in

Terasi Rebon Pesisir Kendal Menjaga Tradisi, Menjemput Nilai

Produk terasi udang rebon di Desa Gempolsewu dan Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal.

AROMA khas yang tajam menyambut siapa pun yang melintas di pesisir Desa Gempolsewu hingga Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Di balik aroma itu, ada cerita tentang ketekunan, tradisi, dan upaya mengangkat nilai dari sesuatu yang dulu kerap dipandang sebelah mata: udang rebon.

Dalam kondisi segar, udang rebon biasanya hanya dihargai rendah. Tak sedikit yang menjadikannya sekadar pakan ikan. Konsumsi manusia pun terbatas, membuat komoditas kecil ini sering kali tak memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Namun di tangan para perempuan pesisir, cerita itu berubah.

Di Dusun Tawang Laut, Desa Gempolsewu, Mak Biati bersama lima ibu nelayan lainnya memanfaatkan musim panen rebon pada Maret hingga April untuk mengolahnya menjadi terasi. Sementara di Desa Sendang Sikucing, Mak Triyah dan tiga rekannya melakukan hal serupa. Mereka bekerja dalam ritme yang sederhana, namun sarat makna—mengubah hasil laut menjadi produk bernilai lebih tinggi.

Prosesnya masih setia pada cara-cara tradisional. Udang rebon yang telah dikeringkan disortir, lalu ditumbuk hingga halus. Adonan kemudian diuleni dengan air secukupnya sebelum dibentuk dan dikemas. Di sinilah sentuhan kearifan lokal terasa kuat: terasi dibungkus menggunakan klaras daun pisang kering, lalu dilapisi kertas minyak.

Bukan tanpa alasan. Klaras daun pisang bukan hanya memberi aroma khas, tetapi juga membantu menyerap kadar air berlebih, menjaga tekstur tetap padat, sekaligus melindungi adonan dari kontaminasi selama proses penjemuran dan pemeraman.

Hasilnya adalah terasi dengan karakter kuat—tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga nilai gizi. Terasi rebon dikenal mengandung protein, kalsium, zat besi, serta vitamin D dan B12, menjadikannya pelengkap nutrisi yang tak kalah penting di dapur masyarakat.

Meski demikian, jalan menuju pasar yang lebih luas belum sepenuhnya terbuka. Para perajin berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah, terutama dalam hal perizinan seperti sertifikat produksi pangan industri rumah tangga (P-IRT), serta bantuan teknologi pengemasan agar produk mereka mampu bersaing di pasar modern.

Di sisi hilir, peran pengepul seperti Abbas menjadi penghubung antara produksi rumahan dan pasar. Ia memasarkan terasi rebon ke berbagai daerah, mulai dari pasar ikan di kawasan TPI Tawang hingga ke wilayah Batang, Limpung, Bawang, Parakan, dan Temanggung.

“Harganya bervariasi, tergantung kualitas. Mulai dari Rp 35 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram,” ujarnya.

Kisah terasi rebon dari pesisir Kendal bukan sekadar tentang produk olahan laut. Ia adalah potret ketahanan ekonomi keluarga nelayan, tentang perempuan-perempuan yang menjaga dapur tetap menyala, sekaligus merawat tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Dari bahan sederhana yang dulu dianggap tak bernilai, kini lahir harapan—bahwa dengan sentuhan kreativitas dan dukungan yang tepat, potensi lokal bisa menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.(HS)

Perkuat Pengawasan Orang Asing di Kendal, Imigrasi Dorong Sinergi Lintas Sektor dan Manfaatkan LDK

Semarang Siap Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2026, Bidik Rekor MURI di Pembukaan