in

Tasyakuran Bakda Kupat, Tradisi Syawalan Sepekan Setelah Lebaran

Ilustrasi Bakda Syawal.

HALO KENDAL – Setelah sepekan merayakan Hari Raya Idul Fitri, umat muslim akan kembali menemui sajian khas lebaran di tradisi syawalan atau tasyakuran lebaran ketupat atau bodho kupat.

Orang Jawa menyebut hari raya dengan bakdo atau bodho, kemudian Idul Fitri disebutnya lebaran. Namun dengan mengatakan bakdo atau bodho sudah identik lebaran.

Di sebut syawalan karena pelaksanaannya pada bulan Syawal, dan ini ada hanya setelah lebaran Idul Fitri, bahkan sebagian orang menyebut bodho atau bakdo syawal.

Sedangkan disebut kupatan karena kebanyakan orang saat syawalan membuat kupat, bahkan ada doa bersama di antara warga dengan masing-masing membawa kupat, dan setelah doa selesai terjadilah tukar-menukar kupat, ada pula yang membuat acara berebut kupat.

Dari berbagai sumber, Kanjeng Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa dua kali bakda, yaitu bakda lebaran dan bakda kupat.

Bakda kupat dimulai seminggu sesudah lebaran, di mana pada hari yang disebut bakda kupat, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda.

Janur atau Jatining Nur atau cahaya sejati merupakan guratan isi dari hati nurani. Kemudian anyaman ketupat, mencerminkan pentingnya silaturahmi, gotong-royong, kebersamaan.

Laku papat, yaitu luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (terbukanya pintu pengampunan) dan laburan (mensucikan diri).

Ketupat disebut kupat, yang merupakan singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan). Sedangkan isi beras menggambarkan nafsu duniawi.

Salah seorang warga di Bandengan, Kendal, Ustaz Jumari mengatakan bakda syawal atau syawalan dilakukan tujuh hari setelah bakda lebaran Idul Fitri  biasanya disajikan kupat atau ketupat dan lepet.

“Tradisi tasyakuran bakda syawal di sini, para warga hadir di musala dengan membawa berbagai olahan ketupat dan lepet yang diibaratkan lepat atau salah nyuwun ngapunten, atau minta maaf,” ujarnya, usai memimpin tasyakuran di Musala Miftahul Huda Bandengan, Kendal, Senin (7/4/2025).

Dengan tasyakuran bakda syawal, lanjut Ustaz Jumari bisa menjadi ajang silaturahim dalam menjaga ukuwah antar warga, sebelum syawalan di Masjid Agung Kendal

“Ya tasyakuran bakda syawal ini, para warga berkumpul menjadi satu dalam jalinan silaturahim yang erat, sehingga kekeluargaan dan persaudaraan terjaga dengan baik,” imbuhnya. (HS-06)

Jalan Tembus Kendal Potensial Sebagai Sentra Kuliner

Ajudan Kapolri yang Pukul dan Ancam Jurnalis di Semarang Minta Maaf