in

Shelter Tsunami Enam Lantai Akan Dibangun di Cilacap

Dari kiri, Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Taryo, PPK Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis III Jawa Tengah Fahrizal Patriaman, Pj Sekda Cilacap Annisa Fabriana, Kepala Bappeda Imam Jauhari, dan Sekretaris BPBD Cilacap Erni Suharti dalam sosialisasi pembangunan shelter tsunami di Cilacap, Rabu (30/9/2026). (Foto : cilacapkab.go.id)

 

 

HALO CILACAP – Pemerintah akan membangun shelter tsunami enam lantai, di Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, sebagai tempat evakuasi vertikal, bagi masyarakat pesisir ketika terjadi tsunami. Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan selesai pada Juli 2027.

Shelter yang berjarak sekitar 400 meter dari garis pantai itu, dibangun di atas lahan seluas 24.106 meter persegi, dengan luas bangunan 11.742 meter persegi.

Fasilitas tersebut dirancang untuk menampung warga yang membutuhkan tempat evakuasi sementara saat terjadi bencana tsunami.

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap Annisa Fabriana mengatakan pembangunan shelter menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, menghadapi ancaman bencana di wilayah pesisir.

Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana tidak hanya membutuhkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga dukungan sarana dan prasarana penyelamatan.

“Kalau kita sudah siap, mudah-mudahan tidak perlu dipakai. Tapi setidaknya kehadiran shelter tsunami ini diharapkan memberikan rasa aman bagi masyarakat di pesisir,” kata Annisa, saat membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pembangunan Shelter Tsunami Cilacap di ruang rapat BPBD Cilacap, Rabu (30/9/2026), seperti dirilis cilacapkab.go.id.

Annisa berharap masyarakat, pemerintah kecamatan dan kelurahan dapat menjaga serta memanfaatkan fasilitas tersebut dengan baik.

Pemahaman mengenai fungsi shelter juga perlu diberikan agar infrastruktur yang dibangun dapat dipelihara bersama.

Ia juga meminta BPBD tidak berhenti pada pembangunan satu shelter. Dengan garis pantai Cilacap yang panjang, lokasi evakuasi tambahan dinilai masih diperlukan di wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan.

“Kalau memang diperlukan, bisa diadakan di sebelah timur Cilacap. Shelter tsunami tidak hanya di satu titik, tetapi juga di titik lain yang membutuhkan,” ujarnya.

Pembangunan shelter tersebut merupakan proyek Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai kontrak pekerjaan konstruksi Rp83,25 miliar.

Pekerjaan dilaksanakan PT Nindya Beton, sedangkan pengawasan dan manajemen konstruksi dilakukan PT Widha dengan nilai kontrak Rp2,54 miliar.

Pejabat Pembuat Komitmen Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis III Jawa Tengah, Fahrizal Patriaman, mengatakan kontrak pembangunan telah ditandatangani dan pengukuran lapangan sudah dilakukan.

“Sudah penandatanganan kontrak dan sudah dilakukan pengukuran di lapangan,” katanya.

Pekerjaan konstruksi berlangsung selama 300 hari kalender, mulai 25 September 2026 hingga 21 Juli 2027, dilanjutkan masa pemeliharaan selama 360 hari. Shelter dirancang sebagai bangunan tahan gempa dan mampu menghadapi hantaman arus atau gelombang tsunami.

Selain untuk evakuasi, bangunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas umum ketika tidak terjadi bencana.

Pembangunan mencakup pekerjaan fondasi dan struktur, arsitektur, mekanikal, elektrikal dan plambing, penataan kawasan, serta penerapan sistem manajemen keselamatan konstruksi.(HS-08)

Sosialisasi Bakohumas di Brebes, Komunikasi Pemerintah Harus Membuat Warga Paham dan Terlayani

Sambangi Ratusan Pelajar di SMK YPP Purworejo, Kapolres Purworejo Ingatkan Bahaya Kejahatan Siber