HALO SEMARANG – Pemuda asal Pandeglang, Deni Iskandar, yang juga salah satu murid Abuya KH Ahmad Muhtadi, tokoh spiritual Muslim di Provinsi Banten, benar-benar mendapat kesempatan langka.
Dia bisa mendapat beasiswa untuk kuliah di Roma, Italia dan Negara Vatikan, serta berdialog langsung dengan Paus Fransiskus.
Lulusan Fakultas Ushuluddin, Jurusan Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, mendapat beasiswa dari Yayasan Nostra Aetate, Vatikan untuk Studi Hubungan Antaragama.
Pendidikan yang dibiayai dengan beasiswa itu pun sudah tergenapi, pada akhir Juni 2023.
Deni Iskandar, seperti dirilis kemenag.go.id menuturkan dia sebelumnya tak membayangkan bakal mendapat kesempatan langka, dapat belajar dan kuliah di Pontifical University Thomas Aquinas-Angelicum dan Pontificia Università Gregoriana, juga pada Nostra Aetate Foundation pada Dicastery for Interreligious Dialogue (NAF-DID) di Vatikan.
“Ini perjalanan panjang. Saya dapat beasiswa dari Vatikan dan saya sekolah di Kota Roma. Saya mengenal banyak tokoh dan pastor Katolik. Saya pernah menulis buku berjudul Katolik di Tanah Santri,” tutur Deni, dalam perbincangannya dengan Pater Markus Solo Kewuta, SVD, Minggu (27/8/2023), melalui kanal Youtube Padre Marco.
Deni menuturkan, berkat pertolongan melalui perantaraan Pastor Katolik, bernama Pater Markus Solo atau Padre Marco inilah dia berkesempatan belajar di kampus Kepausan dan juga pada Dikasterium Kepausan milik negara Vatikan.
Di Kota Roma Ada Masjid Agung
Deni berkisah, pada awal belajar di Roma, Italia, dia sempat bingung dan tidak tahu di mana harus mencari masjid atau mushala untuk menjalankan ibadah selama kuliah.
Namun kebingungan Deni segera terjawab, karena di Roma, ternyata ada Masjid Agung terbesar di daratan Eropa.
Ada juga puluhan musala, yang digunakan sebagai tempat ibadah, termasuk salat Jumat, dan juga salat Tarawih.
Salah satu musala terletak di wilayah Vittorio Emanuele; bernama Musala Baitu Assalam (Rumah Keselamatan).
Menariknya, musala ini persis berdampingan dengan sebuah Gereja Katolik.
“Saya bersyukur, di sini, Alhamdulillah puasa saya selama Bulan Suci Ramadan lancar, alias tidak batal. Sahabat-sahabat Katolik yang serumah dengan saya, memberikan kepada saya, apa yang saya butuhkan untuk berpuasa,” kata Deni, seperti dirilis kemenag.go.id.
Bertemu Paus Fransiskus
Deni juga mengaku tak menyangka, ketika belajar di Roma dan Vatikan, dia berkesempatan bertemu dan bahkan berbincang empat mata dengan Paus Fransiskus.
Deni mengaku dialognya dengan Paus Fransiskus, yang merupakan Kepala Negara Vatikan, di Lapangan depan Basilika Santo Petrus, Rabu (28/6/2023) itu membuat anak penjual kopi di Pasar Kambing, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini bahagia.
Saat berjumpa dengannya, Paus Fransiskus berkata kepada Deni: “Bene, il futuro dell’Indonesia!” “Bagus, masa depan Indonesia!”.
Deni mengatakan, dirinya tidak menyangka bisa bertegur sapa dengan pimpinan Gereja Katolik Dunia, sekaligus Kepala Negara Vatikan itu.
Ia menjelaskan bahwa pertemuan dirinya dengan Paus Fransiskus dalam rangka silaturahmi, sekaligus menyampaikan laporan atas selesainya studi di Nostra Aetate Foundation, yang adalah bagian kerja dari Dicastery for Interreligous Dialogue, Vatikan untuk memajukan dialog dan perdamaian melalui jalur pendidikan.
“Jadi dalam pertemuan itu, saya silaturahmi dengan Yang Mulia Paus Fransiskus, kemudian juga laporan bahwa saya sudah beres menyelesaikan studi,” terang Deni.
Pemuda dengan panggilan akrab Bung Goler itu, menjelaskan bahwa dirinya juga merayu Paus Fransiskus, untuk berkenan datang ke Indonesia dan meminta mendoakan Indonesia agar menjadi negara yang kuat, maju, dan damai.
“Dalam pertemuan itu saya juga bilang bahwa jika ada waktu, Santo Padre Fransiskus harus datang ke Indonesia, kemudian juga saya bilang terima kasih telah memberikan saya beasiswa lewat Nostra Aetate Foundation, serta saya juga bilang, doakan saya dan Indonesia. Kemudian Paus Fransiskus bilang, ‘Iya’,” jelasnya.
Bagi Deni, Paus Fransiskus sebagai Kepala Negara Vatikan dan pemimpin Gereja Katolik Dunia, adalah sosok yang humble dan punya komitmen yang tinggi dalam membangun perdamaian dunia.
Deni Bertekad Bangun Dialog
Dalam wawancara bersama Padre Marco, SVD, Deni menyampaikan tekadnya untuk membangun dialog setelah kembali ke Indonesia.
Deni bertekad membangun dialog dengan cara membangun kerja sama dengan para ulama, umat Islam, dan gereja Katolik untuk bagaimana dialog antarumat beragama terus dilanjutkan sebagaimana pernah dilakukan oleh Mgr Paskalis Bruno Syukur Uskup Keuskupan Bogor dengan Abuya KH Ahmad Muhtadi di Banten. Deni meyakini dialog adalah jalan mutlak menuju perdamaian. Tidak ada jalan lain, tegasnya.
Tekad ini dibangun karena dirinya merasa yakin telah mempelajari dokumen maupun ensiklik Gereja Katolik yang berbicara tentang konsep dialog lintas agama. Ada dua dokumen gereja yang bagi Deni menarik.
Pertama, dokumen Human Fraternity yang adalah dokumen apostolik Paus Fransiskus dalam kerja sama dengan Dr Ahmad Al-Tayyeb, Imam besar Al-Azhar, yang ditandatangani 4 Februari 2019 lalu di Abu Dhabi.
Kedua, dokumen Laudato Si (memelihara bumi sebagai rumah bersama). Bagi Deni ini dokumen istimewa yang patut ditiru oleh semua agama. (HS-08)