in

Antisipasi Erupsi Gunung Slamet, Bupati Pemalang Tekankan Simulasi Evakuasi Siang dan Malam

Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, memimpin audiensi kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Slamet, di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, baru-baru ini. (Foto : pemalangkab.go.id)

 

HALO PEMALANG – Bupati Pemalang Anom Widiyantoro menekankan pentingnya simulasi evakuasi, baik pada siang maupun malam hari, guna mengantisipasi erupsi Gunung Api Slamet, yang saat ini berstatus Level II atau Waspada.

Hal itu disampaikan Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, saat memimpin audiensi kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Slamet, di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, baru-baru ini.

Dalam audiensi tersebut, Bupati menekankan pentingnya simulasi evakuasi secara matang

Bupati juga meminta seluruh pihak, khususnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pemalang, untuk menyiapkan skenario evakuasi dalam berbagai kondisi, baik saat siang maupun malam hari.

Menurutnya, masyarakat harus mendapatkan arahan yang jelas agar tidak panik dan bergerak tanpa tujuan ketika situasi darurat terjadi.

“Harus ada simulasi pada saat kejadian siang hari dan malam hari. Jalur-jalur mana yang boleh dimasuki harus disimulasikan, karena masyarakat biasanya cenderung berjalan dengan alur pikirannya sendiri jika tidak ada yang memandu,” ujar Anom, seperti dirilis pemalangkab.go.id.

Ia juga mengusulkan adanya penanda visual seperti simbol, warna, maupun bendera di titik-titik tertentu sebagai petunjuk arah evakuasi. Langkah tersebut dinilai penting agar warga dapat segera bergerak menuju lokasi aman tanpa kebingungan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Agus Ikmaludin, melaporkan adanya peningkatan aktivitas di kawasan Gunung Slamet. Berdasarkan penetapan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada 14 April 2026, radius aman aktivitas masyarakat diperluas dari 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah.

Menurut Agus, BPBD telah melakukan sejumlah langkah mitigasi, seperti sosialisasi bersama PVMBG pusat wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta pemetaan dan pengusulan jalur-jalur evakuasi alternatif jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

“Walaupun sudah 12 tahun tidak ada aktivitas signifikan, mitigasi harus tetap dilakukan. Kita semua berharap tidak terjadi apa-apa, tetapi kesiapsiagaan harus disiapkan,” katanya.

Koordinator Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Desa Gambuhan, Muhammad Rusdi, menjelaskan kondisi terkini Gunung Slamet masih berada di status Level II (Waspada). Pos pengamatan tersebut memantau wilayah yang mencakup Kabupaten Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala UPJI Wilayah III Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pemalang, Yudhi Kuswoyo, memaparkan kesiapan jalur infrastruktur untuk evakuasi. Ia menyebut seluruh jalur, baik jalan kabupaten maupun jalan desa, dapat digunakan pada 30 menit pertama saat kondisi darurat.

Namun setelah itu, hanya jalur tertentu yang direkomendasikan untuk digunakan agar para pengungsi tidak melintasi sungai atau jalur merah yang berisiko terdampak aliran material vulkanik.

Audiensi ini diikuti Asisten I dan II Sekda Pemalang, sejumlah kepala OPD, serta para kepala desa se-Kecamatan Pulosari sebagai upaya memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi Gunung Slamet. (HS-08)

 

 

ASN Kota Tegal Antusias Donor Darah Peringati Hardiknas 2026

Polrestabes Semarang Siagakan Ribuan Personel Amankan Aksi May Day, Apel Digelar di Kantor Gubernur Jateng dan Balai Kota