in

Dikenal Sebagai Tokoh Pendiri Kota Semarang, Begini Sejarah dan Silsilah Ki Ageng Pandanaran

Sejumlah peziarah berdoa dan mengganti klambu penutup pusara tokoh pendiri Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran I di Jalan Mugas Dalam II, Kelurahan Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang, Sabtu (28/7/2024).

AWAL berdirinya Kota Semarang tak lepas dari babat alas yang dilakukan oleh satu tokoh penting, yakni Ki Ageng Pandanaran. Bermula saat sosok Ki Ageng Pandanaran yang juga sebagai tokoh agama Islam ini, menempati wilayah yang dulunya bertempat di Pulau Tirang atau Tirang Ngampar yang kini menjadi Mugas sekira abad 16.

Untuk mengenang jasa dan perjuangannya sekaligus untuk menguri-nguri tradisi, tiap tahunnya digelar Haul Ki Ageng Pandanaran, yakni pada 17 Muharram karena pada tanggal wafatnya. Tahun ini, Pemerintah Kota Semarang memperingati acara Haul yang ke-522, sekaligus dilaksanakan penggantian klambu makam Ki Ageng Pandanaran pada Sabtu (27/4/2024) dan dipimpin Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu hadir bersama beberapa kepala OPD, antara lain Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Wing Wiyarso, Kadis Ketahanan Pangan Endang Sarwiningsih Setyo Wulan, dan juru kunci makam yang berlokasi di Komplek Makam Ki Ageng Pandanaran di Jalan Mugas Dalam II/4, Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang. Di hari yang sama, juga digelar kegiatan Festival Ki Ageng Pandanaran bertempat di Kawasan Kota Lama.

Sejarah dan Silsilah

Mengenai sejarah dan silsilah Ki Ageng Pandanaran, memang terdapat banyak versi. Ada versi yang mengatakan, dia adalah putra dari Pati Unus/Panembahan Sabrang Lor (sultan kedua Kesultanan Demak) yang merupakan Keturunan Raja Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Dia menolak tahta karena lebih memilih mendalami spiritualitas. Hal ini seperti yang digambarkan silsilahnya di salah satu sudut ruang pendopo makam tersebut.

Lalu pendapat lain, ada yang mengatakan Ki Ageng Pandanaran merupakan saudagar asing, entah dari Arab, Persia, atau Turki yang meminta izin Sultan Demak kala itu untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam di daerah Pragota, kini bernama wilayah Bergota, di Kota Semarang.

Versi lain, Sunan Pandanaran I adalah Sayyid Abdul Qodir yang lahir di Pasai. Di mana Pasai adalah menunjuk pada nama sebuah kerajaan Islam di daerah Sumatera, yakni Darussalam yang saat ini bernama Aceh.

Sayyid Abdul Qodir putra Maulana Ishaq, beliau diangkat dengan arahan Sunan Giri untuk menjadi Bupati Semarang yang pertama, dan bergelar Sunan Pandan Arang. Beliau lantas berkedudukan di Pragota yang sekarang tempat itu bernama Bergota, di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan.

Menurut juru kunci Makam Ki Ageng Pandanaran I (Sunan Pandanaran), Agus Krisdiyono, Ki Ageng Pandanaran memiliki istri bernama Nyi Ageng Sejanila/Endang Sejanila (dimakamkan di Mugas Dalam II Semarang).

Dari pernikahannya, dia dikaruniai enam orang putra, yaitu, Pangeran Kasepuhan/Pandanaran II (Sunan Tembayat) dimakamkan di Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Pangeran Kanoman/Pandanaran III (Pangeran Mangkubumi) dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta, Nyi Ngilir (Nyai Arang) dimakamkan di Mugas atas Semarang, Pangeran Wotgalih dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta, Pangeran Bojong di makamkan di Semarang, Pangeran Sumedi di makamkan di Tembayat.

Dikatakan, Agus Krisdiyono, Ki Ageng Pandanaran pernah berguru ke Sunan Bonang, lalu kembali ke Demak. Dan di Demak, dia diperintahkan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Tirang yang waktu itu dikuasai oleh Pendeta Pragota yang beragama Hindu. Pendeta Pragota suatu hari mengadakan sayembara kepada penduduk, bahwa siapa saja yang bisa mengalahkan dia, maka akan diberi hadiah yakni putrinya sendiri yang bernama Sejanila.

Mengetahui hal ini, lalu Ki Ageng Pandanaran ikut sayembara. Setelah sampai pada waktu yang telah disepakati, mereka bertemu di sebuah tempat yang dinamakan Bukit Brintik yang sekarang berada di wilayah Bergota. Dalam pertarungan tersebut, akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil mengalahkan Pendeta Pragota yang dikenal kuat dan akhirnya menikahi putri Sejanila.

“Setelah menjadi pemimpin di desa yang kemudian berkembang menjadi kawedanan, sehingga pada waktu itu dia (Ki Ageng Pandanaran-red) minta izin ke Demak untuk memimpin wilayah tersebut. Karena daerah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Menanggapi keinginan tersebut, Demak mengizinkan dan yang diangkat sebagai bupati adalah anak Sunan Pandanaran, yakni Pangeran Pandanaran II atau Sunan Bayat,” jelasnya, baru-baru ini.

Ziarah

Adapun di area makam, setiap harinya terdapat beberapa orang peziarah yang sedang berdoa di sekitar pusara makam. Dalam kompleks pemakaman Ki Ageng Pandanaran memang ada tiga makam utama. Yaitu, makam Ki Ageng Pandanaran yang ada di tengah, lalu sebelahnya adalah makam orang tuanya yaitu Pangeran Madiyo Pandan yang bergelar Syech Maulana Ibnu Abdul Salam, serta makam istrinya, yaitu Nyi Ageng Sejanila.

Untuk masuk ke dalam ruang utama ini, peziarah lebih dulu harus melewati pendopo, di mana tempat ini biasanya digunakan untuk pertemuan atau pengajian. Dan di antara dua ruang tersebut, ada ruang sempit seperti lorong yang biasanya dipakai bagi peziarah yang ingin berdoa lebih lama sampai menginap.

Dalam pendopo, peziarah dan pengunjung bisa melihat tulisan silsilah Ki Ageng Pandanaran serta terpasang lukisan sosok Ki Ageng Pandanaran. Sedangkan asal peziarah, tak hanya dari Jawa, namun sampai dari luar Pulau Jawa, seperti Lombok, Sumatera, dan daerah lainnya.

“Banyak yang ziarah ke sini, tidak hanya dari orang yang beraga Islam, tapi dari agama lain, seperti penganut kejawen, Konghuchu, Katolik dan Hindu. Mereka punya tata cara dan punya tujuan yang bermacam-macam. Biasanya para pedagang juga banyak datang untuk ziarah dengan tujuan mencari kembang lesehan atau kembang yang sudah layu di dalam pusara, yang dipercaya bisa untuk pelaris usaha. Ada juga pejabat yang ingin kariernya tambah sukses juga datang untuk berdoa di sini,” tambahnya.

Termasuk, kata Aris, ada juga pejabat-pejabat di Kabupaten Semarang karena dulu Kabupaten dan Kota Semarang satu wilayah yang datang berziarah di sini. “Apalagi jelang Pilkada, beberapa kandidat juga datang ke sini untuk ziarah,” pungkasnya.(HS)

Dari OPD hingga Atlet Berprestasi Hadiri Paripurna DPRD ‘Hari Jadi Ke-419 Kabupaten Kendal’

Pemkot Semarang Susun Perwal Penyelenggaraan Pariwisata Berkualitas