USAHA makanan ringan atau cemilan memiliki peluang yang menjanjikan. Seperti yang digeluti salah satunya oleh pelaku UMKM cemilan asal Tangerang, Heni. Sejak mulai menjual produknya pada tahun 2020, kini ia sukses dalam sebulan produksinya bisa mencapai 1000 kantong keripik.
Sebelumnya Heni mengaku hanya memproduksi 100 kantong keripik, karena keterbatasan modal produksi. Namun, setelah memperoleh akses pembiayaan program UMi dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP), saat ini usahanya yang bernama Cemilan Erildya telah mampu memasarkan produknya lebih luas dan melayani lebih banyak pelanggan.
“Saya awalnya pinjam sebesar Rp 2 juta di koperasi syariah AKR, lalu selesai ditop up lagi sebesar Rp 5 juta. Jadi cicilannya sebesar 600 ribu per bulan,” jelasnya, baru-baru ini.
Selain dapat pinjaman modal usaha, manfaat yang dirasakannya juga pasar menjadi makin luas.
“Alhamdulillah produk terkenal ke mana-mana, modal dari PIP, selain itu juga ada pendampingan, lalu tiap ada event PIP saya ikut diajak,” imbuhnya.
Sebelumnya hanya satu produk keripik yang dipasarkan, namun saat ini berkembang menjadi tiga produk.
“Produk keripik tempe umpet, sebring kriukk, dan keripik kriwil. Dulu sebulan produksi 100 pices, dengan modal Rp 500 ribu, sekarang bisa produksi capai 1000 pices/kantong,” paparnya.
“Awalnya bingung mau usaha apa setelah suami pensiun. Apalagi saat itu abis pandemi, kemudian usaha kripik ini yang saya geluti untuk cari peluang dan bantu ekonomi keluarga,” sambungnya.
Produknya kini eksis di marketplace, dengan harga Rp 15-20 ribu per pices.
“Pemasarannya masih di sekitaran Jabodetabek, dan paling laku jenis keripik tempe umpet, mudah-mudahan ke depannya bisa melayani pelanggan sampai seluruh Indonesia. Biasanya permintaan cemilan kripik bakal meningkat drastis saat mendekati lebaran dan hari besar keagamaan, karena banyak yang pesen untuk momen lebaran,” pungkasnya. (HS-06)