in

Seperti Permukiman di Guangdong, Kawasan Pecinan di Semarang Disebut Mirip “Tiongkok Kecil”

MENYUSURI kawasan Pecinan di wilayah Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang sejauh mata memandang dipadati dengan bangunan yang kebanyakan rumah toko (ruko), berfungsi ganda selain dihuni juga sekaligus untuk tempat usaha yang menjual berbagai jenis barang. Misalnya di Gang Pinggir (Tang-Kee) dan gang Warung (A-Long Kee), yang diketahui menjadi permukiman pertama kali dibangun di Kawasan Pecinan Semarang ini, termasuk gang Beteng (Sin-Kee). Meski, bangunan saat ini sudah ada yang berubah bentuk dari bangunan aslinya, namun ciri khas yang masih tersisa dari arsitektur Tionghoa ini terutama dilihat dari atapnya. Masih terlihat sisa tembok samping atap berbentuk kipas atau Shan yang dibuat melebihi tinggi atap bangunan, tujuannya untuk melindungi dari bahaya kebakaran.

Dulunya, bangunan tersebut didirikan orang orang Tionghoa dengan bahan yang juga dipakai oleh rumah orang setempat di lingkungan tempat tinggalnya. Seperti memakai dari bahan papan kayu atau anyaman bambu, karena tidak ada perencanaan, bentangan jalan ada yang tidak lurus dan lebarnya pun tidak sama. Secara umum, permukiman ini mengelilingi dan menghadap ke sebuah tanah terbuka dengan sebuah kolam yang dikenal sebagai Bale Kambang. Bale Kambang ini dipercaya sebagai pusat energi terbesar di Semarang dan mereka percaya Bale Kambang dapat memberikan kemakmuran bagi mereka. Sebab itulah bangunan-bangunan di kawasan Pecinan berpaling dari sungai Semarang. (Dikutip dari buku dikarang Pratiwo, 2010. Berjudul Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota).

Seiiring berjalannya waktu, semakin banyak perantau Tionghoa yang datang ke Semarang untuk mencari peluang atau memperbaiki nasib. Mereka mendirikan permukiman di tengah-tengah Pecinan, sehingga lama kelamaan tanah terbuka di tengah Pecinan makin berkurang dipenuhi deretan rumah-rumah dan akhirnya menjadi perkampungan baru. Kemudian di tengah perkampungan itu, muncul gang gang baru seperti Say-Kee (gang kumbang/gang Belakang), Ting Aouw Kee (gang Gambiran ), Pecinan Tengah (gang Tengah), Pan-Shia (jalan Beteng), Moa-Phay Kee (gang Mangkok), Hoay Kee (gang Cilik). Sedangkan Bale Kambang kemudian diurug pada tahun 1996 karena menjadi sarang nyamuk malaria.

Pada saat itu, kawasan Pecinan dikenal dengan pusat perdagangan, mereka berjualan aneka barang seperti piring, mangkok, sutera. Kemudian berkembang menjadi permukiman padat dan berhimpitan satu sama lainnya di sepanjang jalan sempit dan menjadi seperti sekarang ini. Bahkan kenampakan ruko- ruko tersebut disamakan dengan bentuk permukiman yang lazim di Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan. Sehingga disebut mirip seperti “Tiongkok Kecil”. Hal ini bukan tanpa sebab, karena sebagian besar pendatang Tionghoa di Semarang memang berasal dari wilayah tersebut. (Dikutip dari Literatur bukunya J. Widodo berjudul Bangunan Toko dan Kelenteng dalam Indonesian Heritage: Arsitektur).

Sebelumnya, pada awal mulanya orang Tionghoa di Semarang bermukim di sekitar lokasi yang sekarang dikenal sebagai Gedong Batu, lokasi berdirinya Kelenteng Sam Poo Kong. Sekitar tahun 1400-an awal, sebuah kapal jung berukuran besar membuang sauhnya di muara Sungai Garang. Kapal itu membawa seorang laksamana muslim sekaligus utusan wangsa Ming, Cheng Ho.

