HALO KENDAL – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kendal, Wynne Frederica merasa bersyukur angka stunting di Kendal mengalami penurunan. Hal tersebut juga telah ia sampaikan saat bertatap muka dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Selasa (21/2/2023).
“Alhamdulillah angka stunting di Kabupaten Kendal mengalami penurunan, dan tadi saya habis bertemu dengan pak Ganjar, beliau menyampaikan jika Kendal bukan salah satu yang masuk dalam sepuluh besar yang benar-benar perlu difokuskan stuntingnya dan tingkat kemiskinan ekstrem,” ujar Chacha, usai menjadi pembicara dalam acara Rakor Tim Percepatan Penurunan Stunting.
Namun lanjut Chacha, sapaan akrab istri Bupati Kendal tersebut, bukan berarti membuat nyaman atau santai Tim Percepatan Penurunan Stunting, tapi harus tetap dituntaskan semaksimal mungkin.
“Paling nggak poinnya udah lebih naik nih. Tapi harus jalan terus, maju terus, supaya bisa maksimal kualitas kehidupan masyarakat di Kabupaten Kendal,” ungkapnya.
Sementara terkait peran serta TP PKK Kendal dalam penurunan angka kemiskinan, Chacha hanya menjawab, hal tersebut sudah dikoordinasikan dengan TP PKK se-kabupaten/kota di Jawa Tengah, bersama Ketua TP PKK Jateng, Atikoh Ganjar Pranowo dan Gubernur.
“Pesan ibu Atikoh, kita harus tetap fokus kepada program penurunan angka kemiskinan, melalui edukasi kepada para kepala desa, tentang miskin ekstrem itu apa. Karena faktanya, banyak ditemukan data-data yang kurang valid. Mungkin merasa malu data-datanya masuk dalam katagori miskin. Lha pesan pak Ganjar tidak boleh ditutup-tutupi,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kendal, dr Abidin menjelaskan, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan pemerintah tiap tahun, di tahun 2021 sebesar 20 persen, menjadi 17 persen lebih di tahun 2022.
“Berdasarkan data riil yang diukur melalui elektonik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) penurunan mencapai 11,4 persen atau sebanyak 6.413, dari jumlah sebelumnya sebanyak 7.892. Itu dari total jumlah balita di Kendal sebanyak 97.000-an,” bebernya.
Sedangkan Kepala DP2KBP2PA Kendal, Albertus Hendri Setyawan mengatakan, apa yang telah dilakukan beberapa kecamatan dengan inovasi-inovasi bisa terus berjalan. Baik melalui desa maupun melalui puskesmas terus berlanjut, supaya di lain desa bisa memunculkan inovasi dalam percepatan penurunan stunting.
“Kondisi saat ini, prevalensi stunting di Kabupaten Kendal tahun 2022 sebesar 17,5 persen. Ini akan kita dorong, supaya bisa memenuhi prevalensi yang ditargetkan nasional di tahun 2024 sebesar 14 persen. Jadi masih ada selisih 3,5 persen, yang harus kita turunkan,” terangnya.
Hendri mengaku optimis, pihaknya mampu mencapai, karena masih ada dua tahun waktu untuk menurunkan stunting, termasuk mendorong peran serta dunia usaha melalui program CSR, juga peran serta dari organisasi masyarakat melalui program-programnya.
“Bisa melalui dharma wanita, PKK, organisasi perempuan, perguruan tinggi melalui program pendampingan masyarakat atau program KKN juga bisa dilibatkan. Kemudian dari Baznas juga selama ini sudah membantu kami, dalam penanganan stunting melalui pemberian makanan tambahan (PMT),” bebernya.
“Selain itu, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang telah memberikan bantuan berupa pemeriksaan balita penderita stunting, juga menjadi bapak asuh atau dokter asuh. Karena kalau kita adopsi, bapak asuh ini bisa menjadi gerakan bagi kita yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kendal,” imbuh Hendri.
Karena menurutnya, selaku ASN, harus mempunyai gerakan ini. Sehingga balita-balita stunting yang tersebar di berbagai daerah di Kendal bisa dientaskan.
“Ya memang di 20 kecamatan ada penderita stunting dan itu harus kita turunkan secara bertahap. Yang terbanyak di daerah Kendal bagian atas. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya angka stunting di sana,” pungkas Hendri. (HS-06)