HALO SEMARANG – Kota Semarang menyambut ribuan tamu yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-31 di Semarang pada 11-20 September 2026, dengan gelaran Festival Kota Lama (FKL) Semarang 2026.
Bahkan penyelenggaraan FKL yang mulanya akan digelar selama 11 hari ini, diperpanjang menjadi 17 hari, yakni 4-20 September 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno menyatakan mendukung langkah tersebut.
Menurutnya, kedatangan peserta MTQ menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan Kota Lama, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Harapannya ini akan membawa dampak lebih besar lagi,” kata Sumarno, saat mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, pada Opening Ceremony FKL XV 2026 di depan Gedung Yayasan Kanisius, di Jl Letjen Suprapto, Kawasan Kota Lama Semarang, Jumat (4/9/2026).
Sumarno menyebut, sekitar 7.000 orang dari berbagai provinsi, diperkirakan hadir dalam gelaran MTQ Nasional.
Momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memberikan pengalaman wisata kepada para tamu yang datang ke Jawa Tengah.
Terlebih, Kota Lama merupakan salah satu ikon wisata Kota Semarang yang memiliki nilai sejarah, sekaligus berkembang sebagai ruang aktivitas seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
“Kami dari Pemprov Jateng sangat mengapresiasi Festival Kota Lama. Kota Lama ini peninggalan sejarah yang harus kita jaga,” katanya.
Sumarno menambahkan, pengembangan kawasan wisata dan ekonomi kreatif juga sejalan dengan program Pemprov Jateng dalam mendorong sektor pariwisata.
“Kami berharap event ini ke depan makin maju lagi dan punya dampak yang besar,” ujarnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan perpanjangan FKL dilakukan agar peserta MTQ Nasional memiliki kesempatan menikmati berbagai kegiatan di Kota Lama Sermarang.
“Saya lihat jadwal MTQ ini rapat banget. Wah, kapan ini bisa jalan-jalan lihat Festival Kota Lama? Kemudian dibuatkan proses perpanjangan dengan berbagai macam unsur tambahan yang akhirnya bisa ditutup hampir bersamaan dengan ketika MTQ Nasional ke-31 ditutup,” kata Agustina.
Ia menjelaskan, Kota Lama sejak dahulu menjadi ruang perjumpaan berbagai kalangan. Kini, kawasan tersebut terus dihidupkan melalui berbagai kegiatan seni dan budaya.
Menurut dia, konsep “Unity in Diversity” yang diusung FKL XV 2026 sangat sesuai dengan karakter Kota Lama sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“Kota Lama ini bukan hanya ikon Hindia Belanda. Tetapi juga sudah merangkum seluruh kegiatan seni dan budaya dari berbagai macam keanekaragaman yang ada di Kota Semarang,” katanya.
Beragam kegiatan disiapkan sepanjang pelaksanaan FKL XV. Di antaranya Pasar Malam Sentiling pada 4-13 September, Orkes On The Street and Dance, Rijsttafel Dinner, Gowes Semarang Heritage, Chess Kota Lama, Living Book, Living Story, Zwemers Belanda, Wayang Orang On The Street, Festival Folklore Kota Lama, hingga pertunjukan 1.000 Angklung Berkebaya.
Ada pula kegiatan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda, seperti seni merangkai janur. Peserta akan diajari membuat berbagai bentuk kerajinan tradisional sekaligus memahami makna di baliknya.
“Anak-anak kita boleh datang mendaftar dan akan diajari bagaimana membuat ketupat, manuk-manukan, hiasan-hiasan temanten dan maknanya apa. Sudah jarang sekali kita melihat pemandangan itu, tapi di sini ada,” ujar Agustina.
Rangkaian FKL XV dijadwalkan berlangsung hingga 20 September 2026. Sejumlah agenda utama digelar pada akhir pekan, termasuk Festival Folklore Kota Lama pada 18-19 September dan 1.000 Angklung Berkebaya pada 19 September.
Dengan perpanjangan tersebut, FKL XV diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi wisatawan, peserta MTQ, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk berinteraksi sekaligus menikmati Kota Lama.
“Mari kita jadikan Festival Kota Lama ini sebagai perayaan keberagaman. Sekaligus membuktikan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan karya, membuka kesempatan dan menghubungkan Semarang dengan dunia,” kata Agustina.(HS-08)

