in

Tokoh Lintas Agama Ajak Rawat Harmoni untuk Kesejahteraan Bangsa

Suasana Dialog Kerukunan Lintas Umat Beragama, yang digelar Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) di Aula HM Rasjidi, Jakarta, baru-baru ini. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Tokoh lintas agama di Indonesia, kembali menegaskan bahwa jalan paling kokoh untuk menjaga masa depan bangsa, adalah merawat harmoni dalam keberagaman.

Pesan ini mengemuka dalam Dialog Kerukunan Lintas Umat Beragama yang digelar Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) di Aula HM Rasjidi, Jakarta, baru-baru ini.

Dialog ini dihadiri lebih dari 350 peserta dari berbagai agama dan kalangan. Forum ini menjadi wadah strategis tokoh lintas agama menyuarakan pentingnya merawat harmoni sebagai fondasi bangsa yang damai dan sejahtera.

Menteri Agama 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, membuka dialog dengan menegaskan bahwa perbedaan merupakan bagian hakiki dari kehendak Tuhan. Namun, konflik kerap muncul karena ada cara pandang yang ingin menyeragamkan perbedaan.

“Persoalan muncul ketika perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman. Padahal, keragaman adalah anugerah yang memperkaya kita dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa harmoni hanya dapat dirawat jika setiap pemeluk agama mau memandang perbedaan secara positif.

Ketua Komisi KWI, Mgr Christophorus Tri Harsono, mengajak peserta untuk melihat keberagaman sebagai kehendak Tuhan yang membuat manusia saling membutuhkan.

Ia menekankan pentingnya dialog teologis, humanis, dan ekologis sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

“Kita hanya bisa menuju kebaikan jika berjalan bersama. Semakin seseorang beragama, seharusnya semakin lebih memahami cara pandang sosialnya,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menurutnya, kerukunan tidak akan tercapai tanpa keadilan sosial dan kepedulian pada lingkungan hidup sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.

Dari perspektif Khonghucu, Pengurus Pusat MATAKIN, Budi Santoso Tanuwibowo, mengangkat kisah klasik Meng Ce (Mencius) yang mengingatkan bahaya sikap pemimpin yang hanya mengejar keuntungan.

Sikap itu, menurutnya, telah terlihat pada kerusakan lingkungan yang kini memicu bencana di berbagai daerah.

“Kerusakan yang terjadi hari ini adalah reaksi dari tindakan kita. Agama harus bicara tentang manusia dan alam. Kita perlu kembali menjaga keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia, dan semesta,” tegasnya.

Ketua Umum PGI, Jackle Vyn Firts Manuputty, turut menyoroti tragedi banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai momentum yang menyatukan masyarakat tanpa melihat agama.

“Di tengah bencana, kita bertemu dalam kepedulian. Titik temu kita adalah kemanusiaan dan lingkungan yang rusak,” ucapnya.

Dialog ditutup dengan kesadaran bersama bahwa merawat kerukunan bukan hanya upaya menjaga hubungan antarumat, tetapi juga memastikan keberlanjutan kehidupan melalui keadilan sosial dan kepedulian ekoteologi. (HS-08)

 

Menag Ajak Umat Kristiani Jaga Indonesia

Hadapi Nataru dan Tanggap Darurat Bencana, Legislator DPR RI Ini Minta Pelni dan ASDP Siaga