Dari bandar ke bandar, ia berlayar membawa pesan diplomatik dari Kaisar Tiongkok yang membiayai pelayarannya. Pelayaran akbar itu harus berhenti sejenak di dekat Semarang lantaran salah seorang awaknya yang bernama Ong King Hong, tiba-tiba jatuh sakit. Dengan kapal kecil, beberapa awak kapal ini menyusuri sungai sampai di sebuah gua di Simongan dan tinggal sejenak untuk merawat rekan yang sakit. Setelah pulih, beberapa awak termasuk Ong King Hong memilih bermukim di sini, sementara Cheng Ho meneruskan pelayarannya.

Di kemudian hari, permukiman yang didirikan oleh para anak buah kapal Cheng Ho tadi semakin berkembang dengan kedatangan para perantau dari Tiongkok yang berusaha mengubah nasib di tanah rantau atau melarikan diri dari penguasa zalim. Merunut tulisan Liem dalam buku “Riwajat Semarang”, Semarang saat itu “masih berupa sebuah tegalan dengan beberapa rumah penduduk asli dan sangat tidak sehat karena letaknya berdampingan dengan rawa-rawa “.

Permulaan abad ke-17, Semarang kedatangan pendatang baru lainnya, namun kali ini dari Belanda. Pendatang baru ini rupanya bukan pendatang yang baik, sebab setiap kapal yang memasuki sungai ditarik bea oleh mereka. Merasa kesal atas tingkah pendatang baru tadi, orang-orang Tionghoa menyerang tangsi Belanda namun gagal. Agar mereka mudah diintai, kompeni memaksa mereka memindahkan pemukimannya dari Simongan ke Semarang (Liem Thian Joe, 1931 : 2-6).

Semula mereka bertempat tinggal di sisi timur sungai Semarang, lalu di tahun 1740, mereka lagi-lagi dipindahkan ke seberang barat sungai. Dan mulai sejak saat itu, Pecinan Semarang tidak berpindah lagi dan perlahan mulai berkembang dalam wujudnya seperti yang disebut seperti “Tiongkok Kecil”.

Revitalisasi

Pecinan Kota Semarang sudah terbentuk sejak 1835 ketika VOC mengumpulkan warga Tionghoa di suatu tempat dengan aturan Wijkenstelsel. Kini sudah banyak perubahan yang terjadi di sana, meski struktur jalan masih relatif sama.

Struktur jalan yang dimaksud yaitu jalan serta gang-gang di sana masih sama, tidak ada yang ditutup atau berganti. Namun untuk penamaannya sudah sangat berubah.

Soal infrastruktur bangunan jelas berubah sejak imigran dari Tiongkok kemudian membuat bangunan permanen dengan gaya mereka. Namun kini sudah banyak yang berubah bentuk bangunannya.

Sementara itu lebar jalan juga sudah berbeda. Hal itu karena sekitar tahun 1970, Pemerintah Kota Semarang melakukan pelebaran jalan. Dalam prosesnya, depan bangunan yang menjadi wajah permukiman Pecinan dikepras. Sehingga bagian fasad bangunan di Pecinan banyak yang hilang.

Saat ini, Pemkot Semarang sedang berusaha untuk melakukan revitalisasi Pecinan. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, dari hasil kajian awal kebutuhan anggaran untuk proses revitalisasi secara menyeluruh sekitar Rp 170 miliar. Anggaran tersebut sedang diupayakan untuk diajukan ke pemerintah pusat.

Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu menyebut, proses rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) telah berlangsung. Termasuk sedang menyusun detail engineering design (DED) Kawasan Pecinan tersebut.

“Ini sudah diproses RTBL, kemudian sedang disusun DED untuk dimasukkan, khususnya pada 2024 ini akan ada sebagian yang dibenahi, karena memang pekerjaan rumahnya yang paling utama di kawasan Semarang Lama ini adalah Pecinan,” katanya.(HS)

Pj Gubernur Jeteng Ingatkan Kades Tidak Melakukan Penyimpangan Bantuan Keuangan

Gelar Kejuaraan ‘Pencak Silat Piala Dandim dan IPSI Kendal’, Ini Harapan Gus Tommy