in

WHO Minta Negara Anggota Tak Abaikan Cacar Monyet, Indonesia Sebut Belum Ada Laporan

 

HALO SEMARANG – Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta negara-negara anggota organisasi kesehatan dunia tersebut, tidak mengabaikan cacar monyet atau monkeypox.

Sementara Kementarian Kesehatan RI, menyatakan akan mewaspadai, walaupun  belum ada laporan mengenai masuknya penyakit tersebut ke Indonesia.

Menurut Tedros Adhanom Ghebreyesus, penyebaran penyakit cacar monyet di negara-negara non-endemik dan endemik tidak dapat diabaikan.

Cluster misterius pertama muncul di Inggris lebih dari enam minggu yang lalu, ketika WHO mendapat laporan tentang cluster keluarga dari tiga kasus, tanpa perjalanan baru-baru ini telah terjadi.

“Sejak itu, lebih dari 3.200 kasus monkeypox yang dikonfirmasi , dan satu kematian, telah dilaporkan ke WHO, dari 48 negara termasuk Nigeria, dan di lima wilayah WHO,” kata Tedros, seperti dirilis laman resmi PBB, news.un.org.

Dia mengatakan penularan dari orang ke orang sedang berlangsung, tetapi ada kemungkinan diremehkan.

“Di Nigeria, proporsi wanita yang terkena jauh lebih tinggi daripada di tempat lain, dan sangat penting untuk lebih memahami bagaimana penyakit itu menyebar di sana,” kata dia.

Tedros juga mengatakan, sepanjang tahun ini, hampir 1.500 kasus dugaan cacar monyet dan sekitar 70 kematian telah dilaporkan di Afrika Tengah, terutama di Republik Demokratik Kongo (DRC), Republik Afrika Tengah, dan Kamerun.

“Beberapa dari kasus ini dikonfirmasi, dan sedikit yang diketahui tentang keadaan mereka. Sementara epidemiologi dan clade virus dalam kasus ini mungkin berbeda, itu adalah situasi yang tidak dapat diabaikan,” kata dia.

Dia meminta agar negara-negara anggota dapat berbagi informasi mengenai kasus-kasus monkeypox di negara mereka, sebagai upaya untuk menangani penyakit ini.

“Kita kadang-kadang melihat konsekuensi dari negara-negara yang tidak transparan, tidak berbagi informasi.”

Dia menyerukan penemuan kasus, pelacakan kontak, penyelidikan laboratorium, pengurutan genom, dan penerapan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi.

WHO juga membutuhkan definisi kasus yang jelas, untuk membantu mengidentifikasi dan melaporkan infeksi.

Tedros mengatakan semua negara harus tetap waspada dan memperkuat kapasitas mereka, untuk mencegah penularan Monkeypox.

“Kemungkinan banyak negara akan kehilangan kesempatan, untuk mengidentifikasi kasus , termasuk kasus di masyarakat tanpa melakukan perjalanan baru-baru ini,” kata dia.

Tujuan WHO adalah untuk mendukung negara-negara untuk mencegah penularan, dan menghentikan wabah dengan alat kesehatan masyarakat yang mapan termasuk pengawasan, pelacakan kontak, dan isolasi pasien yang terinfeksi.

Risiko

Tedros mengatakan ada juga “beberapa risiko bagi petugas kesehatan, jika mereka tidak mengenakan alat pelindung diri yang sesuai.

“Kami telah belajar banyak dari wabah baru-baru ini, termasuk Covid-19 dan epidemi HIV global,” katanya kepada para ilmuwan yang berkumpul.

Dia menekankan bahwa yang paling penting, adalah bekerja sama dengan komunitas tersebut, untuk bersama-sama menciptakan komunikasi risiko yang efektif.

Tedros mengatakan sangat penting pula untuk mengatasi stigma, diskriminasi dan informasi yang salah, termasuk yang berkaitan dengan monkeypox dan wabah lainnya, secara cepat dan tegas.

“Kita juga perlu bekerja sama sebagai komunitas internasional untuk menghasilkan data kemanjuran dan keamanan klinis yang diperlukan tentang vaksin dan terapi terhadap Monkeypox, dan untuk memastikan distribusi yang adil,” tandasnya.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dokter Mohammad Syahril, SpPMPH, mengatakan belum ada laporan mengenai monkeypox di Indonesia untuk saat ini.

Namun demikian Pemerintah telah menyiapkan dua laboratorium, untuk mendeteksi dini, yaitu Laboratorium Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB Bogor, dan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof Sri Oemiyati, BKPK, Jakarta. (HS-08)

Ambulans Kemenkes Indonesia dapat Izin Operasional dari Arab Saudi

Kemenkes : Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri