in

Menag Sebut Zikir, Doa, dan Pengabdian Jadi Kekuatan Bangun Indonesia

 

HALO SEMARANG – Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui seremoni, tetapi juga dimaknai sebagai momentum memperkuat persatuan, menumbuhkan rasa syukur, dan memanjatkan doa bagi masa depan bangsa.

Hal itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar, terkait Zikir dan Doa Kebangsaan, yang digelar baru-baru ini di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Zikir dan Doa Kebangsaan yang dihadiri lebih dari 100.000 orang, di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta ini, merupakan pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mengusung semangat kebersamaan dalam keberagaman, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus memperkokoh komitmen menjaga persatuan di tengah kemajemukan Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar  menegaskan bahwa zikir dan doa merupakan ikhtiar spiritual yang harus berjalan beriringan dengan kerja nyata dalam membangun bangsa. Menurutnya, kemajuan Indonesia tidak hanya ditopang oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan moral, akhlak, dan kerukunan antarwarga.

“Dengan zikir kita menumbuhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi. Sekitar 100 ribu peserta zikir dan doa malam ini datang dari berbagai wilayah, dari berbagai agama, bersama-sama berdoa untuk negeri,” kata Nasaruddin Umar, seperti dirilis kemenag.go.id.

Ia menambahkan, bangsa yang besar lahir dari masyarakat yang mampu menjaga persaudaraan, saling menghormati perbedaan, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai sumber kedamaian serta perekat persatuan.

“Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya kerukunan antarsesama. Dengan zikir kita menumbuhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Khotmil Al-Qur’an yang dipimpin KH Rijal Ahmad Rangkuti, dilanjutkan doa khatmil Al-Qur’an oleh Ust H Muzakkir Abd Rahman.

Acara kemudian dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 1–14 oleh juara pertama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) International Al-Ameed ke-3 Karbala, Irak Tahun 2026, Muhammad Zian Fahrezi.

Nuansa kebangsaan semakin terasa saat enam tokoh lintas agama secara bergantian memimpin Doa Kebangsaan sesuai keyakinan masing-masing.

Doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus harapan agar Indonesia senantiasa dilimpahi kedamaian, persatuan, dan kekuatan dalam mewujudkan cita-cita nasional.

Doa lintas agama dipimpin oleh Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty mewakili umat Kristen Protestan, Romo Fransiskus Yance Sengga mewakili umat Katolik, Pinandita Gede Pastika mewakili umat Hindu, Bhikku Bhadranatha Thera mewakili umat Buddha, Xs. Budi S. Tanuwibowo mewakili umat Konghucu, dan ditutup oleh H. Husni Ismail mewakili umat Islam.

Suasana khidmat berlanjut melalui lantunan Selawat Kebangsaan yang dipimpin Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, diikuti ribuan jemaah yang memadati kawasan Monas.

Kegiatan ini turut dihadiri para menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih serta tokoh-tokoh lintas agama dari berbagai daerah.

Melalui Zikir dan Doa Kebangsaan, pemerintah kembali menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus terus dirawat.

Nilai-nilai spiritual, toleransi, dan kerukunan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang damai, maju, dan bermartabat, sejalan dengan semangat Kementerian Agama Berdampak dalam menghadirkan kehidupan beragama yang harmonis dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (HS-08)

 

Pesta Hadiah Tabungan Bima Bank Jateng Digelar, Taj Yasin Minta Pelayanan Terus Ditingkatkan

Bencana di Indonesia, Karhutla dan Kekeringan Melanda Jateng dan Suksel