in

Layanan TBC Gratis, Pemerintah Tegaskan Komitmen Lindungi SDM Indonesia

Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, berdialog dengan warga dalam rangkaian acara peluncuran program Gerakan Bersama Kelurahan Siaga TBC, di Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, baru-baru ini. (Foto : sehatnegeriku.kemkes.go.id)

 

 

HALO SEMARANG – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan komitmennya dalam mengatasi tuberkulosis (TBC), sebagai ancaman serius terhadap sumber daya manusia Indonesia.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI,  Dante Saksono Harbuwono, ketika meluncurkan program Gerakan Bersama Kelurahan Siaga TBC, di Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, baru-baru ini.

Dalam kesempatan itu Dante Saksono, mengapresiasi peran pemerintah daerah dan para kader kesehatan yang telah berhasil meningkatkan penemuan kasus secara signifikan di Kota Tangerang.

“Masalah TBC bukan hanya soal mengobati, tapi bagaimana menemukan kasus lebih awal, terutama pada mereka yang tidak bergejala. Ini butuh kerja bersama dari kementerian, dinas, hingga para kader di lapangan,” kata Dante, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, setelah India.

Setiap tahun, tercatat sekitar 1.090.000 kasus TBC dan lebih dari 125.000 kematian akibat penyakit ini. Angka ini setara dengan hilangnya satu kota kecil setiap tahunnya.

Dante juga menegaskan pentingnya peran kader TBC sebagai ujung tombak penanggulangan.

Mereka tidak hanya menemukan kasus dan mendampingi pasien, tetapi juga memastikan pengobatan dijalani hingga tuntas.

“Kader adalah pahlawan kesehatan. Mereka bekerja senyap, turun langsung ke masyarakat, dan tak jarang tanpa dukungan memadai. Saya senang di Kota Tangerang, para kader mulai mendapatkan insentif dan perlindungan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menghapus stigma terhadap penderita TBC. Setelah satu bulan pengobatan yang rutin, pasien tidak lagi menular.

Stigma yang ada justru membuat penderita enggan memeriksakan diri, sehingga memperburuk rantai penularan.

Perwakilan Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO), Hariqo Wibawa Saputra, menyatakan bahwa upaya ini sejalan dengan visi Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk melindungi dan memperkuat sumber daya manusia Indonesia.

“Setiap tahun, sekitar 125.000 saudara kita meninggal dunia karena TBC. Itu artinya, bangsa kita kehilangan sumber daya manusia dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan, jika dihitung per jam, lebih dari 15 orang meninggal akibat TBC,” ungkap Hariqo.

Ia menegaskan bahwa layanan deteksi dan pengobatan TBC tersedia secara gratis dan menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digulirkan pemerintah.

“Pemerintah telah menyiapkan semuanya, mulai dari skrining hingga pengobatan lengkap. Ini bagian dari PHTC untuk melindungi generasi Indonesia,” jelasnya.

PCO juga mengapresiasi para kader kesehatan yang bekerja secara sukarela mendampingi pasien hingga sembuh.

“Kami harap apa yang dilakukan Kota Tangerang bisa menjadi contoh untuk 514 kabupaten/kota lainnya. Pemerintah daerah harus lebih aktif memberikan penghargaan kepada kader,” tegas Hariqo.

Ia juga mengingatkan pentingnya akses terhadap informasi yang benar. “Informasi yang tepat bisa menyelamatkan, tapi informasi yang salah bisa menyakitkan dan memicu stigma. Ini tantangan besar kita hari ini,” tutupnya.

Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menyatakan bahwa keberhasilan kota dalam menekan kasus TBC merupakan hasil kerja kolaboratif multisektor yang berjenjang hingga tingkat kelurahan.

“Kami terus berinovasi memperluas akses layanan kesehatan dari tingkat primer hingga rujukan. Penanganan TBC tidak hanya menyangkut aspek kesehatan, tapi juga sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa Kota Tangerang memiliki 5 kasus TBC per 1.000 penduduk, dengan 21% kasus terjadi pada anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Meski begitu, capaian pengobatan di kota ini sangat baik: 92% pasien dinyatakan sembuh dan cakupan SPM TBC mencapai 100%.

Inovasi-inovasi seperti Ransel TBC (skrining mandiri oleh masyarakat), Asmara TBC (pendampingan pasien oleh kader hingga sembuh), serta intervensi seperti bedah rumah pasien TBC dan edukasi sekolah, menjadikan Kota Tangerang sebagai praktik baik di tingkat nasional.

“Kita tidak bekerja hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang bebas dari penyakit. Mari lanjutkan perjuangan ini agar Kota Tangerang menjadi kota yang lebih sehat, maju, dan sejahtera,” ujar Sachrudin.

Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, Kemenkes juga mendistribusikan Lembar Balik TBC, media visual bergambar, yang digunakan kader untuk menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami masyarakat. (HS-08)

Cerita Jemaah Haji ketika Saudia Airlines Dapat Ancaman Bom

Kemenkes dan Royal Philips Kerja Sama Perkuat Ketahanan Sistem Kesehatan