in

Tanggul Pabean Kota Pekalongan Diperbaiki, 254 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Mobil BPBD Kota Pekalongan membawa warga yang mengungsi. (Foto : pekalongankota.go.id)

 

 

HALO PEKALONGAN – Upaya penanganan darurat akibat jebolnya tanggul di wilayah Pabean, Kota Pekalongan terus menunjukkan perkembangan.

Tanggul sisi timur Sungai Bremi yang sebelumnya jebol itu, kini telah berhasil diperbaiki dan tinggal tahap perapian.

Meski demikian, ratusan warga terdampak masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi genangan air benar-benar surut.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, Senin (30/3/2026), menyampaikan bahwa, hingga Minggu (29/3/2026) pukul 17.30 WIB, jumlah warga yang masih mengungsi tercatat sebanyak 254 jiwa atau 87 Kepala Keluarga (KK).

“Alhamdulillah tanggul Pabean sudah diperbaiki, tinggal dirapikan saja. Mudah-mudahan tidak jebol lagi. Saat ini kita tinggal menunggu surutnya air di wilayah Pasirsari dengan bantuan pompa air,” ungkapnya.

Adapun rincian pengungsi tersebar di beberapa titik, yakni di eks Aula Kelurahan Kraton Kidul sebanyak 116 jiwa (43 keluarga), di Aula Kelurahan Pasirkratonkramat 79 jiwa (29 keluarga), TPQ Madinatul Ulum 50 jiwa (12 keluarga), serta Aula Kecamatan Pekalongan Barat sebanyak 9 jiwa (3 keluarga).

Para pengungsi terdiri atas berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia.

Budi menjelaskan, masyarakat mulai mengungsi sejak Jumat (27/3/2026), menyusul banjir di wilayah Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat.

Berdasarkan kronologis kejadian, tanggul sisi timur Sungai Bremi yang berada di wilayah Pabean, jebol Kamis (26/3/3036).

Tanggul tersebut mengalami kerusakan sepanjang lebih kurang 15 meter dengan lebar 3 meter dan tinggi 2 meter.

Akibatnya, air sungai masuk dan menggenangi daratan di sekitar kawasan tersebut, meskipun saat itu kondisi cuaca dilaporkan cerah tanpa hujan.

Keesokan harinya, Jumat (27/3/2026), air limpasan Sungai Bremi mulai masuk ke permukiman warga di sepanjang Jalan Sutan Syahrir, tepatnya di wilayah RW 3 hingga RW 7 Pasirsari.

Ketinggian air awalnya berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter, namun kemudian meningkat hingga 30–50 sentimeter akibat tambahan gelombang pasang. Kondisi tersebut memaksa petugas bersama relawan melakukan evakuasi warga ke tempat pengungsian yang telah disiapkan.

“Dalam penanganan kejadian ini, BPBD Kota Pekalongan bersama berbagai pihak telah melakukan sejumlah upaya, di antaranya monitoring dan patroli kesiapsiagaan, evakuasi warga terdampak, serta asesmen dampak genangan banjir. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan guna mengoptimalkan penanganan darurat secara terpadu,” terangnya.

Lanjut Budi menambahkan, Pemerintah bersama OPD terkait, relawan, Polri dan TNI mengaktifkan posko kebencanaan, menyediakan layanan data dan informasi, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, termasuk logistik dan layanan kesehatan.

Upaya teknis di lapangan juga terus dilakukan, seperti penutupan tanggul yang rusak menggunakan sandbag dan trucuk bambu, peninggian tanggul di titik rawan limpasan, serta optimalisasi pompa air sejak Kamis malam (26/3/2026).

Langkah ini dilakukan secara gotong royong bersama masyarakat Pabean dan Pasirsari serta dukungan dari berbagai instansi terkait.

“Seluruh sumber daya terus kami optimalkan sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Penanganan ini melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, swasta, masyarakat hingga organisasi relawan kebencanaan,” tambah Budi.

Hingga saat ini, kondisi di lapangan berangsur membaik, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi genangan masih ada.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama, sembari berharap kondisi segera pulih dan warga dapat kembali ke rumah masing-masing,” kata dia. (HS-08)

 

Patroli Subuh Polres Pekalongan Kota Sapu Bersih Balon Liar dan Petasan

Tutup Masa Libur Lebaran, Wisatawan Padati Aliran Sungai Jernih di Warungasem Batang