HALO SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko menyampaikan bahwa kesetaraan akses pendidikan belum sepenuhnya terwujud di provinsi ini. Ia menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga petani, buruh, dan nelayan masih menghadapi hambatan sistemik untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Baik karena faktor geografis, ekonomi, maupun keterbatasan kebijakan afirmatif.
“Kalau hari ini masih ada anak yang gagal sekolah hanya karena lahir di keluarga sederhana, itu artinya kita belum adil. Pendidikan itu hak, bukan privilese,” ujar Heri.
Menurut Heri, banyak anak dari keluarga pekerja informal dan sektor primer gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atau tinggi karena masalah biaya, lokasi sekolah yang jauh, dan tidak adanya dukungan beasiswa yang memadai. Hal ini memperkuat lingkaran kemiskinan antargenerasi di desa-desa dan kawasan pesisir.
“Jangan hanya ukur kesuksesan dari angka partisipasi. Lihat siapa yang masih tertinggal. Anak-anak di desa penghasil pangan atau nelayan tidak boleh terus-menerus berada di belakang,” katanya.

Heri mendorong pemerintah daerah untuk merancang kebijakan afirmatif pendidikan yang benar-benar menyasar kelompok rentan. Bukan hanya pemberian beasiswa, tetapi juga pembangunan sekolah di wilayah tertinggal, pengadaan transportasi pendidikan, dan penyediaan guru berkualitas di daerah pinggiran.
“Anak petani juga pantas punya akses ke SMA unggulan. Anak buruh juga layak punya guru terbaik. Itu hanya bisa dicapai kalau kebijakan kita berpihak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perlunya sistem pendataan yang lebih sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi siswa. Banyak anak dari keluarga miskin yang tidak terdeteksi dalam program bantuan pendidikan karena data yang tidak akurat atau mekanisme yang rumit.
“Jangan sampai mereka terhalang karena urusan administrasi. Negara harus jemput bola untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal,” jelasnya.
Heri memastikan DPRD Jawa Tengah akan terus mengawal program pendidikan agar lebih berpihak pada yang lemah dan tertinggal. Ia menegaskan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau pekerjaan orang tuanya, harus punya peluang yang sama untuk tumbuh dan maju.
“Kita tidak butuh generasi yang pintar karena lahir di kota. Kita butuh generasi yang tumbuh karena diberi kesempatan, dari mana pun asalnya,” pungkasnya.(HS)