in

Usung Konsep “Kampung Joglo”, Dekranasda Jateng Siap Boyong Produk Unggulan ke HUT Dekranas di Makassar

Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin saat meninjau stand UMKM asal Jateng di sebuah acara pameran UMKM belum lama ini.

HALO SEMARANG – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah siap membawa kekuatan produk UMKM dan kerajinan unggulan daerah dalam peringatan HUT ke-46 Dekranas yang akan digelar di Trans Studio Mall, Makassar, Sulawesi Selatan, pada 9-12 Juli 2026.

Sebanyak 12 stan akan disiapkan dalam satu Paviliun Jawa Tengah yang menampilkan beragam produk khas dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Mulai dari batik, bordir, kerajinan tangan, hingga produk kreatif unggulan lainnya akan dipamerkan untuk memperluas pasar nasional.

Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin mengatakan, Paviliun Jawa Tengah akan menjadi pusat promosi produk-produk kerajinan terbaik dari berbagai daerah di Jateng.

“Dari 12 stan ini akan menjadi satu sentral, menjadi Paviliun Jawa Tengah. Di sini nanti ada keterwakilan produk dari 35 kabupaten/kota, termasuk hadir juga dari BI, Bank Jateng, dan 10 Dekranasda kabupaten/kota,” ujar Nawal usai Rapat Koordinasi Rangkaian Acara HUT Dekranas di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, ajang expo tersebut menjadi peluang besar bagi pelaku UMKM dan pengrajin untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan produk lokal ke tingkat nasional.

Sejumlah daerah telah menyiapkan produk andalan masing-masing. Mulai dari batik khas Sragen, bordir Kudus, hingga produk kreatif lain yang dinilai memiliki daya saing tinggi.

“Potensi-potensi ini kita kurasi. Yang belum terakomodir tadi juga saya minta untuk diakomodir, seperti sepatu rajut dari Magelang yang menurut saya layak dibawa ke Makassar,” katanya.

Nawal optimistis, keikutsertaan Jawa Tengah dalam expo tersebut mampu membuka pasar baru bagi para pengrajin, sejalan dengan semangat penguatan UMKM yang digaungkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan yang kerap muncul setelah permintaan pasar meningkat, yakni kemampuan pengrajin menjaga kualitas dan kuantitas produksi.

“Semakin banyak pesanan, kadang pengrajin tidak mampu memenuhi kuantitas. Ini yang harus didampingi setelah expo,” ungkapnya.

Untuk itu, Dekranasda Jawa Tengah bersama Bank Indonesia juga akan melakukan monitoring terhadap transaksi dan tindak lanjut hubungan dengan pembeli, agar peluang pasar yang terbuka dapat berkembang menjadi pelanggan tetap bagi para pengrajin.

Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, produk-produk UMKM Jawa Tengah mendapat sambutan positif dengan tingkat penjualan yang tinggi. Bahkan pada ajang serupa tahun 2025, total transaksi penjualan tercatat mencapai Rp926.738.490.

“Kesempatan ini jangan disia-siakan. Biasanya kita pulang barang sudah habis, karena daya beli di sana tinggi,” ujar Nawal.

Ia juga mengapresiasi semangat kebersamaan kabupaten/kota di Jawa Tengah yang memilih bergabung dalam Paviliun Dekranasda Jawa Tengah, meski sebenarnya memiliki potensi untuk membuka stan mandiri.

“Ini bentuk keguyuban Jawa Tengah. Produk-produk kabupaten/kota kita luar biasa dan sebenarnya sangat mungkin untuk tampil sendiri,” bebernya.

Adapun Paviliun Jawa Tengah nantinya akan mengusung konsep “Kampung Joglo” yang menghadirkan nuansa khas budaya Jawa Tengah. Tidak hanya produk kerajinan, setiap stan juga akan menyajikan kudapan dan minuman khas daerah untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada para pengunjung.(HS)

Komitmen Bank Jateng Dorong UMKM Naik Kelas: Kisah Sukses Mamnich Angkat Potensi Lokal ke Pasar Modern