HALO SURABAYA – Dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas di jalan tol, emisi karbon yang dihasilkan dari energi fosil—sumber energi dominan di Indonesia—terus meningkat. Menanggapi isu lingkungan ini, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) melalui program Djarum Trees for Life (DTFL) sejak tahun 2010 telah memprakarsai gerakan penghijauan di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra melalui penanaman trembesi, yang dianggap esensial dalam pengurangan emisi karbon.
Berkaitan dengan inisiatif tersebut, BLDF menggelar diskusi sekaligus inagurasi penanaman trembesi bertajuk “Urgensi Pembangunan Berkelanjutan di Infrastruktur Jalan Tol.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 23 Oktober 2024, di Hotel Morazen, Surabaya, Jawa Timur.
Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation, Jemmy Chayadi, menjelaskan bahwa acara ini merupakan serah terima penanaman 25.194 trembesi untuk ditanam di sepanjang 267,77 km di lima ruas tol Trans Jawa. “Awalnya, BLDF fokus melaksanakan program penghijauan di wilayah Kudus, Jawa Tengah saja, karena itu adalah homebase kami. Namun, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, kami mulai melebarkan program penanaman pohon di banyak wilayah di Indonesia,” ungkap Jemmy.
Jemmy menambahkan, sejak 2010, pihaknya mulai bekerja sama dengan pengelola jalan tol, sebagai bentuk kontribusi swasta atas komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), sesuai rancangan Second Nationally Determined Contributions (NDC) 2031–2035.
“Banyak jalan tol yang masih gersang dan panas, dan kami berharap ke depannya, sinergi-sinergi multipihak ini semakin esensial dalam membantu capaian target pemerintah atas pengurangan emisi GRK secara bertahap. Ini tidak hanya membuat tampilan lebih indah, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan,” paparnya.
Akademisi dari Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan Ketua Umum APIKI (Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan) Network, Mahawan Karuniasa menyatakan, bahwa menanam pohon, khususnya trembesi, sangat penting untuk menyelamatkan kehidupan. Ia menjelaskan, ilmuwan iklim di seluruh dunia dihadapkan pada kenyataan pahit, alam, terutama hutan dan tanah, hampir tidak mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dalam jumlah signifikan.
“Dari penelitian terbaru, pohon-pohon lelah untuk melakukan fotosintetis. Dengan semakin banyaknya emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer, penyerapan karbon oleh alam seharusnya menjadi penyeimbang utama untuk menjaga stabilitas iklim,” paparnya.
Mahawan juga mengingatkan bahwa temuan awal riset tahun 2023 menunjukkan bahwa sistem alami seperti hutan dan lautan mulai kehilangan kemampuan untuk menyerap karbon dalam skala besar, yang memicu kekhawatiran baru terkait percepatan perubahan iklim. “Penurunan kemampuan alam untuk menyerap CO2 dapat memperburuk pemanasan global, sehingga aksi manusia untuk mengurangi emisi menjadi semakin mendesak,” tambahnya.
Sebagai tambahan, Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Unsur Pemangku Kepentingan, Sony Sulaksono Wibowo menyatakan apresiasinya terhadap upaya Bakti Lingkungan Djarum Foundation dalam melakukan penanaman pohon di ruas jalan tol. “Kami sangat mengapresiasi keterlibatan pihak swasta yang memiliki perhatian akan hal ini. Jika dilakukan oleh pengelola, ini akan menjadi investasi yang berharga dan tidak hanya untuk 267,77 km ini, tetapi juga untuk banyak ruas tol lainnya yang belum tersentuh. Total panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.893,02 kilometer,” ujarnya.
Dengan gerakan ini, Djarum Foundation tidak hanya berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon, tetapi juga berupaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan sehat bagi masyarakat. Inisiatif penghijauan ini diharapkan dapat menjadi model bagi program-program lingkungan lainnya di seluruh Indonesia serta mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.(HS)