HALO BATANG – Petugas kesehatan perlu terus menggencarkan edukasi seputar pencegahan penyebaran thalasemia, dengan memanfaatkan ruang-ruang publik hingga fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes).
Ruang-ruang publik menjadi media paling tepat, karena pesan akan langsung diterima oleh masyarakat.
Dokter Spesialis Anak, Tan Evi Susanti mengatakan saat ini jumlah penyintas thalassemia mencapai 41 orang, terdiri atas 26 penyintas usia anak dan 15 penyintas usia dewasa.
“Dari informasi terbaru, ternyata ada 1 penyintas lagi dan ini jadi perhatian kami, supaya tidak terjadi peningkatan jumlah lagi,” katanya, di klinik perawatan anak, RSUD Batang, Kabupaten Batang, Kamis (30/5/2024).
Berdasarkan data, dari 41 penyintas, mayoritas berasal dari Kecamatan Bandar.
Maka dari itu, besar kemungkinan dalam waktu dekat, Persatuan Orang Tua Penderita thalasemia (Popti) akan menggelar sosialisasi langsung menyasar wilayah tersebut.
“Sosialisasi kami gencarkan khususnya untuk mereka yang termasuk usia produktif. Mengingat di sana merupakan daerah dengan penyintas terbanyak,” ujar dia.
Intens
Sebelumnya Popti Batang intens menyosialisasikan pentingnya pencegahan terhadap penyebaran thalasemia.
Para anggota Popti memanfaatkan hari bebas kendaraan bermotor, untuk membagikan balon sebagai simbol ucapan terima kasih kepada para pendonor, yang peduli terhadap kelangsungan hidup penderita thalasemia.
Ketua Popti Batang, Netty Wijayanti mengakui, masih banyaknya orang yang belum mengenal dan memahami dengan baik mengenai thalasemia.
Maka dari itu, seluruh anggota Popti terjun langsung ke masyarakat yang sedang menghabiskan akhir pekannya di hari bebas kendaraan bermotor.
“Masih banyak yang belum paham, bahkan kurang peduli, padahal thalasemia itu perlu diminimalisir bahkan diputus penyebarannya, dengan melakukan cek darah dulu sebelum menikah,” katanya, saat menyosialisasikan pencegahan thalasemia, di Alun-alun Batang, Kabupaten Batang, Minggu (19/5/2024).
Ia sangat mengapresiasi pada Dinas Kesehatan, PMI dan RSUD Batang yang telah mengupayakan ketersediaan komponen darah leucodepleted, yang menimbulkan reaksi lebih rendah 38 persen daripada non-leucodepleted yang mencapai 62 persen.
“Dibandingkan kota tetangga, Batang jauh lebih siap dalam memenuhi kecukupan stok komponen darah leucodepleted, yang sangat membantu para penderita thalasemia,” ungkapnya. (HS-08)