagus Dwi Pambudi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepda Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Acara dilakukan saat masa free day, karena setiap komunitas PMI Domestik Perempuan tidak selalu sama waktunya. Umumnya, masa free day diberikan kelonggaran pada hari Minggu yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas di Victoria Park Hong Kong. Adapun dalam kesempatan kegiatan ini, bertempat di Masjid Ammar Wanchai Hong Kong bersama mitra program, yaitu Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) di Hong Kong, Ebta.

Ketua Tim Pelaksana Prof R Benny Riyanto menjelaskan, bahwa pihaknya ingin memberikan wawasan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) Domestik Perempuan tentang Hak dan Perlindungan sehingga nyaman dalam bekerja.

Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga telah dilakukan penyerahan 30 eksemplar buku saku warna merah untuk dibagikan kepada PMI Domestik perempuan.

“Pembagian buku saku yang dikoordinir oleh mitra program atau mitra kerjasama PCIA. Di buku saku tersebut mulai dari kata pengantar, Hak-Hak Pekerja Migran Indonesia, Perlindungan Hukum di Hong Kong, Cara Melaporkan Pelanggaran, Sumber Daya dan Layanan Bantuan, Pelatihan dan Kemandirian Ekonomi, Kontak Penting. Kelebihan dari Buku Saku dikemas full color, singkat mudah dipahami, dilengkapi dengan gambar-gambar ilustrasi, dan barcode dan atau link untuk mengakses informasi yang lebih lengkap,” paparnya.

Di samping buku saku, juga diserahkan tiga set alat peraga manipulatif untuk penunjang bagi kebugaran mental (olah pikir) dan kebugaran fisik. Salah satu peraga manipulatif olah pikir adalah manipulatif Menara Hanoi.

Salah satu anggota Tim pelaksana, Prof Isti Hidayah menambahkan, dengan peraga Menara Hanoi tersebut, PMI Perempuan dapat melakukan permainan yang mengasyikkan sekaligus mengasah berpikir kreatif PMI. Permainan dapat dilakukan secara personal maupun berkelompok.

“Adapun sekilas tentang tujuan permainan Menara Hanoi untuk memindahkan tumpukan cakram ke tiang yang lain. Dengan beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam memainkan Menara Hanoi yaitu pertama hanya satu cakram yang boleh dipindahkan ke tiang lainnya. Lalu, kedua hanya cakram yany teratas yang boleh dipindahkan ke tiang lainnya. Kemudian ketiga, tidak boleh meletakkan cakram di atas cakram lain yang lebih kecil. Dan selanjutnya, pindahkan semua cakram hingga berpindah ke tiang lain,” jelasnya.

Mereka pun sangat antusias dan lebih tertarik dengan manipulatif Menara Hanoi dibanding permainan yang lainnya. “Sebagai panduan telah dibagi juga leaflet mencakup tiga jenis peraga untuk materi kebugaran mental dan fisik ini, yang juga dilengkapi dengan gambar dan barcode untuk mengakses video tutorial memudahkan dalam penggunaannya,” pungkasnya.(HS)

Wali Kota Semarang Ajak Investor Bangun PSEL Jatibarang

Resepsi Peringatan Hari Jadi Ke-420 Kabupaten Kendal Berlangsung Meriah