in

Tampil di FFP 2022, Film Garapan Pelajar Tunjukkan Peningkatan Kualitas

Festival Film Purbalingga (FFP) 2022 di bioskop misbar, kompleks Taman Kota Usman Janatin Purbalingga, baru-baru ini. (Foto : purbalinggakab.go.id)

 

HALO PURBALINGGA – Film-film garapan pemuda dan pelajar, yang ditampilkan dalam ajang kompetisi Festival Film Purbalingga (FFP) 2022, telah menampakkan peningkatan kualitas penggarapan.

Penilaian tersebut disampaikan Direktur Festival Film Purbalingga (FFP), Nanki Nirmanto dalam event yang digelar di bioskop misbar (gerimis bubar) di kompleks Taman Kota Usman Janatin Purbalingga, baru-baru ini.

Menurut dia, FFP 2022 memang diselenggarakan untuk mewadahi para sineas muda atau pelajar, agar dapat menunjukkan kualitas film garapan mereka.

Namun demikian, dia juga mengkhawatirkan keberlangsungan produksi film karya para pelajar ini.

Penyebabnya adalah terhambatnya proses regenerasi, akibat berhentinya kegiatan ekstrakurikuler sinematografi di sejumlah sekolah.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi komunitas film di Banyumas Raya, khususnya Kabupaten Banyumas, yang sampai saat ini masih absen berpartisipasi,” kata dia, seperti dirilis purbalinggakab.go.id.

Pada FFP ke 16 ini, film bertajuk “Sepuh” produksi Saka Widya Budaya Bhakti (SWBB) Purbalingga, terpilih sebagai Film Fiksi Pelajar Terbaik FFP 2022.

Film karya sutradara Lukman Maulana ini, mengangkat realita sosial orang tua, yang ditinggal merantau oleh anaknya.

Menurut Lukman, tantangan penggarapan film ini, adalah mengarahkan para pemeran yang berusia lanjut.

“Idenya dari realita yang dialami orang tua, yang mendidik anak mereka sejak kecil, lalu setelah dewasa ditinggal merantau. Semoga film ini dapat ditonton oleh semua orang dan pesannya tersampaikan,” kata siswa Lukman, yang merupakan SMK Negeri 1 Kaligondang itu.

Salah satu Dewan Juri Kategori Film Fiksi, Arief Akhmad Yani, menuturkan film “Sepuh” mampu mengungkapkan sebuah ide sederhana, tetapi tidak terpikir oleh banyak orang, tentang kehidupan lansia yang ditinggal merantau oleh anak-anaknya.

Film ini juga mampu menyisipkan kritik sosial, dalam dialog setiap karakternya, serta mampu membawa emosi para penonton.

“Film ini mampu mewakili keresahan lintas generasi mengenai masa depan saat meniti usia senja,” kata dia. (HS-08)

Main di Stadion Kebogiro Boyolali, PSIR Tahan Imbang Tuan Rumah 2-2

Kwarcab Banyumas Bersama Dishub Sosialisasikan Keselamatan Lalu Lintas