in

Semarang dan Surga Parkir Liar yang Bikin Geleng Kepala

Foto ilustrasi parkir liar.

AH Semarang. Kota yang terkenal dengan lumpia renyah dan cuaca panasnya yang bikin keringat bercucuran. Tapi belakangan, ada atraksi baru yang lebih menarik perhatian: parkir liar yang menyebar seperti jamur di musim hujan.

Di mana-mana, mobil dan motor sembarangan berhenti, mengubah trotoar jalan raya, khsusnya di pusat keramaian, jadi garasi dadakan. Pengendara yang lewat hanya bisa menghela napas panjang karena macet, sementara juru parkir liar beraksi bak pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka muncul tiba-tiba, mengatur lalu lintas seenaknya, dan memungut uang dengan senyum lebar.

Fenomena ini bukan cuma gangguan kecil, melainkan pesta besar yang membuat warga kota ini bertanya-tanya: apakah Semarang sedang berlomba jadi ibu kota parkir liar nasional? Belum lagi keberadaan Pak Ogah, sebutan populer untuk pengatur lalu lintas non-formal yang sering ditemukan di persimpangan jalan atau putaran balik di Indonesia.

Salah satu spot favorit para jukir ini adalah Kawasan Kota Lama. Tempat bersejarah yang seharusnya penuh pesona arsitektur peninggalan kolonial, kini lebih mirip pasar malam otomotif.

Bangunan tua yang indah tertutup deretan kendaraan yang parkir sembarangan, membuat pengunjung harus slalom di antara mobil untuk menikmati pemandangan. Baru-baru ini, aksi mereka kembali jadi sorotan.

Sebuah unggahan di media sosial menunjukkan pengunjung yang kesal karena diberi karcis parkir berupa nota toko biasa, bertuliskan “parkir elp Rp 30 ribu”. Ya, “elp”, entah singkatan dari “elu parkir” atau apa.

Nota itu seolah-olah dari toko kelontong, bukan bukti resmi. Kejadian ini langsung viral, membuat netizen ramai-ramai tertawa getir. Bagaimana tidak? Di era digital ini, jukir masih pakai trik jadul, tapi tarifnya sudah selangit. Ironisnya, kawasan yang seharusnya bebas parkir liar malah jadi ladang bisnis mereka.

Pindah sedikit ke area sekitar Tugu Muda, situasinya tak kalah absurd. Monumen perjuangan yang gagah itu di area belakangnya kini dikelilingi kendaraan yang berjejer rapi.

Wilayah yang sebenarnya ditujukan untuk pejalan kaki di jalan inspeksi Kali Semarang, sekarang berubah fungsi jadi tempat istirahat motor. Pengendara yang datang untuk foto-foto berakhir dengan membayar tarif parkir yang tak masuk akal.

Tak berhenti di situ, parkir liar merajalela di wilayah lain yang jelas-jelas bukan untuk itu. Ambil contoh jalan dekat DP Mall. Setiap akhir pekan, jalan itu berubah jadi lahan parkir dadakan.

Begitu pula di depan dan samping Java Mall, di mana trotoar yang seharusnya untuk berjalan kaki malah dipenuhi motor. Pemerintah kota sudah berupaya, lho. Pada Agustus 2025, Wali Kota Semarang menginstruksikan pembersihan parkir liar di Kawasan Kota Lama.

Instruksi itu disambut gembira, tapi nyatanya, jukir masih beroperasi dengan santai. Bahkan, ada kajian untuk mengubah titik-titik liar jadi zona parkir resmi, seperti di sekitar mal-mal tadi.

Masalah ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi juga ekonomi kota yang bocor. Retribusi parkir resmi baru terealisasi 17 persen dari target, karena banyak uang mengalir ke kantong jukir liar.

Bayangkan, uang yang seharusnya untuk perbaikan jalan atau lampu lalu lintas, malah dipakai beli rokok atau es teh para jukir. Pemerintah giat tertibkan, tapi jukir selalu kembali seperti rumput liar yang tak mati-mati. Di Oktober 2025, Pemkot Semarang menyiapkan regulasi baru untuk jadikan parkir liar sebagai zona resmi.

Lucu, kan? Alih-alih diberantas, malah dilegalkan. Mungkin ini strategi cerdas: kalau tak bisa lawan, gabung saja.

Transisi ke akar masalah, sebenarnya ini soal kurangnya fasilitas parkir resmi. Semarang berkembang pesat, tapi lahan parkir tak ikut bertambah. Hasilnya, warga terpaksa parkir di mana saja, dan jukir memanfaatkan celah itu.

Di Kawasan Kota Lama yang ikonik, parkir liar membuat semuanya semrawut, menghilangkan pesona objek wisata. Pengunjung datang untuk menikmati sejarah, tapi pulang dengan cerita horor tentang tarif parkir. Begitu pula di Tugu Muda, di mana area publik jadi korban.

Kalau dibiarkan, mungkin suatu hari Semarang akan masuk Guinness World Records sebagai kota dengan parkir liar terbanyak. Jukir akan punya seragam resmi, lengkap dengan aplikasi pembayaran digital yang namanya “JukirPay”.

Dan nota “parkir elp” itu? Bisa jadi tren baru, di mana setiap parkir dapat bonus nota toko untuk belanja sembako. Tapi serius, ini menunjukkan betapa lemahnya penegakan aturan.

Warga Semarang pantas dapat kota yang lebih rapi. Parkir liar ini bukan cuma bikin macet, tapi juga hilangkan ruang bagi pejalan kaki dan anak-anak. Pemerintah sudah mulai gerak, seperti kajian potensi di titik keramaian. Tapi butuh lebih dari instruksi; perlu pengawasan ketat dan alternatif parkir murah.

Kalau tidak, jukir akan terus berpesta. Mari kita tertawa dulu atas keabsurdan ini, tapi besok, ayo dorong perubahan.(HS)

Kader Posyandu Desa Pekauman Banjarnegara Olah Sampah Jadi Bermanfaat ‎

Kuatkan Bantuan Hukum di Tingkat Desa/Kelurahan, YLBH Putra Nusantara Kendal Gelar Diklat Paralegal Angkatan IV