HALO SEMARANG – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Tengah, menggelar Workshop Jurnalistik Wartawan Olahraga, Minggu-Senin (13-14/11/2022). Workshop diikuti Bidang Media dan Humas KONI dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, yang dilaksanakan di Hotel Dafam Semarang.
Panitia Pelaksana, Darjo Soyat dalam laporannya mengatakan, didasari atas kemajuan teknologi informasi, KONI sebagai lembaga formal, berupaya untuk memberikan informasi kegiatan olahraga kepada masyarakat.
“Untuk itulah KONI Jawa Tengah menyelenggarakan workshop jurnalistik wartawan olahraga, kepada para bidang media dan humas dari kabupaten atau kota se-Jawa Tengah,” ujarnya.
Darjo menambahkan, dalam kegiatan workshop dilaksanakan dalam empat sesi, dengan menghadirkan nara sumber Wakil Ketua Umum V KONI Jateng, Sudarsono, Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS, Ketua SIWO PWI Pusat sekaligus Bidang Media dan Humas KONI Pusat, Gungde Ariwangsa, dan Pakar Ilmu Komunikasi FISIP Undip Semarang, Turnomo Rahardjo.
“Semoga acara berjalan lancar dan bisa bermanfaat dalam memberikan wawasan dan menambah ilmu para wartawan olahraga, yang berada di bidang media dan humas KONI kabupaten dan kota se-Jawa Tengah,” imbuhnya.
Kemudian acara workshop dibuka oleh Wakil Ketua Umum V KONI Jateng, Sudarsono, mewakili Plt Ketua Umum KONI Jateng, Bambang Rahardjo Munadjat, dilanjutkan dengan workshop sesi pertama dipandu oleh moderator Ahmad Ris Ediyanto atau lebih dikenal dengan Ade Oesman.
Dalam pemaparan materi workshop sesi satu, Wakil Ketua Umum V KONI Jateng, Sudarsono mengatakan, KONI Jateng menyadari kebutuhan informasi khalayak akan kegiatan atau event olahraga.
“Informasi terkait event atau kejuaraan sangat dibutuhkan masyarakat. Karena dengan informasi, masyarakat di suatu daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota bisa mengetahui perkembangan olahraga di daerahnya,” terangnya.
Namun, Sudarsono lebih menyoroti terkait kurangnya kritik wartawan terhadap kegiatan olahraga yang diikuti dan diadakan oleh para atlet dari daerahnya.
“Sekarang ini yang banyak informasi yang disajikan berbagai media hanya tentang kemenangan dan prestasi yang diraih oleh para atlet. Namun jarang yang memberitakan dan menjadi headline kegagalan atlet daerahnya dalam suatu pertandingan,” ujarnya.
Padahal menurut Sudarsono, para wartawan seharusnya bisa memasukkan kritik yang membangun, yang bisa memotivasi para atlet dari cabang olahraga untuk meraih prestasi. “Di samping memberitakan terkait prestasi dan kemenangan yang diraih, wartawan juga harus menulis terkait kegagalan atlet saat melakoni kejuaraan. Karena ini bisa sebagai cambuk dan motivasi para atlet,” tandasnya.
“Jadi tetap mengedepankan idealisme, dengan mengambil posisi yang positif. Karena dengan kritik, yang bertujuan untuk memajukan olahraga,” imbuh Sudarsono.(HS)