in

Sisca Apresiasi Kepedulian Pemuda Tegalrejo Rowosari Terhadap Masa Depan Pertanian

Kegiatan Guyub Tani yang digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tegalrejo, Desa Rowosari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.

HALO KENDAL – Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Kendal, Sisca Meritania mengapresiasi kepedulian generasi muda yang tergabung dalam Persatuan Pemuda Tegalrejo Rowosari (Pepeteros) terhadap masa depan pertanian.

Hal itu ia sampaikan, saat menghadiri kegiatan Guyub Tani yang digelar beberapa waktu lalu di Dusun Tegalrejo, Desa Rowosari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.

Kegiatan yang mengusung tema “Tanam Cerdas, Rawat Tepat, Panen Meningkat” itu, menjadi ruang pertemuan antara petani, pemuda, masyarakat, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan sektor pertanian.

“Saya mengapresiasi inisiatif pemuda Tegalrejo yang tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap pertanian dan lingkungan. Keterlibatan pemuda dalam kegiatan seperti Guyub Tani ini penting untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah pedesaan,” ungkap Sisca.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan juga selama ini telah ditunjukkan pihaknya, melalui berbagai kegiatan, termasuk penanaman pohon dan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan serta tidak membuang sampah sembarangan.

“Jadi kehadiran pemuda dalam kegiatan sosial dan lingkungan menjadi modal penting untuk membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kondisi kampungnya,” tandas Sisca.

Politisi Partai Gerindra Kendal tersebut berharap, meski berada di wilayah pesisir, para pemudanya harus berani bicara masa depan pertanian.

“Kondisi pesisir tidak menjadi alasan bagi para pemuda untuk menjauh dari persoalan pertanian. Sebaliknya, Pepeteros harus berusaha menghadirkan ruang edukasi dan pertukaran pengalaman agar masyarakat dapat terus mengembangkan potensi pertanian yang ada,” ujar Sisca.

Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa pertanian bukan hanya persoalan produksi pangan, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan, ekonomi masyarakat, regenerasi generasi muda, serta ketahanan pangan.

“Pemuda memiliki posisi strategis untuk menjembatani pengetahuan tradisional yang dimiliki petani dengan perkembangan teknologi dan inovasi yang terus berkembang,” imbuh Sisca.

Suasana kegiatan Guyub Tani semakin hangat dengan diskusi dan interaksi antara peserta. Para petani dapat bertukar pengalaman, sementara pemuda memperoleh kesempatan untuk memahami lebih dekat berbagai persoalan yang dihadapi petani dan dari berbagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Para petani dibekali pengetahuan pengendalian hama, selain membahas regenerasi petani dan pertanian modern.

Peserta Guyub Tani juga mendapatkan penyuluhan teknis mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman. Materi tersebut disampaikan oleh Dian Sopandi dari Petrokimia Kayaku Gresik.

Selain itu, para peserta memperoleh pengetahuan mengenai identifikasi organisme pengganggu tanaman, upaya pencegahan, serta teknik pengendalian yang tepat untuk menjaga kesehatan tanaman dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Materi teknis tersebut mendapat perhatian dari para peserta karena persoalan hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu tantangan yang kerap dihadapi petani dalam proses budidaya.

Diskusi pun berlangsung interaktif. Petani menyampaikan berbagai persoalan yang mereka temui di lapangan, mulai dari teknik budidaya, pemupukan, serangan hama dan penyakit, hingga upaya meningkatkan hasil panen.

Berbagai persoalan tersebut kemudian dibahas bersama dengan pendekatan berdasarkan pengalaman lapangan dan perkembangan teknologi pertanian.

Kegiatan juga diisi dengan Bincang Pertanian bersama Rayndra Syahdan Mahmudin, selaku Ketua Umum Duta Petani Milenial Andalan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI).

Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya regenerasi petani sebagai salah satu tantangan besar sektor pertanian saat ini.

Untuk itu, Rayndra mengajak generasi muda untuk mengubah pandangan terhadap profesi petani yang masih sering dipandang sebelah mata.

“Jangan gengsi menjadi petani. Masih banyak yang menganggap petani itu kotor, tidak menjanjikan, tidak keren, dan merupakan profesi kelas bawah. Padahal, tanpa petani kita tidak akan memiliki sumber pangan,” tandasnya.

Menurut Rayndra, semakin banyaknya petani yang memasuki usia lanjut harus menjadi perhatian bersama. Generasi muda perlu melihat sektor agraris sebagai bidang yang memiliki peluang besar, bukan sekadar pekerjaan tradisional.

“Usia petani semakin menua, sehingga generasi muda harus mulai melihat sektor agraris sebagai peluang karir yang menjanjikan,” jelasnya.

Rayndra juga menyinggung, perkembangan teknologi juga membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan pertanian yang lebih modern.

“Digitalisasi, inovasi budidaya, pemasaran, hingga pengelolaan usaha tani dapat menjadi bagian dari transformasi sektor pertanian,” paparnya.

Dengan pendekatan, lanjut Rayndra, bahwa menjadi petani tidak lagi harus identik dengan pekerjaan konvensional. Petani masa kini dapat menjadi petani inovatif, produktif, adaptif, dan memiliki daya saing.(HS)

Tagih Progres Program Kerja, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kendal Gelar Musypimda ke-3

Sudaryono Minta Kader Gerindra Semarang Jadi Mata dan Telinga Rakyat, Target Menang 2029