in

Ribuan Orang Meninggal dan Ratusan Luka-Luka akibat Kekejaman RSF di Sudan

Seorang wanita menyiapkan makanan untuk keluarganya di El Fasher, Darfur Utara, tempat orang-orang terjebak akibat pertempuran. (Foto : © UNICEF / news.un.org)

 

HALO SEMARANG – Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) menyampaikan keprihatinan mendalam atas peningkatan praktik kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), yang dilakukan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), setelah baru-baru ini menguasai El Fasher, ibu kota wilayah Darfur Utara, Sudan.

Kantor hak asasi manusia PBB telah menerima laporan mengerikan tentang eksekusi singkat, pembunuhan massal, pemerkosaan, serangan terhadap pekerja kemanusiaan, penjarahan, penculikan dan pemindahan paksa yang terjadi di wilayah itu.

Berbicara dari Nairobi kepada para jurnalis di Jenewa, Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB (OHCHR), Seif Magango mengatakan banyak kesaksian telah diterima dari penduduk yang melarikan diri ketakutan, saat kota itu jatuh.

Banyak orang kemudian mengungsi dengan cara berjalan kaki ke Tawila, sekitar 70 kilometer jauhnya dari El Fasher.

Dalam perjalanan yang membutuhkan waktu 3 hingga 4 hari untuk bertahan hidup ini, mereka tetap dibayang-bayangi ketakutan ditangkap oleh RSF.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sudah lebih dari 36.000 orang mengungsi, sebagian besar dengan berjalan kaki, ke Tawila, sebuah kota di sebelah barat El Fasher yang telah menampung lebih dari 652.000 orang.

Adapun dampak dari pengungsian bersar-besaran ini, kamp-kamp di Tawila pun penuh sesak.

Untuk diketahui, Milisi RSF tumbuh dari genosida konflik Darfur 20 tahun lalu. Milisi ini telah terlibat dalam konflik yang sangat brutal, dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) sejak April 2023.

Sudan telah menjadi lokasi krisis kemanusiaan dan pengungsian terbesar yang pernah tercatat di dunia, dengan sekitar 14 juta orang mengungsi dari populasi 51 juta jiwa.

Kelaparan meluas, dan wabah kolera serta penyakit mematikan lainnya meningkat.

RSF merebut kendali El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, setelah lebih dari 500 hari pengepungan, setelah memaksa tentara Sudan mundur awal minggu ini.

Laporan yang menyedihkan menunjukkan terbunuhnya orang sakit dan terluka di dalam Rumah Sakit Bersalin Saudi dan di gedung-gedung di lingkungan Dara Jawila dan Al-Matar, yang digunakan sebagai pusat medis sementara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 460 pasien dan pendamping tewas selama dugaan pembantaian tersebut .

“Tuduhan yang sangat serius ini menimbulkan pertanyaan mendesak mengenai keadaan pembunuhan ini di tempat yang seharusnya aman,” kata Magango.

Ia menyerukan penyelidikan yang independen, transparan, dan cepat untuk memastikan keadilan.

OHCHR juga menerima laporan mitra kemanusiaan di lapangan, mengenai kekerasan seksual.

Setidaknya 25 perempuan diperkosa beramai-ramai ketika pasukan RSF memasuki tempat penampungan bagi para pengungsi di dekat Universitas El Fasher.

“Para saksi mata mengonfirmasi bahwa personel RSF memilih perempuan dan anak perempuan dan memperkosa mereka dengan todongan senjata,” kata Magango.

Pola kekerasan juga menargetkan pekerja kemanusiaan dan relawan lokal yang mendukung masyarakat rentan di El Fasher.

WHO juga telah mengonfirmasi laporan serangan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan, serta mengutuk penculikan enam tenaga kesehatan, yang terdiri atas empat dokter, seorang perawat, dan seorang apoteker. Rumah Sakit Bersalin Saudi telah diserang lima kali pada bulan Oktober saja.

Setelah jatuhnya El Fasher, badan kesehatan PBB saat ini “tidak dapat membantu mereka yang terkena dampak, cedera yang terjadi akibat berbagai serangan terhadap warga sipil,” jelas Dr. Teresa Zakaria, kepala Unit Operasi Kemanusiaan WHO.

WHO mengonfirmasi bahwa 189 serangan telah diverifikasi di Sudan tahun ini, yang mengakibatkan 1.670 kematian dan 419 cedera.

“Delapan puluh enam persen dari semua kematian terkait serangan ini terjadi tahun ini saja, dan ini menunjukkan bahwa serangan semakin mematikan,” kata Dr. Zakaria.

“Rencana Respons Kemanusiaan Sudan hingga saat ini baru terdanai 27,4 persen – kesenjangan yang sangat, sangat besar,” tambah Dr. Zakaria.

“Untuk sektor kesehatan sendiri, pendanaannya baru mencapai 37 persen, jadi kami sangat kesulitan dengan sumber daya. Itulah sebabnya kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak mengabaikan rakyat Sudan, karena aktor utamanya adalah organisasi-organisasi Sudan kami, yang terus hadir dan memberikan bantuan,” kata dia.

Dengan direbutnya El Fasher, kendali wilayah RSF kini meluas ke Darfur dan sebagian wilayah selatan Sudan, sementara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) menguasai ibu kota, Khartoum, dan sebagian besar wilayah utara dan tengah negara itu. (HS-08)

Putusan MK Soal Keterwakilan Perempuan di Alat Kelengkapan Dewab Sejalan dengan Isu Kesetaraan Gender

Menteri Pariwisata Apresiasi Keragaman Ide dan Inovasi Bisnis Finalis Demoday FSI 2025