in

103 Pernikahan Anak di Rembang Diasesmen, Faktor Ekonomi dan Hamil di Luar Nikah Jadi Penyebab Utama

Lokakarya terkait penanganan masalah pernikahan anak ini, di salah satu hotel di Jalan Pantura pada Selasa (13/8/2024).(Foto : Rembangkab.go.id)

 

HALO REMBANG – Faktor ekonomi dan hamil di luar nikah, menjadi penyebab utama pernikahan anak.

Hal tersebut terungkap dalam lokakarya, terkait penanganan masalah pernikahan anak, di salah satu hotel di Jalan Pantura, Selasa (13/8/2024).

Selain melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) dari lima desa juga turut berpartisipasi mewakili wilayah masing-masing.

Untuk diketahui, Kabupaten Rembang bersama Kota Pekalongan, menjadi salah satu percontohan penanganan kesejahteraan anak dan remaja di Jawa Tengah, dalam program yang didukung oleh UNICEF, bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten.

Program ini sudah terlaksana sejak Februari, dan direncanakan berlangsung hingga Agustus 2024.

Menurut data dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Rembang, terdapat 128 kasus pernikahan anak pada tahun 2023-2024.

Dari jumlah tersebut, 103 kasus telah diasesmen untuk menentukan kebutuhan layanan pasca nikah.

Kepala Dinsos PPKB Rembang, Prapto, menyampaikan bahwa asesmen dilakukan di 70 desa dari 14 kecamatan.

Hasilnya, diketahui faktor ekonomi dan kehamilan di luar nikah disebut sebagai penyebab utama tingginya angka pernikahan anak di Rembang.

“UNICEF bersama LPA Klaten melakukan verifikasi dan validasi di 14 kecamatan. Ada 103 kasus (pernikahan anak) yang telah diasesmen,” kata dia, seperti dirilis rembangkab.go.id.

Melalui lokakarya ini, diharapkan pernikahan anak dapat lebih terkendali dan kebutuhan layanan pasca nikah terpenuhi, baik dari OPD maupun desa.

“Kami memberikan pemahaman dan edukasi kepada KPAD dan OPD terkait, sehingga mereka dapat berkolaborasi dalam menangani kasus pernikahan anak di desa masing-masing,” tambahnya.

Musripah, perwakilan KPAD Desa Babagan, Kecamatan Lasem, menjelaskan bahwa hasil lokakarya menekankan pentingnya pengawasan kesehatan ibu dan bayi serta kondisi ekonomi keluarga.

Jika ekonomi belum mencukupi, pasangan muda tersebut akan diberi pelatihan keterampilan sesuai keahlian yang dimiliki.

“Dari lokakarya, keahlian yang dimiliki anak, seperti merias atau memasak, akan dibina melalui pelatihan agar ekonomi keluarga dapat berlanjut,” kata dia. (HS-08)

Ganggu Perjalanan, Pembuang Sampah di Jalur KA Terancam Pidana

BPBD Rembang Mulai Distribusikan Bantuan Air Bersih ke Desa Terdampak Kekeringan