HALO BATANG – Pengelola PLTU Batang, PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), menghadirkan inovasi pemanfaatan fly ash – bottom ash (FABA) dalam bidang konstruksi, pada para pengunjung Festival Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Kamis (30/4/2026).
Melalui stand khusus, BPI memperkenalkan FABA sebagai material alternatif yang mendukung konstruksi berkelanjutan, sekaligus menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah ramah lingkungan.
External Relation Manager PT BPI Batang Bagus Dona Doni menjelaskan, FABA merupakan material sisa hasil pembakaran batu bara, di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dapat dimanfaatkan kembali.
“Fly ash adalah partikel halus yang terbawa gas buang dan ditangkap melalui sistem pengendalian emisi, sedangkan bottom ash merupakan abu kasar yang mengendap di dasar ruang pembakaran. Keduanya memiliki potensi besar sebagai bahan baku konstruksi,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.
Ia menambahkan, fly ash mengandung silika, alumina, dan mineral lain yang bermanfaat, serta dikelola melalui sistem tertutup dan disimpan dalam silo berkapasitas besar.
Sementara bottom ash memiliki karakteristik granular yang juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pembangunan.
“Selain untuk konstruksi, FABA juga dimanfaatkan dalam pengembangan ekosistem laut melalui pembuatan struktur Artificial Fish Apartment (AFA) dan Artificial Patch Reef (APR),” terangnya.
Struktur tersebut berupa terumbu buatan berbahan beton ramah lingkungan yang dirancang menyerupai habitat alami ikan, sehingga dapat menjadi tempat berlindung, berkembang biak, sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati laut.
“Program ini sudah kami mulai sejak 2020 dan berlanjut hingga sekarang. AFA dan APR telah dipasang di kawasan Karang Sebapang dan Karang Mahesa,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi struktur yang dipasang di laut masih dalam kondisi baik, dengan pertumbuhan karang yang dinilai optimal. Bahkan, kawasan tersebut mulai menjadi habitat berbagai jenis ikan.
“Informasi dari nelayan, di area tersebut sudah ditemukan hiu paus, lumba-lumba, dan beberapa jenis hiu yang mulai datang dan beraktivitas di sekitar struktur,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan, pada tahun 2026, BPI berencana menambah hingga 10 unit AFA dan APR dengan desain yang diperkuat, bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program.
“Ke depan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya bagi kelestarian lingkungan laut, tetapi juga bagi peningkatan hasil tangkapan nelayan melalui efek spillover dari habitat yang terbentuk,” ujar dia.
Ketika ekosistemnya terjaga, ikan akan berkembang dan pada akhirnya dapat meningkatkan sumber daya perikanan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Melalui inovasi ini, BPI menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Batang, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial,” kata dia. (HS-08)


